BERBAGI
Ilustrasi, pixabay.com

“Kami sudah mencabut aturan yang tertuang dalam Perda Nomor 2 Tahun 2013 tentang pengelolaan air tanah,”

Serat.id – Pemerintah Kota Semarang segera mempercepat program pengalihan penggunaan air bawah tanah ke air permukaan. Kebijakan itu sebagai respon hasil penelitian yang dilakukan beberapa lembaga akademik yang menyebutkan sejumlah kawasan di Kota Semarang terancam tenggelam pada tahun 2045.

“Salah satunya, kami sudah mencabut aturan yang tertuang dalam Perda Nomor 2 Tahun 2013 tentang pengelolaan air tanah,” kata Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi, atau akrap disapa Hendi, Selasa, 4 Februari 2020.

Hendi mengatakan pencabutan Perda tersebut sudah diakukan sejak dua tahun lalu karena Pemkot Semarang sudah tak berwenang memberikan izin pengelolan air tanah, yang saat ini menjadi kewenangan pemerintah provinsi.

Selain itu pemerintah Kota Semarang juga melakukan penanaman mangrove yang difokuskan di kawasan pesisir untuk mengatasi dampak abrasi pantai. “Kita melanjutkan penanaman mangrove di pesisir seperti di daerah Tapak Kecamatan Tugu, Mangunharjo, Mangkang,” kata Hendi menambahkan.

Menurut Hendi, penanaman itu dilakukan untuk menekan terjadi penurunan air tanah agar tidak berdampak kerugian yang besar bagi masyarakat Semarang. Khususnya di daerah rawan seperti Semarang bagian utara dan timur.

Direktur Amarta Institute, Nila Ardhianie, mengapreasiasi langkah yang sudah dilakukan Pemkot Semarang dan Pemprov Jawa Tengah yang sudah berupaya mengurangi ekstraksi air tanah berlebihan. Namun Nila berharap langkah itu sebaiknya ditunjang dengan melakukan percepatan program pengalihan air tanah ke air permukaan.

“PDAM harus dibantu agar dapat lebih optimal memanfaatkan air permukaan,” kata Nila.

Sebelumnya, hasil penelitian yang dilakukan oleh beberapa lembaga praktisi diantaranya Konsorsium GroundUp Universitas Gadjah Mada, UNESCO IHE Delft, University of Amsterdam, Amrta Institute dan Kruha menunjukkan, terdapat beberapa faktor penurunan tanah di Kota Semarang.

Di antaranya, terjadi ekstraksi air tanah yang berlebihan di Kota Semarang. Dimana dalam pengambilan volume air cukup banyak sehingga hal ini dapat menyebabkan berkurangnya volume air pada tanah pada suatu lapisan tanah. Selain itu, terdapat bangunan-bangunan yang besar di Kawasan Pesisir Utara Kota Semarang. (*) ODY

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here