BERBAGI
Ilustrasi, dok/serat.id

70 persen guru agama Islam di Semarang belum miliki KTA digital. Padahal dengan memiliki kartu itu bisa mendapat banyak manfaat.

Serat.id – Sebanyak 681 guru pendidikan agama Islam di Kota Semarang hingga kini belum memiliki kartu anggota Asosiasi Guru Pendidikan Agama Islam Indonesia (AGPAII) digital.

’’Jumlah guru pendidikan agama Islam (PAI) di Kota Semarang sebanyak 1.073 orang. Semuanya anggota AGPAII. Namun, yang memiliki KTA digital hanya 393 orang atau 30 persen,’’ kata Ketua AGPAII Kota Semarang, Ahmad Fadlol.

Sebelumnya, Kamis, 2 Juli 2020, AGPAII menggelar workshop secara virtual tentang pembuatan media pembelajaran berbasis android dan pemanfaatannya dalam aplikasi KTA AGPAII digital untuk pembelajaran jarak jauh (PJJ).

“Kami optimistis, dalam waktu dekat, semua guru  agama Islam di Kota Semarang memiliki KTA. Karena pintu utama memanfaatkan aplikasi ini dengan KTA,” terangnya.

Baca juga : Guru Agama Islam Semarang Setuju Proses Pembelajaran Jarak Jauh

Pemprov Jateng Beri Intensif Guru Agama Non Muslim

Syamsul Maarif Guru Besar Baru Bidang Ilmu Pendidikan Islam UIN Walisongo

KTA AGPAII digital ini, kata dia, berguna untuk pelayanan guru kepada peserta didik. Selain itu, juga untuk pembelajaran guru agama Islam setiap hari.

’’Dalam pembelajaran jarak jauh itu tak perlu mengkhawatirkan kuota internet. Sebab, kami bekerja sama dengan salah satu provider, berupa pembelian paket data murah, yakni 50 GB hanya berbayar 100 ribu selama 3 tahun ke depan,” jelas Ahmad.

Pada kesempatan itu, dia juga meminta guru agama Islam memastikan proses pembelajaran selama pandemi Covid-19 tetap berjalan dengan baik.

Kepala Dinas Pendidikan Kota Semarang, Gunawan Sapto Giri mengapresiasi langkah AGPAII Kota Semarang tersebut.

Menurutnya, asosiasi tersebut serius dalam memajukan pendidikan di Kota Semarang. Hal itu dibuktikan dengan percepatan penggunaan aplikasi KTA digital untuk mendukung pelaksanaan pembelajaran jarak jauh.

“Kami imbau guru agama Islam yang belum memiliki KTA agar segera membuat,” katanya.

Adapun Direktur Eksekutif Wahid Foundation Jakarta, Mujtaba Hamdi menjelaskan, sistem ini terkoneksi dengan media pembelajaran yang terhubung dengan guru agama Islam se-Indonesia.

’’Kami berharap capaian ini tidak hanya untuk mendukung PJJ, tapi mampu melahirkan inovasi di dunia pendidikan,’’katanya.

Sementara workshop tersebut digelar melalui aplikasi zoom meeting dan diikuti guru pendidikan agama Islam jenjang TK, SD, SMP, SMA/SMK dan sekolah luar biasa (SLB) se-Kota Semarang.(AS)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here