BERBAGI
Seorang ibu menyuapi putranya yang sedang menderita kanker di rumah singgah yang dikelola YKAKI Jalan Kedungjati nomor 6, Randusari Kota Semarang, Ody/serat.id

Mereka berjuang bersama-sama menyemangati buah hati untuk melawan penyakit yang diderita bertahun-tahun.

Serat.id – Reni Nurwati, 40 tahun, sabar menyuapi putranya bernama Aftur usia 7 tahun. Sesekali ia merayu buah hatinya yang kelihatan engan makan. Ia begitu tabah bersama sejumlah perempuan lain  yang menempati rumah singgah dengan papan nama “Rumah Kita” di jalan Kedung Jati nomor 6 Kota Semarang itu.

“Harus sabar seperti ini, menyuapi memberikan makanan bernutrisi, sesuai saran dokter agar terjaga kondisi tubuhnya,”kata Reni, kepada serat,id. Kamis, (20/2/2020).

Maklum Reni menghadapi ujian besar dalam hidupnya karena Aftur terserang kanker yang kini menjalani terapi kemo dalam setahun ini. Di rumah singgah itu Reni tak sendiri, ia bersama para ibu  lain yang punya nasib sama, menghadapi buah hati yang menderita kangker. Mereka berjuang bersama-sama menyemangati buah hati untuk melawan penyakit yang diderita bertahun-tahun.

“Kami di sini bersama ibu-ibu lain seperti keluarga sendiri. Kami berjuang bersama untuk menyembuhkan anak-anak. Di tempat ini kami bisa saling tukar informasi,” kata Reni menambahkan.

Baca juga : Merawat Anak-Anak Pengidap HIV/Aids di Rumah Aira 

Korban KDRT Perlu Pendampingan Tenaga Kesehatan

Sejumlah Bocah di Semarang dan Surakarta Terdampak Game Online

“Rumah Kita” itu ibarat markas para ibu yang sedang berjuang melawan kanker. Rumah berwarna putih sebagai  tempat singgah para orang tua yang sedang memeriksakan anaknya di Rumah Sakit Umum Pusat Dr Kariadi Semarang. 

Di “Rumah Kita” itulah mereka membangun kebersamaan komunal, berbagi tugas, memasak bersama-sama menyiapkan menu makanan sesuai kondisi anak mereka. Tak hanya para ibu, para bapak mereka juga mendapat tugas menjaga kebersihan. Karena makanan untuk penderita kanker harus bebas dari Mono Sodium Glutamat (MSG) selain itu rumah juga harus bersih.

Kegiatan itu merupakan pekerjaan lain di luar tugas utama para  orang tua yang mendorong dan menjaga anak-anak tetap ceria di tengah menahan rasa sakit yang dideritanya.

“Sebab, anak-anak setelah melakukan kemo terapi biasanya mengalami mual dan susah makan bahkan gampang marah. Hal ini yang dibutuhkan kesabaran dari para orang tua dalam proses penyembuhan,” kara Reni menjelaskan.

Tak hanya Reni, di rumah itu ada juga Srikah, yang sedang berjuang bersama-sama putrinya bernama Intan Diah Ayu Handayani yang mengalami penyakit kanker Leukimia. Ibu rumah tangga asal Blora itu merasakan manfaat rumah singgah di tengah perjuangan menyelamatkan buah hati yang harus periksa jauh dari kampung halaman.

 “Di sini membantu keluarga yang rumahnya jauh dari lokasi rumah sakit,” kata Srikah.

Ia mengaku di rumah singgah khusus itu ia berjuang bersama-sama merawat buah hati yang sedang sakit. “Para orang tua memiliki satu tujuan yang sama yaitu berharap kesembuhan bagi anak-anak kami,” kata Srikah menambahkan.

Ketua Cabang Yayasan Kasih Anak Kanker Indonesia (YKAKI) Kota Semarang Vita Mahaswari mengatakan tempat singgah ini sudah berdiri sejak tahun 2015 dengan visinya memberikan hak anak penderita kangker mendapatkan pengobatan serta perawatan yang sebaik-baiknya.

“Di manapun ia berada, juga berhak belajar maupun bermain walaupun keadaan sakit,” kata Vita.

Menurut dia, fokus rumah singgah adalah melayani dengan baik. Di rumah itu ada hati yang terus bersemangat memberikan motivasi baik anak-anak penderita kanker maupun para orang tua yang menemani untuk sembuh.

“Itu sangat penting, sebab anak-anak penderita kanker butuh kontrol dan pengawasan yang baik dari semua pihak. Baik para orang tua maupun pengawas di rumah singgah,” kata Vita menambahkan.

Di rumah singgah itu juga terdapat rekam medis semua para penderita kanker, baik jadwal kontrol maupun asupan pola makanan yang harus diberikan. Pengelola selalu menginggatkan para orang tua. “Karena kalau terlambat kontrol maupun salah dalam pemberian nutrisi makannan bisa menyebabkan terhambatnya penyembuhan,” kata Vita menjelaskan .

Tercatat hingga saat ini rumah singgah itu sudah menerima lebih dari 100 penderita kanker yang dari berbagai luar kota, seperti Surabaya, Brebes, Tegal hingga luar Jawa. Di rumah itu terdapat 12 tempat tidur yang disediakan untuk tempat tinggal. Selain itu juga disediakan tempat bermain dan belajar bagi anak-anak penderita kanker. (*) ODY

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here