BERBAGI
Ilustrasi, Pixabay.serat.id

“Anak-anak stress. Mereka berjuang mengerjakan tugas bukan karena suka, tapi hanya untuk mengejar nilai,”

Serat.id –  Hasil survei Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menunjukkan 76,7 persen menyatakan anak tidak suka belajar dari rumah.  Survei dilakukan oleh KPAI terhadap kebijakan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) selama pandemi Covid-19.

“Anak-anak stress. Mereka berjuang mengerjakan tugas bukan karena suka, tapi hanya untuk mengejar nilai,” ujar Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Retno Listyarti, Diskusi Online seri #1 yang diselenggarakan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia dan UNICEF, Senin, 11 Mei 2020 kemarin.

Selain itu retno menyebut problem lain yang muncul dari PJJ adalah akses internet yang mahal dan tak mudah. Hal tersebut, yang juga dipaparkan oleh UNICEF diakui Retno membuat anak-anak kehilangan kesempatan untuk mendapat pendidikan yang layak.

Berita terkait : Ini Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap Kesejahteraan Anak

Sebab, ketika penghasilan orang tua turun drastis, maka kecukupan pangan menjadi tujuan utama. Sementara kebutuhan membeli pulsa internet dan pulsa ponsel tak dianggap sebagai prioritas. “Padahal kemudahan akses internet adalah salah satu syarat untuk mengikuti pembelajaran jarak jauh,” kata Retno menambahkan.

KPAI berharap pemerintah tak hanya memberikan subsidi pangan seperti sembako, tapi juga membuka akses internet gratis sehingga anak-anak dapat belajar dengan tenang dan aman. KPAI sepakat bahwa isu ini harus menjadi perhatian pemerintah dan perhatian bersama. “Sebab, pendidikan adalah hak dasar anak yang harus dipenuhi oleh negara,” kata Retno menjelaskan.

Spesialis Kebijakan Sosial UNICEF, Angga Dwi Matra menyatakan krisis dihadapi anak saat pandemi Covid-19 adalah pembelajaran dirasakan lebih dari 120 negara yang telah memberlakukan pembatasan interaksi sosial melalui penutupan sekolah.

“Kebijakan itu berdampak pada jutaan siswa di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Pemerintah Indonesia telah menerapkan belajar dari rumah sejak Maret lalu, Penutupan sekolah dapat memperburuk kesenjangan akses pendidikan,” kata Angga.

Angga menyebut siswa miskin dan rentan merupakan pihak paling terdampak oleh penutupan sekolah. “Pendidikan mungkin tidak menjadi prioritas utama, karena sering kali harus bersusah payah memenuhi kebutuhan dasar,” kata Angga menjelaskan.

Menurut dia, lamanya waktu belajar yang hilang dapat membuat banyak siswa sulit menguasai pengetahuan dan kemampuan sesuai tingkatan kelas yang diharapkan. Situasi ini dapat menimbulkan risiko terhadap pembangunan sosial dan ekonomi Indonesia.

“Jumlah anak yang putus sekolah juga dapat meningkat akibat kesulitan yang dihadapi anak dan remaja untuk kembali dan tetap bersekolah setelah penutupan sekolah dan kontraksi ekonomi yang berlangsung dalam waktu lama,” katanya. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here