BERBAGI

Untuk menjaga kualitas, Titis Pamudji, mengerjakan sendiri pembuatan musik keroncong dari awal sampai akhir

Serat.id – Hobi yang ditekuni bisa mengantarkan seseorang meraup banyak rezeki. Hal itulah yang dialami Titis Pamudji (56), musisi asal Kelurahan Candi, Kecamatan Candisari, Kota Semarang. 

Berawal dari hobinya bermain musik, khususnya keroncong, Titis tertarik menggeluti pembuatan alat-alat musik keroncong.

’’Awalnya, pada 2018 iseng mencoba membuat alat-alat musik keroncong,’’ kata Titis, Selasa, 7 Juli 2020.

Baca juga : Penyanyi Marceello Terlibat Pementasan Musik Pop dan Keroncong

RUU Permusikan Membatasi Kreatifitas

Dari Rebana ke Musik Modern

Pria kelahiran Semarang, Mei 1964 itu menjelaskan, alat musik keroncong tersebut di antaranya cak (serang / kencrang), cuk (kentrung atau dalam istilah lain disebut juga ukulele), dan sello.

“Pakem alat musik keroncong ada tiga, yakni serang, kentrung, dan sello. Cara memainkannya dipetik maupun digesek,” terangnya.

Dia mengatakan, waktu pembuatannya bervariasi. Dia mencontohkan, untuk membuat alat cak dan cuk, dari bahan mentah hingga finishing butuh waktu sekitar tiga hari. Adapun untuk membuat sello butuh waktu hingga tiga minggu.

Titis menjelaskan, secara umum bahan utama untuk pembuatan alat musik keroncong dari pohon mahoni. Namun, ada beberapa bagian yang terbuat dari kayu lain, misalnya top sound (bagian atas) alat cuk dari pohon siprus. Sementara, untuk body dan neck (leher/stang) dari pohon mahoni. Kemudian, finger boat (lidah) dari pohon sono keling (eboni).

“Untuk alat sello, bahannya agak beda dengan kedua alat lainnya. Secara umum dari pohon mahoni. Tapi, untuk top sound-nya dari pohon jati belanda,” terangnya.

Dalam penjualan, Titis memasarkannya secara online dan langsung ke komunitas musisi keroncong.

“Pernah dapat pesanan secara online dari Riau, Palembang. Kemudian, dari komunitas keroncong di Malang dan Jakarta,” terangnya.

Harga karyanya bervariasi. Misalnya, cak dan cuk sekitar Rp 400 ribu (tanpa pic up / spoll). Sementara untuk sello sekitar Rp 2,5 juta.

Untuk menjaga kualitas, Titis mengerjakannya sendiri dari awal sampai akhir.

“Tentu kualitas yang dikedepankan, karena ini hand made (kerajinan tangan) dari awal sampai akhir, saya yang menanganinya,” katanya.

Gigih Belajar

Terkait keahliannya memainkan alat musik, dia mengungkapkan, dirinya belajar alat musik keroncong pada 1988.

Memiliki darah seni dari orang tua dan dipadu kegigihannya belajar, membuat Titis cepat mahir. Bahkan setahun kemudian dia kerap tampil di berbagai kegiatan di Kota Semarang.

’’Bapak saya dulu musisi keroncong, era 60-an,’’ terangnya.

Salah satu rekan satu panggung Titis, Bayu Woro Fajar (40) mengatakan, Titis itu orangnya gigih dan belajar secara autodidak. ’’Sebagai yuniornya, saya bersyukur dapat menimba ilmu darinya,’’ katanya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here