BERBAGI
Presiden Joko Widodo berkunjung ke pondok pesantrean Girikusumo, Jumat, 19 Oktober 2018.
Presiden Joko Widodo berkunjung ke pondok pesantrean Girikusumo, Jumat, 19 Oktober 2018.

Sedang mempersiapkan masyarakat untuk membuka kembali aktifitas perokonomian dan ibadah secara bertahap

Serat.id – Presiden Joko Widodo menggelar pertemuan dengan delapan tokoh lintas agama di istana negara, Selasa, 2 Juni 2020 petang tadi. Dalam pertemuan presiden dan tokoh lintas agama membicarakan pandemi Covid-19 dengan beragam kondisi yang ada termasuk sikap publik yang dinilai tak panik.

“Kita sangat bersyukur bahwa masyarakat tidak panik dalam menghadapi pandemi Covid 19 ini,” kata Joko Widodo mengawali percakapan.

Baca juga : Ini Anjuran Dokter Anak Mengenai Belajar di Masa Pandemi Covid-19

Ini Rekomendasi Ahli selamatkan Indonesia Dari Pandemi Covid-19

Fenomena Manusia Karung di Tengah Wabah Covid-19 Kota Semarang

Presiden Joko Widodo atau Jokowi menyebut pendapat  para pakar yang menyatakan kepanikan masyarakat akan menurunkan 50 persen  imunitas.

Selain itu Jokowi menyatakan, saran para pakar juga menjadi alasan pemerintah sangat berhati-hati dan mengumumkannya awal pandemi, sehingga diumumkan secara soft kepada masyarakat. “Jadi bukan pemerintah tidak serius, tapi lebih karena kehati-hatian itu. Lihat saja, bahkan negara besar seperti USA pun mengalami kerusuhan berkepanjangan”, kata Jokowi menambahkan.

Pada pertemuan yang dihadiri oleh H  Helmy Faishal Zaini dari PBNU, Abdul Mukti Pimpinan Pusat Muhammadyah, KH. Muhyiddin Junaidi dari MUI, Pdt. Gomar Gultom dari PGI, Ignatius Kardinal Suharyo (KWI), Wisnu Tenaya (PHDI), Arief Harsono (Permabudhi) dan Xs Budi Santoso Tanuwibowo (Matakin).

Jokowi juga menyatakan saat ini alat-alat kesehatan menghadapi Covid-19 ini sudah dapat diatasi dengan cara diproduksi sendiri seperti APD, PCR dan ventilator.  “Semuanya kini sudah dapat diproduksi dalam negeri,” kata menjelaskan.

Ia mengakui pada awalnya kesulitan karena harus mengimport, sementara berbagai negara berebut untuk memilikinya.  Sedangkan Indonesia termasuk di antara tiga negara yang pertumbuhan ekonominya positif saat lembaga-lembaga keuangan dunia memprediksi perlambatan ekonomi dan berbagai negara mengalami minus dalam pertumbuhan ekonomi di tengah pandemi.

“Kini kita sedang mempersiapkan masyarakat untuk membuka kembali aktifitas perokonomian dan ibadah secara bertahap. Ada 120 kabupaten kota yang tidak ada kasus sama sekali. Di daerah ini bisa berlangsung kehidupan yang normal,” katanya.

Presiden juga belum memastikan pembukaan kembali sekolah dan pesantren, ia beralasan sangat berhati-hati terkait dengan nasib 54 juta siswa secara nasional.

Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Muhammadyah, Abdul Mukti, mengapresiasi langkah-langkah yang ditempuh oleh pemerintah, namun ia berharap ada penekanan komunikasi para pejabat kepada masyarakat.

“Komunikasi para pejabat kepada masyarakat kiranya satu irama dan tidak bertentangan satu sama lain. Kita di lapangan mengalami kesulitan menghadapi masyarakat kalau hal ini berlangsung terus menerus,”  kata Abdul Mukti.

Abdul Mukti mengatakan perlunya juga counter narasi dari pemerintah menghadapi banyaknya penyesatan informasi di berbagai media selama pandemi ini, baik menyangkut isu konspirasi, china dan lain-lain.

Ketum PGI, Pdt Gomar Gultom,  menyatakan perlunya semua elemen masyarakat membangun dan mengembangkan disiplin dalam mematuhi protokol kesehatan dan berbagai habitus baru dalam memasuki masa kenormalan baru.

“Tanpa disiplin, apapun yang dikerjakan oleh pemerintah, akan sia-sia, dan masyarakat akan terus berada dalam bayang-bayang penularan covid ini,” kata Gomar. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here