BERBAGI
Ilustrasi Ddos, pixabay.com
Ilustrasi Ddos, pixabay.com

Serangan lewat dunia digital itu menimpa Magdalene.co dan Konde.co

Serat.id – Ddos atau serangan dengan cara membanjiri lalu lintas jaringan internet pada server, sistem dan jaringan menimpa  dua media  maupun jurnalisnya yang selama ini menyuarakan perempuan dan kelompok minoritas. Serangan lewat dunia digital itu menimpa Magdalene.co dan Konde.co.

“Situs Magdalene.co  dan Konde.co mendapatkan serangan Ddos yang mengakibatkan situs Magdalene down dan tak bisa diakses,” kata Ketua Divisi Gender, Anak dan Kelompok Marjinal, Aliansi Jurnalis indwpenden (AJI) Jakarta, Nurul Azizah, Jum’at, 912 Juni 2020.

Baca juga : Pasal Defamasi Ancam Kebebasan Pers Jurnalis Tirto.id Mawa Kresna

Aksi Kamisan Semarang Menyuarakan Kebebasan Pers

AMSI Minta Sengketa Pemberitaan diselesaikan Lewat Dewan Pers

Nurul menjelaskan kejadian Ddos pertama dialami Magdalene.co sejak tanggal 15 Mei 2020. Sebelum kejadian tersebut, Magdalene.co kerap membuat tulisan tentang misoginisme dan diskusi tentang prostitusi.

“Selain serangan itu, jurnalis Magdalene.co juga mendapatkan intimidasi dan doxing, pemberian ilustrasi manga telanjang, serta komentar yang merendahkan martabat perempuan,” kata Nurul menambahkan.

Pada waktu hampir bersamaan juga dialami Konde.co, yang sejak 15 Mei tak bisa lagi mengakses akun Twitter-nya. Konde mendapat informasi adanya pembukaan akun twitter paksa dari Surabaya dan berlanjut hingga esok paginya: pembukaan paksa akun tersebut dilakukan dari Yogyakarta dan Belanda.

Jika menilik kronologi yang dikirimkan ke AJI Jakarta, Konde.co sempat mengadakan diskusi program Konde Women’s talk pada 15 Mei 2020 lalu, yang mengangkat tentang dugaan kekerasan seksual yang dilakukan oleh IM, alumni UII.

“Selain mengadakan diskusi, Konde.co juga beberapa kali memberitakan kasus dugaan pelecehan seksual yang diduga dilakukan IM. Bahkan, artikel Konde.co juga sempat menjadi bahan rujukan untuk menggalang dukungan yang menuntut pencabutan beasiswa IM,”kata Nurul menjelaskan.

Tindakan yang dilakukan kepada Magdalene.co dan Konde.co  itu dinilai melanggar Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers, karena dengan sengaja berusaha menghalangi kerja media. Sehingga para pelaku bisa dijerat pidana penjara paling lama dua tahun atau denda paling banyak Rp 500 juta.

Dengan kondisi itu AJi Jakarta mengecam serangan yang dilakukan kepada Magdalene.co dan Konde.co karena tindakan tersebut telah memberangus kemerdekaan pers. Serangan terhadap dua media yang menyuarakan hak-hak keseteraan gender itu menghalangi peran pers mempromosikan nilai Hak Asasi Manusia dan keberagaman.

“Kami juga minta seluruh masyarakat menyuarakan kemerdekaan pers dan tidak terprovokasi ujaran kebencian yang dialamatkan ke media yang mengarusutamakan isu perempuan dan kelompok minoritas,” kata Nurul menegaskan.

Ia minta kepada semua pihak yang keberatan dengan pemberitaan media untuk melapor ke Dewan Pers. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here