BERBAGI
Mbah Sumiatun dan Tim Advokat, Dok/serat.id

Permohonan eksekusi oleh pemenang lelang ke Pengadilan Negeri harusnya diabaikan BPN Kabupaten Demak.

Serat.id – Kasus penipuan peralihan hak milik tanah yang menimpa Mbah Sumiatun yang buta huruf asal Desa Balerejo, Kecamatan Dempet Kabupaten Demak, terus berlanjut ke Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Kota Semarang.

Pada sidang gugatan kepada Badan Pertanahan Negara (BPN) Kabupaten Demak, Kamis, 2 Juli 2020 siang tadi, masuk agenda pembuktian secara tertulis serta menghadirkan saksi ahli.

“Kami menghadirkan salah satu saksi ahli yaitu Kepala Program Studi Magister Hukum Universitas Semarang  Doktor Juneidi,” kata Karman Sastro, Koordinator Tim Advokat Peduli Mbah Sumiatun, Kamis, 2 Juli 2020.

Berita terait : Kisah Cap Jempol di Kertas Kosong Menghilangkan Tanah Mbah Sumiatun

Keluarga Mbah Tun Minta KY Jateng pantau Sidang PTUN

Karman berharap saksi ahli memberikan keterangan yang gamblang terkait kasus peralihan hak atas tanah milik Sumiatun yang menjadi korban penipuan. Ia menilai putusan MA yang  memutuskan dan memenangkan  Mbah Sumiatun bisa membatalkan penguasaan tanah yang beralih ke pihak lain.

“Atas dasar itu, kami menyimpulkan penerbitan sertifikat oleh BPN Kabupaten Demak kepada pemenang lelang adalah cacat formal dan meterial,” kata Karman menjelaskan.

Menurut Karman, dalam kesaksianya Doktor Junaedi menilai putusan Mahkaman Agung (MA) Tahun 2015 harus dijadikan dasar pertimbangan pejabat tata usaha negara.

Dengan begitu, proses lelang melalui Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang (KPKNL), sehingga permohonan eksekusi oleh pemenang lelang ke Pengadilan Negeri harusnya diabaikan BPN Kabupaten Demak.

“Tapi, kenyataannya BPN Kabupaten Demak justru memprosesnya dengan menerbitkan sertifikat,” kata Sukarman menjelaskan.

Dia meminta, putusan MA harus dihormati secara hukum, karena sifatnya memberikan kepastian hukum atas kesalahan penerapan perundang-undangan.

“Atas dasar itu, kami menyimpulkan penerbitan sertifikat oleh BPN Kabupaten Demak kepada pemenang lelang adalah cacat formal dan meterial,” katanya

Mbah Sumiatun yang ikut hadir didampingi putranya, tampak bingung melihat proses persidangan. Meski begitu ia berharap tanahnya yang disrobot orang lewat penipuan cap jempol di kertas kosong itu bisa kembali menjadi haknya. (*) AS.1

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here