BERBAGI
Ilustrasi, pixabay.com

Seorang lainnya memegang leher Aidil, sedangkan AR terus mengeluarkan kata-kata ancaman,”

Serat.id – Jurnalis tabloid mingguan Modus Aceh dan modusaceh.co wilayah liputan Aceh Barat dan Nagan Raya, Aidil Firmansyah, ditodong senjata api oleh seorang pengelola perusahaan kontruksi. Aidil yang berusia 25 tahun itu mengalami intimidasi pada Sabtu 4 Januari 2020 malam, karena pemberitaan yang ia tulis beberapa jam sebelumnya.

“Mulanya, malam itu Aidil tengah nongkrong sambil ngopi di salah satu Warkop di kawasan Kota Meulaboh, Kabupaten Aceh Barat. Tiba-tiba mendapat pesan watshaap dari inisial AR, Direktur PT TAU,” kata Ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI)  Banda Aceh, Misdarul Ihsan, dalam  pernyataan resmi yang diterima serat.id, Senin, 6 Januari 2020.

Baca juga : Vonis Pelaku Intimidasi Jurnalis, AJI Kota Semarang mengapresiasi Kejari Rembang

AJI Jakarta Kecam Kekerasan dan Intimidasi Jurnalis saat Munajat 212 

AJI dan IJTI Kecam Intimidasi Terhadap Jurnalis Kendari

Isi pesan whatshap itu  memprotes berita ditulis Aidil yang tayang di media online modusaceh.co terkesan berat sebelah dan merugikan perusahannya. Tercatat  modusaceh.co menayangkan berita Aidil berjudul “Tak Bayar Kompensasi, Angkutan Tiang Pancang PLTU 3 dan 4 Dihadang Warga”.

AR sempat mengajak Aidil bertemu di kantornya sekitar pukul 23.50 WIB. Namun Aidil enggan menuruti ajakan AR dan Aidil meminta agar mereka bertemu di salah satu warkop di Meulaboh, Aceh Barat saja. 

“Namun tak lama kemudian, datang dua orang suruhan AR menjumpai Aidil di warkop tempatnya minum kopi malam itu,” kata Misdarul menambahkan.

Kedua orang tersebut kemudian meminta mendengar rekaman wawancara Aidil dengan seorang warga yang menjadi narasumber dalam pemberitaan di medianya bekerja. Selain itu, kedua suruhan AR ini mengajak Aidil agar pergi ke kantor PT TAU untuk bertemu langsung dengan AR.

Awalnya Aidil juga enggar pergi, namun, setelah ada jaminan dari dua orang tersebut dia tidak akan disakiti dan dimarahi, Aidil pun menuruti ajakan mereka, apalagi salah seorang di antaranya dikenalnya.  Aidil ditemani oleh Deni Sartika, seorang wartawan lain di Aceh Barat.

“Namun saat tiba di ruang kantor, AR mengeluarkan senjata jenis pistol dari laci mejanya dan menyerahkan kepada seorang anggotanya di ruang itu. Seorang lainnya memegang leher Aidil, sedangkan AR terus mengeluarkan kata-kata ancaman,” kata Misdarul menjelaskan.

Ketika itu ada yang melerai agar masalah itu diselesaikan baik-baik, yang kemudian AR menyodorkan surat yang telah dibuatnya untuk ditandatangani di atas materai oleh Aidil yang isinya melakukan duel dengan Aidil satu lawan satu.  Aidil  menolak, tetapi  AR dan rekan terus mengeluarkan berbagai kata kata kepada Aidil dan menuduh berita tersebut salah.

Dengan nada tinggi, AR juga bercerita bahwa selain pengangkutan tiang pancang PLTU, ada pekerjaan lain yang sedang menanti mereka. AR juga mengancam jika pekerjaan tersebut gagal karena berita yang ditulis Aidil, maka dia akan mendapat konsekuensi, yaitu dibunuh oleh AR.

“Aidil kemudian dipaksa membuat pernyataan dengan cara ditulis tangan. Isinya, Aidil akan mengklarifikasi berita di Modus Aceh dan dia harus mengakui bahwa itu fitnah,” kata Misdarul.

Kejadian yang menimpa Aidil itu membuat AJI dan Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) Aceh dan AJI Banda Aceh mengecam tindakan pengancaman terhadap Aidil.

“Karena dalam bekerja jurnalis dilindungi Undang-undang No 40 Tahun 1999 Tentang Pers. Seperti yang diatur dalam Pasal 4, bahwa negara menjamin kebebasan pers,” kata Ketua IJTI Aceh, Munir Noer.

Menurur Munir, pelaku kekerasan dan penghalang-halangan kerja jurnalis seperti AR dapat dijerat dengan pasal 18 ayat 1 karena terbukti melawan hukum dengan sengaja melakukan tindakan yang berakibat menghambat atau menghalangi  kerja jurnalistik.

“Ia (AR) dapat dikenakan pidana penjara paling lama dua tahun atau denda Rp 500 juta,” kata Muir menjelaskan.

Munir menyebutkan pelaku juga dapat dijerat dengan Pasal 368  KUHP tentang pengancaman dan pasal lainnya yang menyangkut dengan kepemilikan senjata api.

Baik AJI dan IJTI minta agar pelaku mempertanggungjawabkan  ancamanya sesuai aturan hukum yang berlaku, karena telah menyebabkan ketakutan, kekhawatiran dan mengganggu mental/psikis korban dalam menjalankan profesinya sebagai jurnalis

Organisasi profesi jurnalis itu juga mendesak kepolisian berperan aktif mengusut kasus tersebut hingga tuntas dengan menyeret pelakunya ke muka hukum atau pengadilan.

“Polisi juga diminta menjamin keselamatan bagi korban atas ancaman dari pelaku yang  tinggal satu daerah,” katanya. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here