BERBAGI
Ilustrasi, pixabay.com

Para importir Jateng mencari alternatif negara lain seperti India dan negara lain yang punya produk sejenis biasa digunakan masyarakat Jateng

Serat.id – Gabungan Importir Nasional Seluruh Indonesia (GINSI) Jawa Tengah mengakui munculnya wabah virus corona telah mematikan impor barang ke Jawa Tengah sejak hampir satu bulan ini. GINSI memprediksi nilai inflasi di Jateng lebih tinggi dari bulan bulan sebelumnya, bahkan jika masih terjadi hingga bulan depan, akan menjadikan Jateng resesi ekonomi.

“Mau tak mau memang dampaknya corona, ini masih suasana libur Imlek ditambah ada corona mundurnya nambah. Impilikasi inflasi barang naik semua karena suplai berkurang, satu bulan lagi tak ada perubahan bisa resesi,” kata Wakil Ketua GINSI Jateng, Andreas Budi Wiroharjo, Rabu, 19 Februari 2020.

Baca juga : Dewan Minta Produsen Rokok Tak Impor Tembakau

Pengusaha Tahu Keluhkan Harga Kedelai Iimpor Melonjak 

Impor Berlebihan, Petani Garam di Jepara keluhkan Harga Garam Anjlok 

Andreas mengaku saat ini para importir Jateng mencari alternatif negara lain seperti India dan negara lain yang punya produk sejenis biasa digunakan masyarakat Jateng. Hal itu dilakukan karena selama ini impor produk asal China di Jateng sangat tinggi mencapai 30 persen dengan angka rata-rata hampir Rp 300 miliar per bulan.

“Itu cukup tinggi lainya tak sampai 30 persen. Amerika 25 persen, Jepang 20 persen,” kata Andreas menambahkan.

Menurut Andreas, selama ini kebutuhan impor barang asal China di Jateng cukup tinggi karena untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga langsung. Produk itu di antaranya  bahan bangunan, barang produk besi, kertas serta bawang putih.

Mandegnya impor asal China akibat wabah Corona itu diakui berdampak Jateng tak bisa menikmati angka efisiensi seperti  bulan sebelumnya. Andreas mengingatkan dampak virus yang menyebabkan mandegnya impor barang asal China harus  diimbangi dengan kesiapan industri dalam negeri.

Ia menjelaskan kondisi itu seharusnya menjadi kesempatan membuat produk sejenis, dengan syarat produk itu bisa diterima negara lain. Karena jika tidak, akan mengganggu neraca perdagangan bisa minus.

Sedangkan munculnya wabah Corona dinilai benar-benar menghantam ekonomi negara yang selama ini tergantung China. Yang paling parah adalah Singapura karena bergantung 70 persen barang dari China.

Anggota Komisi Perekonomian dan perdagangan, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Jawa Tengah, Setia Budi Wibowo, menyatakan mandegnya impor kebutuhan domestik asal China di Jateng akan menjadi kajian khusus di dewan. “Kami akan kaji  dari aspek perdagangan, termasuk bagiamana mencari solusi impor ke engara lain,” kata Wibowo.

Menurut  Wibowo, selama ini yang bisa menyesuaikan pasar di Indonesia, khususnya Jateng hanya China. “sedangkan mengambil dari negara lain tak semurah China,” kata Bowo menambahkan. Sebenarnya ia menyebut mandegnya impor dari China menjadi kesmpatan masyarakat Jateng lebih produkstif dengan menguatkan produksi UKM, namun diakui perlu waktu dan pendampingan lebih inten dari pemerintah. “Memberdayakan UMK lebih baik, tapi perlu waktu. Sementara kebutuhan harus terpenuhi sekarang sudah terlanjur tegantung impor,” katanya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here