BERBAGI
Edisi Khusus Peringatan Hari HAM

Serat.id- Dewan Kesenian Semarang (Dekase) mengawali rangkaian acara peringatan hari Hak Asasi Manusia oleh Jaringan Masyarakat Sipil Peduli HAM Jawa Tengah dengan menggelar pameran seni rupa bertajuk “Traumatofobia”. Penggunaan istilah traumatofobia dipilih untuk menunjukkan keadaan jiwa seseorang yang takut terluka. Hal ini merujuk ekspresi ketakutan atas peristiwa-peristiwa pelanggaran HAM yang terjadi di Indonesia khususnya.

“Jika fobia diartikan ketakutan berlebihan terhadap suatu hal atau fenomena, maka traumatofobia berbobot lebih dalam lagi atas sebuah ketakutan”, jelas Adhitia Armitrianto, Ketua III Bidang Litbang, Dekase.

Namun dari filosofi fobia ini sebaliknya dimaksudkan bermakna positif sebagai pemicu perubahan dari perasaan takut ke optimisme untuk keluar dari keadaan yang terluka. Tentunya mengacu pada semangat menuntaskan semua kasus pelanggaran HAM dan agar tidak terjadi lagi, tak menjadi luka lagi.

Traumatofobia menghadirkan beberapa karya seniman Semarang, yaitu Muji Konde, Gunawan Effendy, Heru Prasetyo, Hery Purnomo, Tan Markaban, dan kelompok seniman Mangga Pisang Jambu Project (MPJP).

Sejak pameran tunggal di 2016, karya-karya Muji Konde sering dipamerkan di berbagai acara yang dihelat Dekase, dengan tema yang sama, tentang peristiwa Penembak Misterius (Petrus). Marak di tahun ’80 an, Petrus mengisi etalase kasus-kasus pelanggaran HAM di Indonesia yang tak selesai. Muji Konde sendiri dalam setiap karya ekspresifnya tidak pernah lepas dari belenggu fobia akan Petrus.

Karya Muji Konde

Sementara karya Gunawan Effendy dan Heru Prasetyo yang dipamerkan banyak merespon persoalan-persoalan sosial dan perlakuan hukum yang cenderung diskriminatif. Ada juga karya Heru yang bercerita tentang maraknya kebakaran hutan. Heru juga mengekspresikan kegelisahannya atas relasi peristiwa kejahatan kemanusiaan dalam skenario kekuasaan. Seperti hilangnya Wiji Thukul, serta dugaan pembunuhan terhadap Munir dan Marsinah.

Karya Gunawan Effendy
Karya Heru Prasetyo

Benang merah pemberangusan aktivis dirajut pula oleh karya Hery Purnomo. Preseden buruk terhadap demokratisasi dan penegakan HAM diekspresikan dalam wujud patung manusia yang berlevitasi dengan kepala terbungkus, disertai ornamen berbentuk alat pengeras suara yang lazim digunakan demonstran. Karya ini merupakan bentuk tiga dimensi dari karya Hery sebelumnya yang berupa sketsa. Inspirasinya didapat dari cerpen “Magi” karya Adhitia Armitrianto.

Karya Hery Purnomo

Tan Markaban, perupa kawakan dengan segudang pengalamannya turut memajang satu karyanya. Uniknya, lukisan Tan Markaban diberi judul “Untitled”, jika dalam Bahasa Inggris berati “tanpa judul”.

Karya Tan Markaban

Karya visual audio menjadi pelengkapnya. Kelompok seniman yang sering berkiprah di bidang teater, Mangga Pisang Jambu Project (MPJP) menggandeng videografer Tomy Y. Setyawan, mengembarakan imajinasi tentang masa lalu lewat videoart. Dengan bekal penguraian sejarah lewat beberapa kesaksian narasumber, videoart dengan judul “Sebelum SATAY (satai) Matang” menghadirkan respon tersendiri atas peristiwa kemanusiaan 1965.

Cuplikan Videoart “Sebelum SATAY Matang”

Selain karya-karya tersebut, Dekase juga memamerkan instalasi seni rupa di dalam tenda besar, mirip yang lazim digunakan tentara. Uniknya meski dengan tenda besar, tidak banyak instalasi yang dipajang, seakan menggambarkan ruang yang hampa. Selain itu, tak ada penerangan dalam tenda. Pengunjung dapat menikmati instalasi dengan menggunakan senter.

Tenda Instalasi “Traumatofobia”

Pameran seni rupa ini digelar di Taman Budaya Raden Saleh (TBRS) Semarang, dari awal bulan hingga puncak peringatan hari HAM pada 10 Desember 2019, oleh Jaringan Masyarakat Sipil Peduli HAM Jawa Tengah. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here