BERBAGI
Workshop etik dan profesionalisme jurnalis yang digelar di Kota Semarang, Jum’at 21 Februari 2020

Keberadaan media online di Indonesia mencapai 43 ribu, sedangkan yang baru terverifikasi dewan pers baru 200-an.

Serat.id – Ketua Bidang Pendidikan AJI Indonesia, Dandy Koswaraputra mengatakan booming informasi melalui media sosial menjadi tantangan bagi jurnalis dalam menjalankan profesinya. Dandy mengatakan tingginya pengguna media sosial di Indonesia kadang menyesatkan jurnalis dalam menjalankan kerja-kerja jurnalistik.

“Tercatat pengguna Instagram yang mencapai 53 juta, 50 juta pengguna Youtube, 12 juta tweet per hari netizen Indonesia. Selain itu,  115 juta akun aktif FB di Indonesia dan 350 juta foto per hari,” kata Dandy Koswaraputra, saat workshop etik dan profesionalisme jurnalis yang digelar di Kota Semarang, Jum’at 21 Februari 2020.

Baca juga : AJI Minta Menteri Pertanian Cabut Gugatan Tempo

Sejumlah Jurnalis Gelar Jelajah Jambi Untuk Ramaikan Festival Media 2019

AJI Kampanyekan Solidaritas Untuk Muath dan Veby

Menurut Dandy, keberadaan media online di Indonesia mencapai 43 ribu, sedangkan yang baru terverifikasi dewan pers baru 200-an. ‘’Rata-rata 25 ribu berita atau artikel diproduksi setiap hari di Indonesia,’’ kata Dandy menambahkan.

Sayangnya, Dandy menjelaskan, banyaknya media online itu justru banyak informasi tidak akurat, berita cenderung dangkal, banyak pemberitaan keluar konteks, dan bermunculan hoaks. Di sisi lain bermedsos tergolong baru sehingga belum bisa membatasi materi yang  boleh diunggah.

Ironisnya media baru atau media online menjadikan media sosial sebagai sumber berita media maenstrem dengan dalih sesuatu yang viral dan menjadi bacaan publik.

Hal itu menjadi masalah tersendiri bagi jurnalis khsusunya etika dalam memproduksi karya jurnalistik. Dengan begitu Dandy mengajak jurnalis membedah kode etik sekaligus menemukan terobosan menjaga profesi yang perannya mengutamakan kepentingan publik bukan berita sensasional semata.

“Perlu juga reinterpetasi etika media massa. Kita perlu memikirkan kembali etika media baru itu perlu kita buat? Tidak hanya kode etik yang sudah ada,” katanya.

Dandy, menyebut prinsip dalam etika jurnalistik itu di antaranya objektivitas, kebenaran, dan meminimalisasi yang membahayakan bagi publik. Adapun prinsip etika media baru itu objektivitas yakni bersifat multidimensi, data diuji, diverifikasi dan koreksi oleh komunitas online. “Serta menjamin transparansi, dan memeninimalisasi konflik,” kata Dandy menjelaskan.

Tercatat workshop yang digelar Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia, bekerja sama dengan Kedutaan Australia  Jakarta di Hotel Metro Semarang itu. Dalam acara yang melibatkan 30 jurnalis asal sejumlah daerah itu Dandy mengajak jurnalis berprinsip pada kebenaran yakni pencarian kebenaran dan tuturan kebenaran.

Sedangkan dosen, Ilmu Komunikasi Universitas Diponegoro Semarang (Undip) Triyono Lukmantoro menjelaskan sejumlah komponen yang harus dimiliki seorang jurnalis dalam menjaga etika dan jeratan hukum.  “Etika dan hukum itu saling melengkapi kerja-kerja jurnalis,” kata Triyono.

Ia menegaskan jurnalis harus mengetahui aturan-aturan yang mendukung dan membatasinya.  “UU pers itu menjamin jurnalis, termasuk UUD 45. Namun, banyak aturan yang membuat jurnalis tak leluasa,  di antaranya aturan tentang rahasia negara dan sejumlah aturan lain,”’ katanya. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here