BERBAGI
Ilustrasi pixabay.com

AJI Jakarta menilai terjadi  tindakan penghalang-halangan peliputan oleh tim pengamanan Ahmad Dhani hingga menimbulkan kekerasan fisik.

Serat.id – Jurnalis Suara.com, Herwanto mengalami kekerasan fisik saat meliput musisi Ahmad Dhani  saat bebas dari Rutan Cipinang, Jakarta Timur, Senin 30 desember 2019 lalu. Kekerasan yang dialami Hewanto mengakibatkan jari palsunya putus.

Baca juga : AJI Ternate Kecam Kekerasan Jurnalis Malut Post

Jurnalis Asal Papua Ini Mengalami Kekerasan Doxing

AJI Jakarta Kecam Kekerasan dan Intimidasi Jurnalis saat Munajat 212

“Mulanya para jurnalis berkumpul menunggu Ahmad Dhani bebas sekitar 9.20 WIB. Terjadi adu mulut antara jurnalis dengan tim pengamanan pribadi Ahmad Dhani saat itu,” kata Ketua Divisi Advokasi AJI Jakarta, Erick Tanjung, kepada serat.id, Rabu, 1 Januari  2019.

Saat itu massa yang berkumpul menutupi para jurnalis yang hendak mengabadikan momen bebasnya Ahmad Dhani. Namun ketika Ahmad Dhani keluar pada 9.30, kondisi mulai tak terkendali. Terjadi dorong-dorongan antara jurnalis dan tim pengamanan Ahmad Dhani.

“Herwanto berusaha maju ke bagian depan untuk menggambil gambar, sementara seorang petugas keamanan berkacamata hitam menarik bajunya,” kata Erick menambahkan.

Herwanto yang saat itu tetap berusaha maju untuk mengambil video kebebasan Ahmad Dhani, tapi orang yang sama menarik paksa tangan palsu sebelah kanan Herwanto dengan maksud membuka jalan untuk Ahmad Dhani yang dikerubuti para jurnalis dan massa. Usai kejadian itu  Herwanto baru tersadar bahwa jari manis dari tangan palsunya putus.

Dengan kejadina itu AJI Jakarta menilai terjadi  tindakan penghalang-halangan peliputan oleh tim pengamanan Ahmad Dhani hingga menimbulkan kekerasan fisik. Atas dasar itu, AJI mengecam segala tindakan penghalang-halangan kerja jurnalis secaram umum, dan jurnalis penyandang disabilitas secara khusus.

Menurut Erick, jurnalis bekerja dilindungi Undang-undang No 40 Tahun 1999 Tentang Pers. Seperti yang diatur dalam Pasal 4, bahwa negara menjamin kebebasan pers. Sedangkan pelaku kekerasan dan penghalang-halangan kerja jurnis dapat dijerat dengan pasal 18 ayat 1 yang isinya setiap orang yang secara melawan hukum dengan sengaja melakukan tindakan yang berakibat menghambat atau menghalangi  kerja jurnalistik dapat dikenakan pidana penjara paling lama 2 (dua) tahun atau denda Rp 500 juta.

“Selain itu, pelaku juga terancam kena Pasal 335 ayat 1 Kitab Undang-undang Hukum Pidana tentang kekerasan terhadap orang lain,” kata Erick menjelaskan.

Ketua Ketua AJI Jakarta, Asnil Bambani  meminta pelaku bertanggung jawab atas kekerasan fisik dan psikis yang dialami jurnalis Suara.com, Herwanto. “AJI Jakarta mendesak polisi berperan aktif mengusut kasus tersebut,” kata Asnil.

Ia juga meminta semua pihak, khususnya pemerintah untuk menjamin hak-hak jurnalis dan juga penyandang disabilitas. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here