BERBAGI

Tak terjangkau layanan PLN membuat warga Dusun Totogan mencari jalan lain. Mereka membangkitkan tenaga listrik dari aliran sungai dusun.

ilustrasi energi terbarukan
[Ilustrasi] Energi terbarukan. (Abdul A/ serat.id)

Serat.id – Masih terbayang jelas di ingatan Dasari, 57 tahun, warga Dusun Totogan, Desa Tlogopakis, Kecamatan Petungkriyono, Kabupaten Pekalongan. Dua puluh tahun silam desanya gelap gulita saat mentari turun ke paraduan karena setiap rumah hanya disinari lampu minyak tempel. Maklum, dusun di lereng dataran tinggi Dieng itu merupakan daerah terpencil sulit dijangkau layanan listrik oleh PT PLN.

“Waktu itu listrik memang belum masuk. Kami hanya bisa efektif beraktifitas siang saja, kalau malam kami sering di rumah saja,” kata Dasari yang juga menjabat sebagai Kepala Dusun tersebut, kepada serat.id.

Baca juga: Daerah Ini Manfaatkan Potensi Energi Terbarukan dari Pembangkit Air

Kegelapan itu menjadi alasan ia bersama warga lain mencari cara agar listrik bisa menerangi desanya. Satu-satunya cara yang ditemukan mereka membuat kincir air sebagai pembangkit listrik dari aliran sungai dusun.

“Waktu itu kebetulan kami kedatangan tim KKN dari mahasiswa ilmu teknik salah satu perguruan tinggi di Jawa Tengah. Akhirnya kami bersama mereka membangun kincir air tersebut,” kenang Dasari.

Sedangkan untuk pembiayaan pembangunan mereka rela menjual sapi, meski pembangunan kincir air dikatakan berhasil, namun kestabilan daya wattnya belum dikatakan sempurna. Sebab ketika musim kemarau tiba debit air sungai berkurang sehingga putaran kincirnya tidak stabil.

Namun hambatan itu mulai dapat diatasi pada tahun 2009, atas bantuan pemerintah provinsi Jawa Tengah membangun Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) berkapasitas 12 Kilowatt. Mereka pun beralih dari kincir air ke PLTMH memanfaatkan Sungai Sengkarang, dan menerangi 70 rumah. Biayanyanya pun tergolong murah, setiap bulan warga hanya membayar Rp20 ribu.

Baca juga: Menjaga Hutan Memanfaatkan Energi Terbarukan

Sukses penggunaan PLTMH itu diikuti warga Desa Kayupuring, tak jauh dari dukuh Totogan. Warga Kayupuring menggunakan dua instalasi listrik, yakni dari PLTMH dan PLN. Mereka secara bergantian menggunakan antara PLTMH dan PLN.

“Tapi kami lebih sering menggunakan PLTMH, ya karena kita sudah nyaman menggunakannya dan terlebih murah juga,” kata Taslimah, 46 tahun warga dusun Sokokembang, Desa Kayupuring.

Kepala Desa Kayupuring, Cahyono mengakui PLTMH di desanya memanfaatkan aliran sungai Welo. Namun ketika musim kemarau debit air sungai Welo kadang menurun, maka warga mencari cadangan listrik dengan memasang instalasi PLN. “Kadang kan debit air di sungai Welo menurun saat musim kemarau. Jadi stabilitas listriknya ikut menurun,” ujar Cahyono.

Menurut cahyono, di desa tersebut ada dua PLTMH dari bantuan Pemprov Jateng yang terpasang di Dusun Sokokembang dan Dusun Tinalum, masing-masing berkapasitas 20 kWh. Namun PLTMH di dusun Tinalum kondisinya memperhatikan, sebab sudah hampir 1 tahun jarang digunakan.

Selain itu, pemanfaatan energi terbarukan di desa tersebut sudah lama menghilang sejak PLN masuk mengaliri layanan daya listrik. (*)

Penulis: Danang Diska Atmaja

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here