BERBAGI
[Ilustrasi] Produk rokok Indonesia. (Serat.id/A. Arif)

“Cara-cara manipulatif yang dilakukan industri rokok demi melanggengkan bisnis buruknya sangat berbahaya dan mengancam masa depan Indonesia,” Ketua Umum Komnas Pengendalian Tembakau, Hasbullah Thabrany.

“Kami perokok meminta publik secara arif melihat isu anti rokok yang digerakan hanya kepentingan global yang sengaja mendistorsikan rokok dan tembakau lokal sebagai salah satu penopang ekonomi nasional,” Sekjen Lembaga Konsumen Rokok Indonesia (LKRI), Tony Priliono

Serat.id – Sebuah tayangan video viral berisi gambar anak-anak merokok dengan santai bersama orang tuanya membuat Hasbullah Thabrany risih. Ketua Umum Komnas Pengendalian Tembakau itu meyakini tayangan video itu terjadi di sebuah daerah di Indonesia. Tayangan video itu tepat tiga hari sebelum Hari Tanpa Tembakau Sedunia (HTTS) yang diperingati saban akhir bulan Mei.

“Video seperti ini tidak hanya muncul sekali ini, tapi sudah beberapa kali di media sosial,” kata Hasbullah, 31 Mei 2020.

Ia menilai video itu bagian dari sejumlah cara manipulatif  yang melanggengkan bisnis rokok, tentu sebagai ketua Komnas pengendali tembakau  ia memahami betul dampak buruk yang sangat berbahaya dan mengancam masa depan Indonesia. Hasbullah menuding industri rokok mentarget anak-anak menjadi konsumen salah satu hasil industri itu berbahan utama tembakau itu.

“Cara-cara manipulatif yang dilakukan industri rokok demi melanggengkan bisnis buruknya sangat berbahaya dan mengancam masa depan Indonesia,” kata Hasbullah menambahkan.

Dia mengacu Riset Kesehatan Dasar 2018 menyebutkan jumlah perokok Indonesia masih sangat tinggi, mencapai 33 persen merupakan usia di bawah 18 tahun, atau ketiga tertinggi di dunia dengan perokok pria sebesar 63 persen.

Sedangkan berbagai riset membuktikan bahwa iklan, promosi, sponsor, dan harga rokok yang murah antara lain adalah hal-hal yang mempengaruhi anak mulai merokok, sehingga mendorong tingginya jumlah perokok di sebuah negara. “Sayangnya, di Indonesia, iklan, promosi, dan sponsor rokok masih sangat masif, serta harga rokok masih sangat terjangkau di kantong anak-anak,” kata  Hasbullah menjelaskan.

Ia menuding berbagai taktik dilakukan industri rokok demi menggaet anak muda untuk mulai merokok dan menjadi kecanduan, mulai dari membuat iklan yang bergaya anak muda keren dan sebagainya, meletakkan iklan-iklan di sekitar sekolah, sampai membuat promosi harga per batang di iklan-iklannya.

Hal itu menjadi alasan Komnas Pengendalian Tembakau menyampaikan sejumlah rekomendasi pada momentum Hari Tanpa Tembakau Sedunia. Sejumlah rekomndasi itu di antaranya menghentikan segala manipulasi industri rokok dengan memperketat aturan pengendalian tembakau, seperti menerapkan larangan iklan, promosi, dan sponsor rokok, serta meningkatkan cukai rokok dan mengimplemetasikan simplifikasi tarif cukai demi mencegah keterjangkauan harga rokok di masyarakat.

Baca juga : Dewan Minta Produsen Rokok Tak Impor Tembakau

Menanti Sikap di Tengah Perang Dagang

Pangan dan Transportasi Pengaruhi Inflasi Jateng

Termasuk menutup setiap peluang yang memberi kesempatan kepada industri rokok untuk melakukan intervensi pada kebijakan, termasuk dengan tidak menempatkan industri rokok sebagai stakeholders dalam pengambilan kebijakan dan menghentikan endorsing (dukungan) terbuka kepada kegiatan-kegiatan semacam-CSR industri rokok.

“Menitikberatkan perhatian pembangunan kepada perlindungan dan pengembangan Sumber Daya Manusia, terutama pada sektor Kesehatan Publik dan Pendidikan, sehingga “SDM Unggul Indonesia” bukan sekadar semboyan kosong,” kata Hasbullah menjelaskan.

Ia juga mengutip kebijakan penerapan terminologi “New Normal” versi pengendalian tembakau melalui kenormalan yang baru dalam hidup bangsa Indonesia yang terbebas dari manipulasi industri rokok dan jebakan candu produknya yang mematikan

“Kita adalah bangsa yang telah membuktikan memiliki rasa kasih sayang, tolong menolong, saling melindungi ketika menghadapi Bencana Nasional Pandemi Covid-19,” katanya.

Sekjen Lembaga Konsumen Rokok Indonesia (LKRI), Tony Priliono, menilai Hasbullah sebagai bagian kelompok antirokok yang terus menyerukan peringatan menolak produk rokok dengan dalih kesehatan.

“Tak cukup itu, mereka juga mengaitkan rokok dengan isu-isu lainnya, misalnya isu ekonomi, isu sosial, bahkan rokok dikaitkan dengan Covid-19,” kata Tony.

Tony menegaskan bahwa kaum antirokok sengaja mengemukakan berbagai argumentasi, namun mereka menegabaikan bahwa merokok adalah hak dan dilindungi Undang Undang. Ia mengacu putusan Mahkamah Konstitusi nomor 19/PUU-VIII/2010 bertanggal 1 November dan peraturan perundang-undangan lainnya.

“Putusan itu tidak pernah menempatkan rokok sebagai produk yang dilarang untuk dipublikasikan, diperjual-belikan, dikonsumsi dan tidak pernah menempatkan tembakau dan cengkeh sebagai produk pertanian yang dilarang,” kata Tony menjelaskan.

Menurut dia, para perokok sejauh ini juga mematuhi dan berlaku bijak terkait pelbagai peraturan yang berlaku. Termasuk di dalamnya kedudukan legal tersebut juga terdapat batasan umur yakni 18 tahun untuk dapat mengakses produk hasil tembakau.

“Jadi sangat jelas bahwa memang produk hasil tembakau adalah konsumsi bagi orang-orang dewasa, tidak boleh diakses oleh anak di bawah umur,” katanya .

Menurut Tony, perilaku merokok juga tak sembarangan, karena mengikuti anjuran kesehatan meski sejumlah riset yang dilakukan atas nama kesehatan sering mediskreditkan para perokok dan mudah dipatahkan secara ilmiah meski tak diakui oleh organisasi kesehatan dunia (WHO).

Ia memastikan sebagai konsumen sejauh ini mematuhi peraturan pemerintah, termasuk Perda Kawasan Tanpa Rokok (KTR) meski aturan tersebut hanyalah copy paste (copas) dari aturan daerah lain tanpa melibatkan (hearing) para perokok sebagai konsumen utama.

Selain itu, Tony juga mengingatkan bahwa rokok adalah produk yang legal, terbukti dengan dikenakannya cukai terhadap rokok dan tembakau sebagaimana dalam Putusan MK Nomor 54/PUU-VI/2008 dan 6/PUU-VII/2009.

Bahkan di tengah pandemi ini Covid-19 ini, atas nama perokok nasional, LKRI mengiklaskan pemerintah melalui Peraturan Menteri Keuangan (PMK) nomor 19 tahun 2020 tentang penyaluran dan penggunaan Dana Bagi Hasil (DBH), Dana Alokasi Umum (DAU) dan Dana Insentif Daerah (DI) dalam rangka penanggulangan corona virus disease 2019 (Covid-19).

“Kami perokok meminta publik secara arif melihat isu anti rokok yang digerakan hanya kepentingan global yang sengaja mendistorsikan rokok dan tembakau lokal sebagai salah satu penopang ekonomi nasional,” kata Tony menegaskan.

Perokok Berisiko Covid-19 ?

Ketua Pokja Masalah Rokok Perhimpunan Dokter Paru Indonesia, Feni Fitriani, menyatakan merokok meningkatkan reseptor ACE 2, yang juga reseptor virus corona penyebab Covid-19. “Jadi perokok memiliki risiko kena Covid-19 yang lebih besar, bukan sebaliknya sebagaimana banyak informasi hoax yang beredar,” kata Feni dalam keterangan resmi bertepatan hari Hari Tanpa Tembakau Sedunia, 31 Mei 2020.  

Pendapat dokter Feni menjadi alasan Komnas Pengendalian Tembakau meminta semua rumahtangga membebaskan anggota keluarga dari bahaya virus corona, diam di rumah dan bebaskan rumah dari asap rokok dalam momentum Hari Tanpa Tembakau Sedunia.

Organisasi itu juga mendorong pemerintah yang diharapkan lebih jelas menyampaikan kepada masyarakat bahwa salah satu pencegahan yang harus dilakukan adalah dengan berhenti atau setidaknya mengurangi merokok.

“Termasuk dan menyediakan panduan serta program pendampingan bagi masyarakat yang mau berhenti merokok demi melindungi mereka dari pandemi global Covid-19,” kata Feni menjelaskan.

Sekjen Lembaga Konsumen Rokok Indonesia (LKRI), Tony Priliono, membantah pernyataan tersebut. “Non Perokok cenderung lebih mudah terserang Covid 19 dibandingkan dengan perokok,” kata Tony  yang merujuk sejumlah tulisan ilmiah.

Meski engan menjelaskan lebih jauh, ia mengatakan LKRI telah memiliki riset sendiri tentang tembakau yang sebetulnya tidak merugikan kesehatan. “Bahkan rokok itu menyehatkan. Ada kajian-kajian ilmiah berdasarkan sifat kimia, maupun sifat fisika dari daun tembakau,” kata Tony

Menurut dia, keberadaan tembakau  juga bisa untuk pengobatan, sedangkan tudingan merokok merupakan ancaman bagian dari perbedaan tafsir yang perlu pengujian ilmiah. “Industri berbasis budaya terkuat di Indonesia yang hendak dihancurkan adalah rokok,” katanya. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here