BERBAGI
Peserta YCC berfoto bersama di Dusun Candi Promasan, Desa Ngesrepbalong, Kecamatan Limbangan, Kendal. (Foto: dokumentasi Walhi Jateng)

Berbanding terbalik dengan pemahaman masyarakat dunia yang santer mengkampanyekan gaya hidup ramah lingkungan.

Serat.id – Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) menyebut masyarakat Indonesia berada di peringkat pertama yang tak percaya perubahan iklim. Kondisi itu berbanding terbalik dengan pemahaman masyarakat dunia yang santer mengkampanyekan gaya hidup ramah lingkungan. Sedangkan Arab Saudi menempati peringkat kedua yang tak mempercayai perubahan iklim

“Indonesia nomor satu, negara yang tak percaya terhadap perubahan iklim,” kata Eksekutif Nasional Walhi, Khalisah Khalid di Semarang, pekan lalu.

Baca juga : Walhi Desak Pemprov Jateng mengawasi Aktivitas Tambang

40 Mahasiswa Terlibat Pendidikan Lingkungan Walhi Jateng

Alasan WALHI Gelar Sekolah Ekologi di Malang

Baca Juga  Walhi Desak Pemprov Jateng mengawasi Aktivitas Tambang

Manurut Khalisah, ketidakpercayaan masyarakat Indonesia terhadap perubahan iklim salah satunya karena minimnya literasi. “Karena literasinya rendah. Bukan hanya di tingkat masyarakat, pejabat publiknya juga,”  kata Khalisah menambahkan.

Riset Walhi juga menunjukka dari seluruh partai politik yang mengikuti pemilihan umum 2019 lalu, hanya beberapa yang memasukkan isu lingkungan di dokumen internal. Antara lain Partai Nasional Demokrat, Partai Keadilan Sejahtera, Partai Gerakan Indonesia Raya, Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, dan Partai Solidaritas Indonesia.

Namun ia menjelaskan, isu lingkungan yang dibawa partai sebatas tertulis di dokumen saja. “Dalam praktik politiknya tidak di lakukan. Dokumen organisasi mereka tak digunakan rujukan sebagai anggota parlemen atau pemerintah,” ujar Khalidah menjelaskan.

Baca Juga  Alasan WALHI Gelar Sekolah Ekologi di Malang

Pemerhati Lingkungan dari Universitas Katolik Soegijapranata Semarang, Benny Danang Setianto,  menyebut masyarakat Indonesia acuh terhadap perubahan iklim lantaran tak terdampak secara langsung. “Sehingga proses penyadarannya lebih panjang,” kata Benny.

Dia mencontohkan, masyarakat akan ramai-ramai membersihkan selokan ketika musim penghujan dan terjadi banjir. Sementara ketika kemarau sampah dibiarkan menumpuk di selokan. “Isu lingkungan bisa sangat populis tapi dampaknya tidak direct,” kata Benny menambahkan.

Benny menyebutkan dampak kerusakan lingkungan paling banyak menimpa masyarakat yang masuk kategori kelompok rentan dan marjinal. Di antaranya kelompok rentan ekonomi menjadi korban pertama kerusakan lingkungan seperti banjir.

Menurut dia, kampanye perubahan iklim dapat dilakukan dengan pendekatan ekologi kebahagiaan. Ekologi kebahagiaan yang Benny maksud adalah melalui gaya hidup ramah lingkungan yang menyenangkan. Dia mencontohkan seperti penggunaan botol minuman dan sedotak yang tak sekali pakai.

Baca Juga  Walhi Desak Pemprov Jateng mengawasi Aktivitas Tambang

“Sekarang yang lagi berkembang ecology of happiness. Ini melawan ideologi sebelumnya, kita bertindak karena takut. Ketika bisa mengatasi rasa takut manusia santai,” katanya. (*) ODY

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here