BERBAGI
Ilustrasi, Pixabay.com

“Mereka memang banyak dijumpai di jalan-jalan protokol, seperti di Jalan Pahlawan, Jalan S. Parman, Jalan Veteran dan hampir di setiap tepi jalanan bisa ditemukan,”

Serat.id –  Fenomena manusia karung marak terjadi saat wabah Covid-19  di Kota Semarang  dalam beberapa waktu terakhir ini. Istilah manusia karung  dikenal oleh masyarakat  Kota Semarang  oleh sekolompok orang yang membawa karung  sebagai dalih minta bantuan di tengah masa sulit.

“Mereka memang banyak dijumpai di jalan-jalan protokol, seperti di Jalan Pahlawan, Jalan S. Parman, Jalan Veteran dan hampir di setiap tepi jalanan bisa ditemukan,”  kata Pengamat Sosial Unika Soegijopranata Semarang, Hermawan Pancasiwi,  Sabtu 16 Mei 2020 kemarin.

Baca juga : Dua Pengamen ditertibkan Satpol PP Kota Semarang

Ini Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap Kesejahteraan Anak

Jateng Terjunkan Seluruh SKPD ke Desa Miskin

Hermawan menyebutkan kemunculan manusia karung itu bagian dari penyandang masalah kesejahteraan social (PMKS ) yang diakui semakin marak di masa pandemi seperti sekarang. Tak heran jika sekarang menyebut keberadaan mereka dengan istilah manusia karung.

Fenomena kemunculan manusia karung ini, lanjut dia, biasanya ditandai dengan adanya sebuah karung yang dipanggul ataupun hanya diletakkan di pinggir jalan sebagai suatu isyarat.

“Mereka rata-rata membawa karung yang digunakan sebagai penanda atau isyarat bahwa keberadaan mereka membutuhkan uluran tangan dari masyarakat pengguna jalan,” kata Hermawan menambahkan.

Menurut dia, sebagian besar dari manusia karung  merupakan terdampak pandemi Covid-19 sehingga mengalami kesulitan ekonomi. Mereka adalah orang-orang yang terdampak pandemi, baik yang memang benar-bebar pemulung ataupun orang yang terkena imbas seperti dirumahkan atau PHK dari pekerjaannya.

“Tidak heran jika mereka merasa tidak mempunyai pilihan lain sehingga mengharapkan bantuan dengan berbekal karung untuk mengundang belas kasihan,” kata Hermawan menjelaskan.

Hermawan mengungkapkan penanda atau isyarat membawa karung itu sekarang telah dipahami sebagai suatu simbol yang menggugah hati sehingga dapat menarik empati masyarakat. Ia sempat melihat mereka ke beberapa tempat. Yang menarik dan mengharukan saat masyarakat cukup memahami kenapa mereka itu muncul.

Hermawan berharap fenomena ini berlangsug hanya sementara saja agar selepas pandemi, kondisinya akan normal kembali.  Jangan sampai menjadi sesuatu yang terus menerus, kalau pandemi selesai mereka jadi malas bekerja.

“Semoga saat pandemi selesai ketika mereka bisa kembali mendapat pekerjaan, maka kita kembali ke situasi normal sehingga di jalan-jalan sudah tidak ada lagi,” katanya.

Selain itu Hermawan berharap pemerintah juga dapat memberikan bantuan sosial yang merata bagi  seluruh masyarakat yang terdampak Covid-19 di Kota Semarang, termasuk bagi manusia karung tersebut. Ia memperkirakan manusia karung itu belum mendapatkan bantuan sama sekali dari pemerintah sehingga turun ke jalanan.

disampaikan oleh pengamat sosial   pengamat Sosial Unika Soegijopranata Semarang Hermawan Pancasiwi

Berdasarkan pengamatan serat.id keberadaan manusia karung ada sejak beberapa bulan terakhir ini yang kian mudah ditemukan di berbagai sudut jalanan Kota Semarang.  Pemandangan yang tak biasanya terlihat di sepanjang jalan protokol dan setiap sudut trotoar di Kota Semarang.  Di antara di tepi Jalan Pahlawan menuju Kawasan Simpang Lima. (*) VERONIKA.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here