BERBAGI

Pembangunan Jalan Tol Semarang-Demak diharapkan dapat menyelesaikan persoalan transportasi dan rob di kawasan setempat. Namun, beberapa pihak menilai proyek dikerjakan terburu-buru dan tidak terbuka

Serat.id – Progres pembangunan Jalan Tol Semarang-Demak seksi II kini sudah mencapai 8 persen. Pembangunan jalan bebas hambatan yang dikerjakan sejak awal Februari itu ditargetkan selesai pada akhir 2021.

Gubernur Gajar Pranowo, saat kunjungan, Rabu (1/7) lalu, mengapresiasi progres pengerjaan seksi II Jalan Tol Semarang-Demak itu.

”Kami pastikan pengerjaan ini berjalan. Kita sudah bisa mulai lihat fisiknya. Target selesai pertengahan 2022, tapi Pak Presiden minta ada percepatan,” ungkap Ganjar.

Dia berharap keberadaan jalan tol itu selain memperlancar transportasi juga menyelesaikan beberapa bagian yang terkena rob.

’’Itulah yang dulu kita bicarakan sangat lama dan progresnya bagus. Selagi bekerja, kami juga menghidupkan ekonomi warga sekitar,’’ katanya.

Baca juga : Jelang Libur Natal, Jalan Tol Solo-Semarang Siap Beroperasi

Warga Baca Salawat Iringi Pembongkaran Masjid di Jalan Tol Batang-Semarang

Polrestabes Semarang Siapkan CCTV Pantau Arus Mudik Tol Trans Jawa

Adapun pembangunan jalan tol sepanjang 27 kilometer tersebut dibagi menjadi dua seksi, yaitu seksi I meliputi ruas Semarang-Sayung sepanjang 10,69 kilometer dan seksi II ruas Sayung sampai Kota Demak sepanjang 16,31 kilometer.

Tanggul Laut

Untuk seksi I desain sebagai tanggul laut. Ganjar mengatakan, pembangunan jalan tol seksi I masih terkendala pembebasan lahan. Sebab, sekitar 70 persen lahanya tergenang.

“BPN sedang mengkaji status tanah itu. Masyarakat tidak usah khawatir, semua akan diajak bicara,” tegas Ganjar.

Terpisah, Cornelius Gea dari Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Semarang menilai proyek ini dikerjakan terburu-buru dan tidak terbuka.

Sampai saat ini belum ada website yang bisa diakses masyarakat terkait semua informasi rencana pembangunan proyek tersebut. Padahal pembangunan ini berdampak luas bagi masyarakat di Kendal, Semarang dan Demak.

“Kami menemukan banyaknya kelemahan dalam rencana pembangunan jalan tol dan potensi dampak lingkungan serta akses masyarakat sekitar,’’ ungkapnya.  

Dia mengatakan, dengan kondisi itu seharusnya rencana ini dikaji ulang, bukan justru pembangunannya dikebut.

’’Ini soal nasib warga. Salah salahnya, warga bukan bebas dari rob malah bisa tenggelam atau menciptakan comberan besar di kota Semarang,” katanya.

Lebih lanjut dia mengatakan, permasalahan rencana pembangunan jalan tol dan tanggul laut Semarang- Demak (TTLSD) bukan hanya perihal pembebasan lahan, tapi juga soal dampak krisis lingkungan yang bisa menyertainya.

Hal itu seperti bagaimana nasib warga yang berada di luar curva tanggul laut, kemudian bagaimana kejelasan sumber urugan galian C untuk membangun tanggul, juga soal bagaimana pengelolaan kolam retensi yang memutus beberapa jalur sungai menuju laut.

“Kalau permasalahan ini hanya dipandang semata mata, soal pembebasan lahan, maka kita akan gagal dalam mengantisipasi dampak lingkungan yang diakibatkannya,” kata Cornelius. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here