BERBAGI
Ilustrasi sidang, pixabay.com

“Hakim memerintahkan tergugat agar membayarkan kompensasi PHK atau pesangon penghargaan masa kerja, dan penggantian hak para penggugat,”

Serat.id – Majelis Hakim Pengadilan Hubungan Industrial Semarang memenangkan (PHI) gugatan korban pemutusan hubungan kerja yang dilakukan oleh PT Sawah Besar Farma. Hakim menilai PHK yang dilakukan PT Sawah Besar Farma terhadap dua orang pekerja perempuan masing-masing Nila Kumala Ning Tyas dan Caroline Dina Novitasari menyalahi aturan dan tindakan sewenang-wenang.

“Hasil sidang Pengadilan Hubungan Industrial Semarang memenangkan pihak penggugat yakni para korban PHK PT Sawah Besar Farma,” kata pendamping korban PHK dari LBH Semarang, Herdin Pardjoangan, Senin, 15 Juni 2020.

Baca juga : Dua Pekerja Ini diPHK Sepihak oleh PT NBI

BINCANG SERAT: PHK Sepihak Pekerja Media Suara Merdeka

Pekerja Media Suara Merdeka Di-PHK Sepihak saat May Day

Herdin menjelaskan sidang putusan PHI yang digelar Senin, 15 Juni 2020 menyatakan PHK yang dilakukan oleh PT Sawah Besar Farma tidak sah dan bertentangan dengan ketentuan Hukum yang berlaku. “Hakim memerintahkan tergugat agar membayarkan kompensasi PHK atau pesangon penghargaan masa kerja, dan penggantian hak para penggugat,” kata  Herdin menambahkan.

Menurut dia, penggugat I Nila Kumala Ning Tyas berhak menerima hak yang harus dibayarkan oleh   PT Sawah Besar Farma sebasar Rp67.045.000, sedangkan peggugat II Caroline Dina Novitasari berhak menrima uang sebesar Rp31.879.208.

Tercatat perselisihan hubungan industrial yang melibatkan Nila Kumala Ning Tyas dan Caroline Dina Novitasari melawan PT Sawah Besar Farma saat mereka diPHK sepihak perusahaan tersebut pada 23 Maret 2018. PT Sawah Besar Farma merumahkan dua pekerja perempuan itu dengan alasan sedang mengalami masa sulit.

Perusahaan yang bergerak di bidang distribusi obat-obatan ini, kemudian pergi meninggalkan janji pemenuhan hak-hak kompensasi PHK terhadap para pekerja hingga akhir 2019, bahkan ketika gugatan itu didaftarkan pada Pengadilan Hubungan Industrial Semarang belum di bayarkan sama sekali.

“LBH Semarang sebagai kuasa hukum kemudian mengajukan gugatan ke Pengadilan Hubungan Industrial Semarang guna memperjuangkan hak kedua Pekerja Perempuan tersebut,” kata herdin menjelaskan.

Herdin menyambut baik putusan PHI tersebut dan akan menindaklanjuti dengan upaya permohonan eksekusi agar putusan Pengadilan Hubungan Industrial Semarang. “Aagar tidak hanya sekedar memenangkan para pekerja di atas kertas, tetapi benar-benar dapat dipenuhi secara nyata oleh PT  Sawah Besar Farma selaku pemberi kerja,” katanya. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here