BERBAGI
Ilustrasi, pixabay.com

Gerakan yang berbasis tiap RW itu bakal mendapat support dari 48 tim patroli gabungan di pos pantau.

Serat.id – Walikota Semarang Hendrar Prihadi memilih menerapkan gerakan Jogo Tonggo (menjaga tetangga) untuk menahan laju penularan Covid-19 di wilayahnya. Gerakan yang berbasis tiap RW itu bakal mendapat support dari 48 tim patroli gabungan di pos pantau.

“Sudah kami rapatkan Perwalkot pembatasan wilayah non PSBB yaitu dengan model Jogo Tonggo. Hari Senin gerakan itu kita berlakukan,” kata Hendrar Prihadi atau akrab disapa Hendi, Jumat 24 April 2020 kemarin.

Baca juga : Masa Dadurat Corona, MUI Jateng; Shalat Tarawih dilakukan di Rumah

Isu Corona Sebabkan Panen Petani Ini Tak Laku

Dua Bocah Ini Sumbangkan Tabungan Untuk Penanggulangan Covid-19

Hendi menyebut program Jogo Tonggo  dasarnya semangat kondisi tanggap bencana. Kebijakan dengan gerakan masyarakat itu akan mengatur tempat kerja, usaha, pendidikan dan kegiatan masyarakat.

“Saat ini kami juga sudah melaksanakan sistem lumbung pangan kelurahan, meskipun basis kegiatannya ada di tingkat RW. Tapi ini sudah ready,” kata Hendi menambahkan.

Tercatat jumlah kasus Covid-19 di Kota Semarang merupakan yang terbesar di Jawa Tengah. Hendi mengatakan saat ini total pasien terkonfirmasi Covid-19 sebanyak 148. Dengan total sembuh 50, sementara 29 pasien meninggal yang terdiri dari 21 orang merupakan warga Semarang serta 8 orang warga luar kota.

Menyikapi perkembangan yang signifikan tersebut Hendi mengaku intensif berkonsultasi dengan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, kaitannya apakah akan diberlakukan PSBB atau tidak. Salah satu hasil konsultasi itu adalah pilihan memberlakukan Jogo Tonggo, yakni pembatasan sosial non PSBB.

Sedangkan pemberlakuan Jogo Tonggo memberi peran keluarhan melakukan karantina wilayah dengan portal. Pemberlakuan Jogo Tonggo tersebut nantinya bakal mendapat support penuh dengan keberadaan pos pantau. Total ada 16 pos pantau yang disiapkan Pemkot Semarang setiap satu pos pantau akan dijaga oleh tiga tim.

“Kita menaruh 16 pos pantau, 8 pos ditaruh di perbatasan dengan wilayah lain, 8 pos pantau di kota. Yang setiap pos pantau ada tiga tim patroli. Anggotanya TNI Polri, dishub, Satpol-PP dan tenaga kesehatan. Total ada 48 tim patroli,” katanya.

Jogo Tonggo tersebut bakal mulai diberlakukan pada Senin 27 April pekan depan. Sementara akhir pekan ini dimanfaatkan persiapan dan sosialisasi ke masyarakat.

Sementara itu Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, mengatakan pemberantasan Covid-19 ini jangan sampai membiarkan tenaga medis jadi benteng terdepan. Ganjar menyebut masyarakat semestinya menjadi garda terdepan dengan bersenjatakan air mengalir, sabun dan masker serta menerapkan strategi inti, tetap tinggal di rumah dan jaga jarak.

“Basisnya desa atau kampung. Kenapa? Ruang yang lebih kecil bisa kita lakukan kendali yang lebih manageble. Kalau kita mau tetapkan PSBB, sudahkah kita menghitung dan siap? Kalau belum, kita latihan dulu dengan melakukan tindakan seperti PSBB,” kata Ganjar.

Salah satu tempat rawan penularan Covid-19 di antaranya keberadaan pasar yang akan mulai diubah. “Salah satunya yang ke sana harus cuci tangan, wajib pakai masker, kalau tidak suruh pulang,” kata Ganjar menegaskan. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here