BERBAGI
Warga membantu pemasangan Toilet Adaptif yang baru dibangun yang ditempatkan di RT 4 RW 5 Kelurahan Bandengan Kecamatan Pekalongan Utara Kota Pekalongan Jawa Tengah belum lama ini. Foto Ody/serat.id

Sebagian besar wilayah kampung itu merupakan langganan rob yang sering hadir beberapa tahun terakhir

Serat.id – Wajah bahagia diperlihatkan warga di RW 5 Kelurahan Bandengan Kecamatan Pekalongan Utara Kota Pekalongan Jawa Tengah, usai mendapatkan bantuan pembuatan Toilet Adaptif. Sebagian besar wilayah kampung itu merupakan langganan rob yang sering hadir beberapa tahun terakhir. Selain itu kawasan yang merupakan berada di Pesisir Pantai Utara Pekalongan ini juga mengalami penurunan tanah hingga mencapai 10 hingga 20 centimere per tahun.

Pantauan serat.id di lokasi menunjukkan saluran sanitasi milik warga banyak yang tenggelam dan rusak. Terutama untuk toilet bawah tanah dan septic tank tidak lagi bisa difungsikan. Sehingga banyak warga membuang kotoran dengan sembarangan yang langsung berada di air rob yang tidak jauh dari rumah. Kondisi sanitasi yang buruk itu menjadikan kualitas kesehatan warga buruk, tak jarang mereka sering kena penyakit diare dan gatal-gatal.

“Meskipun pemerintah kota sudah memberikan bantuan obat selama beberapa tahun, namun penyakit masih menimpa warga,” kata Krisnawati warga RT 4 RW 5 Kelurahan Bandengan Kota Pekalongan, saat ditemui serat.id belum lama ini.

Ia mengaku senang dan berterimakasih atas bantuan pembuatan Toilet Adaptif. Menurut Krisnawati, melalui Progam Peningkatan Tanggap Darurat dan Pemulihan Bencana Lingkungan (Tangguh) yang digagas Yayasan Bintara sangat membantu warga. Karena selama ini banyak warga membuang kotoran sembarangan lantaran kebanjiran.

“Meskipun ada WC umum lokasinya sangat jauh,” kata Krisnawati menambahkan.

Ketua RT 4 RW 5 Kelurahan Bandengan, Qosim juga menyatakan terimakasih atas bantuan itu. Ia berharap toilet baru dengan sistem adaptif itu bisa menghentikan penyebaran penyakit terutama dari limbah tinja. “Sehingga menurunkan resiko kesehatan dan lingkungan masyarakat yang terdampak banjir rob,” kata Qosim.

Tercatat ada sekitar 51 kkeluarga di RT setempat yang menerima manfaat pembangunan toilet adaptif itu.

Tenaga ahli UNDIP Semarang, Arya Rezagama, menyebut  toilet adaptif ini berbeda dengan toilet pada umumnya karena dirancang memiliki masa pakai yang agak lama, yakni  lima  tahun. Toilet itu menggunakan biofilter, sehingga memiliki septic tank yang kedap air dan tak terpengaruh dengan kemunculan rob.

Teknologi biofilter adalah metode pengolahan air kotor atau limbah dengan memanfaatkan mikro organisme sehingga menjadi air bersih yang dapat dimanfaatkan kembali. Cara itu biasanya dilakukan dengn media khusus, sebagai habitat mikro organisme.

“Air yang sudah bersih akan dimanfaatkan untuk hidroponik atau penanaman sayuran atau tanaman, yang kemudian bisa dimanfaatkan lagi oleh masyarakat,” kata Arya.

Bangunan toilet juga dirancang bisa dinaikkan jika di kemudian hari, air permukaan rob mengalami kenaikan.

“Di area rob seperti ini, septic tank harus dalam keadaan kedap air. Kalau air laut masuk ke sistem, mikro organisme akan mati,” kata Arya menjelaskan. (*)  ODY

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here