BERBAGI
Persatuan Waria Semarang (Perwaris) menyerahkan bantuan donasi dan santunan kepada Panti Asuhan Yayasan Panti Asuhan Kiai Ageng Fatah di jl. Plamongan Sari RT 02 RW 12, Pedurungan, Semarang, 13 Mei 2019. (foto Tamam/ Serat.id)
Ilustrasi berbagi bantuan donasi dan santunan oleh Persatuan Waria Semarang (Perwaris) (foto Tamam/ Serat.id)

Survei yang dilakukan terhadap 100 responden ini menggunakan yang bersifat purposive dengan menyebarkan form survei secara online,

Serat.id – Institute For Demographic and Poverty Studies (IDEAS)  mengelar survei  yang bertajuk ‘Dampak Covid-19  Terhadap Penghimpunan Donasi di Lembaga Filantropi dan Zakat’ untuk mengetahui dampak yang ditimbulkan dari pandemik Covid-19 terhadap penghimpunan dana di lembaga sosial.

Survei yang dilakukan terhadap 100 responden ini menggunakan yang bersifat purposive dengan menyebarkan form survei secara online, sebanyak dimana 49 responden merupakan Pegiat Sosial yang bekerja di lembaga amil zakat, 15,3 persen bekerja di lembaga yayasan sosial, dan 35,7 persen  bekerja pada bisnis sosial (Social Enterprise).

“Dari survei ini kami menemukan fakta bahwa pandemi Covid-19 berdampak pada menurunnya penghimpunan lembaga secara drastis pada kisaran 20 hingga 50 persen Bulan Ramadhan yang biasanya terjadi puncak penghimpunan, namun pada tahun ini terjadi sebaliknya,” kata Ahsin Aligori, peneliti IDEAS di Tangerang Selatan, akhir pekan pertengahan Mei 2020 tempo hari.

Baca juga : BAZNAS Terjunkan Tim Bantu Korban Banjir Jayapura

Dompet Dhuafa Sasar Pemberdayaan Masyarakat Miskin 100 Desa

Airy-Dompet Dhuafa Hadirkan Platform Donasi Digital

Ahsin melihat ada beberapa faktor yang menyebabkan penurunan jumlah penghimpunan lembaga sosial yaitu, pertama terjadinya gejala resesi ekonomi sehingga menurunnya donatur untuk berdonasi dan ini diprediksi akan terjadi sepanjang pandemi.

“Beberapa Lembaga menyatakan bahwa jumlah donasi rata-rata donatur menurun 20 persen. Sebelumnya rata-rata donatur berdonasi sekitar Rp 100 ribu, pada saat ini  sekitar Rp 70 ribu  hingga Rp 80 ribu,” kata Ahsin menambahkan.

Profile donatur di masing-masing Lembaga 70 persen didominasi oleh donatur kelas menengah sebagai pekerja, karyawan perusahaan dan pebisnis.

Sedangkan rata-rata pertumbuhan penghimpunan ZIS dari Tahun 2002-2019 sebesar 36.2 persen  dengan tingkat pertumbuhan Indeks Produksi Industri (IPI) rata-rata 4.0 persen per tahun. Jika saat Covid-19 nilai IPI mengalami penurunan -0.8 persen, diprediksi berdasarkan hasil simulasi bahwa hal ini berdampak pada penurunan penghimpunan ZIS sebesar -43 persen.

Selin itu berkurangnya donatur karena terdampak PHK sangat kecil kemungkinan mereka akan berdonasi kembali. Sekitar 32 persen donatur yang dimiliki oleh Lembaga benar-benar tidak bisa berdonasi dan 60 persen donatur lebih memilih berdonasi disekitar lingkungan mereka sendiri.

“Menurunnya transaksi donasi secara langsung (off line) karena diberlakukan PSBB dan physical distancing yang ditetapkan oleh pemerintah untuk pencegahan Covid-19,” kata Ahsin menjelaskan. 

Walaupun seluruh program kampanye Covid-19 beralih ke online tetapi dirasakan masih ada batasan kekurangan dimana bagi Lembaga yang memiliki kanal sosial media dan online kurang exposure maka kurang mendapatkan tanggapan dari publik secara online.

Tak hanya itu menurunnya donasi khusus program Covid-19 karena semakin banyaknya Lembaga filantropi, organisasi masyarakat, media bermunculan membuka kanal donasi yang sama  saat menghadapi pandemi.

Walaupun terjadi penurunan penghimpunan lembaga sosial berkeyakinan bisa survive ditengah pandemik, hal ini terlihat dari 87 persen responden yang mengatakan mereka masih optimis bahwa Lembaga mereka tetap bertahan.

IDEAS merekomendasikan beberapa strategi yang bisa diambil oleh lembaga sosial agar mampu bertahan ditengah pandemi yang sampai saat ini belum diketahui kapan berakhir. Strategi tersebut yaitu pertama, harus terjalin kolaborasi program dengan pihak-pihak lain. Ini sangat penting untuk membagi risiko yang akan dihadapi, terutama dengan pemerintah atau Lembaga-lembaga filantropi lain yang bisa saling mengukung dalam pendanaan program Covid-19.

Kedua, Strategi mengetatkan keuangan lembaga selama krisis, buat skala prioritas terutama dalam anggaran operasional lembaga.

Strategi berikutnya meningkatkan kanal pembayaran donasi secara digital sejalan dengan meningkatkan branding Lembaga dan untuk Lembaga yang menjadi implementasi proyek dari donor.

“Harus menguatkan kepercayaan kepada donor bahwa Lembaga mereka bisa tetap bekerja sesuai dengan target yang ditetapkan tanpa mengurangi efektifvitas layanan program kepada masyarakat,” katanya. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here