BERBAGI
Ilustrasi, pixabay.com

Imbauan itu menghadapi Covid -19 yang mewabah di dunia bahkan sudah menelan korban jiwa di Indonesia, termasuk di Jawa Tengah.

Serat.id – Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kota Semarang mengimbau jurnalis dan pekerja media tetap liputan seputar virus Corona atau Covid-19 dengan memanfaatkan tehknologi digital internet, lewat sejumlah tool aplikasi media dan situs resmi tanpa harus kontak langsung ke lapangan.  Imbauan itu menghadapi Covid -19 yang mewabah di dunia bahkan sudah menelan korban jiwa di Indonesia, termasuk di Jawa Tengah.

“Mewaspadai penyebaran dan infeksi virus Covid-19, kawan-kawan jurnalis tetap profesional dalam meliput seputar virus itu agar dipahami publik secara luas dengan baik,” kata Ketua AJI Kota Semarang, Edi Faisol, Kamis, 19 Maret 2020.

Baca juga : Hindari Penyebaran Corona, Lawang Sewu ditutup

Cegah Penularan Corona, Ratusan Kendaraan di Kota Semarang disemprot Disinfektan

AJI Desak Pemerintah Transparan dan Terbuka Informasi Covid-19

Edi menyatakan agar jurnalis mencari informasi menggunakan komunikasi lewat telepon terhadap nara sumber yang kompeten dan pengambil kebijakan menghadapi penyebaran virus Covid-19. Selain itu untuk mendapatkan data tentang seputar virus Covid-19 bisa memanfaatkan situs resmi pemerintah dan grup media sosial yang dikelola pemerintah serta akun pribadi media sosial pejabat terkait.

“Namun tetap melakukan verifikasi agar  tak terjebak menginformasikan hoax,” kata Edi menambahkan.

AJI Semarang menyayangkan hingga merebaknya virus Covid-19 ini masih saja ada perusahaan media yang tak tanggap melindungi jurnalisnya yang seharusnya memberi alat kelengkapaan perlindungan diri alat liputan yang memadai. Hal ini dinilai mengancam jiwa jurnalis dari infeksi virus Covid-19.

AJI Semarang menilai para jurnalis dan pekerja media paling rawan terinfeksi Covid-19 dialami oleh mereka yang di lapangan, seperti reporter, stringer dan koresponden yang selama ini sebagian besar tak punya hubungan industrial yang jelas dengan perusahaan media.  

Menurut Edi, para pekerja media yang ia sebutkan itu tak punya jaminan keselamatan dari perusahaan karena sifatnya pekerja tanpa perlindungan upah layak, asuransi dan jaminan hidup lain dan hanya sebagai mitra penyaji berita perusahaan media.

Ia menilai ketika terjadi insiden musibah kecelakaan kerja, perusahaan sering lari dari tanggungjawab. Maka untuk menghindari hal hal yang tak diinginkan AJI Semarang minta  para Jurnalis lebih mengutamakan jiwa dan kesemalatan. “Karena tak ada nyawa semahal berita,” katanya. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here