BERBAGI

Hammam Sanadi*

Tentu urusan pekerjaan dan keberlangsungan hidup menjadi kendala utama jika harus tinggal di rumah. Sebaliknya pemerintah juga belum tegas mengeksekusi karantina wilayah secara menyeluruh.

Pada hari Jum’at, 10 April 2020 pemerintah menerapkan kebijakan Pembatasan Sosial Bersekala Besar (PSBB) sebagai bentuk pencegahan penyebaran Covid-19 yang diyakini paling efektif dan efisien. Pertama kali keputusan pemerintah ini diterapkan di Daerah Khusus Ibukota Jakarta dan beberapa kabupaten/kota di Jawa Barat yang berbatasan dengan Jakarta. Bahkan dalam waktu yang tidak lama, banyak daerah lain yang mengajukan PSBB.

Kebijakan ini diambil oleh pemerintah berdasarkan pada asumsi karakter Covid-19 yang proses penyebarannya melalui interaksi  manusia yang berdekatan dan kontak fisik secara langsung seperti berjabat tangan.  Pemerintah juga menganjurkan untuk menjauhi kerumunan (social distancing) dan menjaga kontak fisik (physical distancing) di tempat umum  seperti  mall, pasar tradisional, tempat hajatan, tempat ibadah dan lembaga pendidikan. 

Serangkaian kebijakan beserta turunannya yang diupayakan oleh pemerintah tersebut bertujuan untuk melindungi warganya agar meminimalisir korban sebagai dampak wabah Covid-19. Namun, agaknya publik belum meresponnya dengan baik. Mereka masih enggan untuk tinggal dirumah dengan suka rela dan penuh kesadaran. Banyak hal yang menyebabkan mereka menimbang-nimbang untuk tinggal di rumah, menjauhi kerumunan dan menjaga kontak fisik dengan koleganya.

Tentu urusan pekerjaan dan keberlangsungan hidup menjadi kendala utama jika harus tinggal di rumah. Sebaliknya pemerintah juga belum tegas mengeksekusi karantina wilayah secara menyeluruh. Salah satu pertimbangannya adalah persoalan jaminan sosial pemerintah yang harus diberikan selama karantina dan dampak kerawanan sosial lainnya jika tidak dikaji secara cermat.

Jika kondisinya demikian, sangat diperlukan pendekatan alternatif agar masyarakat dengan rela hati berdiam di rumah. Mereka merasa nyaman dan aman bersama keluargnyaa di rumah. Meskipun hal itu tindak gampang dilakukan menjadi ‘orang rumahan’. Misalnya, para pekerja urban yang sudah mendarahdaging berangkat pagi hari dan pulang setelah matahari sirna. Mereka sudah menemukan spiritualitas dari rutinitas yang dijalaninya. Berlari dan berdesak-desakkan agar memperoleh kendaraan umum untuk berangkat dan pulang kerja menjadi kenikmatan tersendiri. Kira-kira begitulah salah satu hambatan psikologis dengan berat hati tinggal di rumah.

Manciptakan Ritual Baru

Hidup itu sejatainya ritualistik. Termasuk pergi dan pulang ke rumah juga menjadi kegiatan ritual. Keluar rumah sekedar menyapa tetangga dan kemudian masuk rumah kembali sudah menjadi menu kehidupan yang normal. Manusia memang secara alami diberi potensi untuk itu. Mereka mengikuti serangkaian aktifitas sosial sebagai ritual agar mereka menjadi sibuk.

Dalam budaya modern, mereka dipaksa keluar rumah sebagai ritual untuk mengejar tujuan hidupnya sehingga mereka bisa sukses. Sejarah peradaban manusia telah membuktikan bahwa manusia selalu sibuk. Banyak sekali kegiatan manusia saat itu mulai dari berburu, bertani, menjelajah dan membesarkana anak-anaknya. Kegiatan terstruktur seperti itu sebagai ritual agar manusia tetap sibuk sepanjang hari sampai ajal tiba menjemputya.

Kini dengan adanya pandemic Covid-19, tinggal di rumah menjadi ritual baru. Tinggal di rumah (saja) dalam jangka waktu yang lama tentu tidak mudah. Ritual keluar masuk rumah sudah membeku, mengkristal dan spontan. Bahkan,  mungkin ada orang yang baru menyadari kegiatan tersebut setelah ada Covid-19. Saat ini kebiasan tersebut secara tiba-tiba terhenti dalam waktu yang belum jelas sampai kapan akan berakhir.

Kondisi demikian membuat mental psikologis seseorang semakin berat jika perasaan bosan tinggal di rumah tidak dikelola dengan baik akan menimbulkan tekanan mental (stress). Memang sulit mengubah kebiasaan lama menjadi kebiasaan baru. Hal yang paling mungkin bisa dilakukan  yaitu mengalihkan ke kegiatan lain bukan menggantinya.

Menurut Astrid Safitri (2019:17) dalam bukunya Breaking Your Habit, menawarkan tiga cara untuk menciptakan ritual baru. Pertama, mengenali stimulus dari dalam diri sendiri. Banyak sekali dorongan dari dalam diri sebagai kebiasaan lama untuk tetap melakukan kegiatan keluar rumah seperti kebiasaan mengantar anak ke sekolah, bekerja di kantor dan beorlahraga. Setaip pagi tiba serangkain dorongan tersebut muncul. Kebiasaan ini sudah  menyatu seiring dengan perputaran jam biologis. Setalah sarapan pagi biasanya langung berangkat untuk keluar rumah dengan serentetan alasan rutinitas yang sudah menjadi kebiasaan.

Kedua, merespon stimulus setelah pikiran mengenali dorongan dalam diri tersebut. Kemudian pikiran mencari alternatif kegiatan pengganti yang baru selama tinggal di rumah. Keinginan mengantar anak bisa dialihkan dengan mengajak anak-anak bermain bersama di dalam atau di halaman rumah. Kebiasaan bekerja di kantor dapat disalurkan dengan membaca buku, membersihkan rumah agar tubuh tetap bugar dengan terus bergerak (beraktifitas).

Ketiga, mencermati dampak respon yang diberikan oleh pikiran apakah memberi manfaat positif atau tidak. Jika suasana batin dan badan terasa nyaman dengan kebiasaan yang baru di rumah, maka kebiasaan itu bisa dilanjutkan sebagai ritual baru. Sebaliknya jika respon yang diberikan tidak  menimbulkan ketenangan batin dan kebugaran fisik, maka perlu dicoba terus kegiatan-kegiatan baru sampai menemukan kebiasan baru di rumah yang bermanfaat bagi diri sendiri dan anggota keluarga. Hanya dengan terus menciptakan ritual baru, kegiatan tinggal di rumah akan menjadi sesuatu yang menyenangkan.

Memaknai Kembali Rumah

Setiap orang yang meninggalkan rumah sejatinya menginginkan kembali. Banyak alasan untuk kembali ke rumah. Salah satunya adalah rumah mernjadi tempat terbaik orang-orang tercinta. Berkumpul dan hadir bersama mereka menimbulkan kebahagaian yang tak ternilai harganya. Dalam perspektif Linguistik (M.A.K Haliday dan Hasan dalam Cohesion in English, 1994:31), iklan layanan sosial sebagai anjuran pemerintah untuk tinggal di rumah (stay at home) dapat ditafsirkan oleh para pembaca dan pendengarnya dengan dua acuan (reference). Pertama, endophoric reference yaitu memaknai teks dengan mengacu pada linguistik mikro (kata/frase/kalimat sebelumnya).

Model pemaknaan ini, ajakan tinggal di rumah berarti merujuk pada teks sebelumnya yaitu sebagai bentuk perintah untuk pencegahan Covid-19. Kedua, exophoric reference yaitu memaknai teks dengan linguistik makro, mengacu pada kontek situasi (the context of situation) dan kondisi yang lebih luas. Pada kontek situasi ini anjuran tinggal di rumah dapat pula dimaknai sebagai gerakan  kembali (pulang) ke rumah.

Dengan perspektif yang kedua ini, kembali ke rumah merupakan gerakan bukan sekedar pulang untuk mentaati anjuran pemerintah, melepas penat dan beristirahat. Setelah kondisi normal dan badan terasa segar kembali pergi keluar rumah sebebas-bebasnya. Rumah hanya berfungsi sebagai tempat transit tidak lebih dari itu. Anjuran ini idealnya dijadikan momentum membentuk kembali rumah sebagai sumber imunitas yang mampu membentengi setiap anggotanya dari berbagai macam penyakit bukan hanya Covid-19 namun juga pandemi sosial seperti perilaku  cacat etika dan moral.

Rumah menjadi tempat pertama dan utama untuk mendidik anak-anak. Mereka belajar jujur pertama kali di rumah. Mereka menyaksikan keteladanan para orang tuanya juga di rumah bukan dari sekolah, teve atau telepon pintar. Ketika berada di rumah anak-anak menikmati kegiatan-kegiatan yang sederhana namun detail, mendalam maknanya dan berulang-ulang (quality as well as quantity time). Perhatian orang tua dan anak terhadap hal-hal yang sederhana dan mendalam seperti sifat jujur, mengalah, bekerjasama dengan sesama anggota keluarga merupakan modal imunitas yang abadi dan universal untuk menapaki kehidupan dimasa mendatang.

Mereka akan menjadi manusia yang unggul dan kebal atas berbagai polusi dan penyakit sosial di zamannya  (Hector Garcia dan Frances Miralles dalam Ikigai or Meaningful Life, 2016:79). Dengan begitu rumah menjadi mata air kebahagiaan dan ketentraman bagi para penghuninya karena kebahagiaan dan ketentraman adalah proses dari kebiasaan-kebiasaan (ritual) kecil yang dicipta oleh anggota keluarga bukan hasil yang tiba-tiba. Selalu mengingatkan diri dan anggota keluarga untuk menjalani ritual sederhana bersama sebelum menikmati hasilnya. Hakikatnya orang yang berbahagia dan damai adalah mereka yang menghabiskan lebih banyak waktunya beraktifitas sekaligus bersantai dengan orang-orang terkasih yang tinggal bersamanya. Pendeknya, hikmah terbaik kembali ke rumah karena Covid-19 merupakan momentum terbaik untuk menemukan kembali kebahagian dan kedamian bersama keluarga di rumah tercinta, semoga. (*)

*Dosen Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Salatiga

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here