BERBAGI
Sejumlah alat pemeriksaan darah yang dipamerkan di Kota Semarang dalam kegiatan pertemuan ilmiah tahunan para dokter, Minggu, (1/2/2020). Ody/serat.id

Ketertinggalan tersebut dapat dilihat dari proses pengambilan hingga distribusi darah untuk pasien.

Serat.id –  Indonesia masih tertinggal 40 tahun sampai 50 tahun dengan negara lain dalam penyediaan darah yang aman dan bermutu bagi pasien.  Ketertinggalan tersebut dapat dilihat dari proses pengambilan hingga distribusi darah untuk pasien.

“Kalau kita melihat di kabupaten apalagi daerah terpencil di Indonesia, di sana sangat minimalis dan simpel. Ambil darah dari pendonor hanya diperiksa dengan alat sederhana kemudian diberikan kepada pasien,” kata Ketua Perhimpunan Dokter Transfusi Darah Indonesia (PDTDI) Ni Ken Ritchie, M Biomed, belum lama ini.

Meski diakui di sejumlah kota besar lain pelayanan darah sudah baik dan sudah bersertifikat standar Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB) dan standarnya sesuai dengan Kemenkes nomor 91 tahun 2015.

“Padahal, untuk memperoleh darah yang aman tidak mudah, diperlukan banyak proses dari awal scrining dan darah kemudian mulai dari pengolahannya hingga sampai distribusinya harus sesuai dengan standar pedomannya CPOB,” kata Ni Ken Ritchie, menambahkan.

Menurut Ritchie jika dibandingkan dengan sistem layanan darah di luar negeri sangat berbeda, karena di sana setiap kantung darah disediakan yang dapat melihat berbagai bentuk penyakit hingga dipemeriksaan DNA hingga virus.

Ia berharap para pratisi medis dapat meningkatkan pengetahuan dan menambah wawasan,  khususnya  merek ayang di Unit Transfusi Darah (UTD) baik di PMI maupun UTD rumah sakit. Pernyataan  yang disampaikan Ritchie itu sekaligus menanggapi isu dalam peraturan Kemenkes, dimana rumah sakit pemerintah daerah diperbolehkan memiliki UTD.

Kepala UTD Kota Semarang, Anna Kartika, M.Biomed, menyambut baik peraturan rumah sakit daerah bisa mendirikan UTD. Ia berharap peraturan baru ini tidak menimbulkan persaingan antara UTD PMI dan rumah sakit.

“Namun yang terpenting bagaimana berkomitmen menjaga kualitas darah yang aman dan bermutu dan bekerja sama menjaga stok darah yang mencukupi,” kata Anna.

Ia juga berkomitmen menjaga Sumber Daya Manusia (SDM), selain itu alat-alat juga perlu ditingkatkan. (*)  Ody

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here