BERBAGI
Dosen di fakultas budaya dan seni, Universitas Negeri Semarang (Unnes), Sucipto Hadi Purnomo, usai konsultasi di kantor LBH Kota Semarang, Rabu, 19 Februari 2020, serat.id/do

Serat.id – Dosen Fakultas Budaya dan Seni, Universitas Negeri Semarang (Unnes), Sucipto Hadi Purnomo, menantang debat Rektornya yang sebelumnya telah mengeluarkan sanksi pembebastugasan dirinya dengan alasan menghina presiden. Sucipto menyebut tatangan debat terbuka membangun sebuah tradisi dunia akademisi.

“Boleh berpendapat secara merdeka tanpa perbedaan, karena kebenaran kita kebenaran akademik,” kata Sucipto di kantor LBH Kota Semarang, Rabu, 19 Februari 2020 .

Sucipto  menyatakan norma akademik merupakan panglima dalam penyelesaian di kampus, termasuk jika ada hal-hal yang layak diperdebatkan sesuai disiplin ilmu. Ia menyatakan debat yang dimaksud adalah membedah postingan di akun facebook dirinya yang dinilai menghina presiden.

“Persoalan ujaran melalui postingan FB adalah penggunaan bahasa, maka sepatutnya kita perdebatkan, kupas kuliti dari sisi kebahasaan sebagai praktik komunikasi,” kata Sucipto menambahkan.

Menurut dia, sudah semestinya ilmu komunikasi berbicara, sedangkan debat sebagai solusi bagian dari untuk mengedukasi termasuk klaim yang mengajarkan prinsip-prinsip tertentu dan kebahasan.

Sucipto menegaskan perdebatan yang ia usulkan bukan sebagai perlawanan terhadap rektor, tapi pertangungjawaban setiap ucapan dan perkataan secara akademik. “Sesuai dengan disiplin ilmu yang kami punya,” kata Sucipto menegaskan.

Ia berharap dalam debat nanti, saatnya Rektor Unnes Profesor Fathur Rokhman  mengklarifikasi banyak masalah yang dihadapi kampusnya. Meski Sucipto mengaku akan membawa argumen bahwa statusnya di facebook bukan bermaksud menghina presiden.

“Termasuk mungkin Rektor membawa bukti tidak plagiat, saya juga bisa jadi membuktikan,” katanya.

Rektor Unnes, Fathur Rokhman menyatakan bersedia jika ada yang memfasilitasi debat terbuka antara dirinya dengan Sucipto. Ia mengaku sudah siap jika ada yang mengajak debat terbuka soal kebijakan membebastugaskan dosennya.

“Saat Sucipto diperiksa tidak menjawab pertanyaan mengapa dirinya mengunggah status yang ada di halaman media sosialnya. Ia menjawab kalau itu hak pribadi. Mungkin akan menjawab di acara debat,”  kata Fathur.

Fathur menyatakan pembebastugasan Sucipto karena Unnes mendapatkan surat dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) yang isinya dosen Unnes diadukan oleh pendukung Presiden Joko Widodo.

“Akhirnya, dari pihak Unnes yang terdiri dari Jurusan, Fakultas dan Tim Binap menindaklanjutinya,” kata Fathur menambahkan.

Menurut dia, sanksi yang diberikan kepada Sucipto sudah sesuai dengan peraturan pemerintah untuk Aparatur Sipil Negara (ASN). “Kami komitmen membangun Unnes kampus yang merdeka dengan SDM unggul berkarakter. Termasuk cerdas bermedia sosial tanpa hoax dan hate speech,” katanya. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here