BERBAGI
Ilustrasi Kekeringan, pixabay.com

Serat.id – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jawa Tengah tahun ini lebih mewaspadai ancaman kebakaran hutan daripada kekeringan. Kondisi itu disebabkan kemarau di Jateng tahun ini kategori basah.

“BPBD tidak begitu fokus terhadap kemarau namun lebih fokus pada kebakaran hutan dan lahan,” kata Kepala Seksi Darurat Bencana, BPBD Jateng, Purwita, kepada serat.id  Selasa, 7 Juli 2020 kemarin.

Baca juga : Kebakaran Hutan, Hewan Langka di Lereng Merbabu Ini Terancam

Kebakaran Hutan Lereng Merbabu diperkirakan Mencapai Ratusan Hektare

Takut Terluka, dari Petrus Sampai Pembakaran Hutan

Purwita mengataan BMKG telah memprediksikan tahun ini kemarau basah. Hal itu menjadi alasan BPBD Jateng lebih fokus menghadapai ancaman kebakaran hutan. Apa lagi menurut dia, pada tahun ini menunujukan Gunung Berapi mulai bergejolak rawan membakar lahan hutan.

Menurut dia, sebenarnya BPBD Jawa Tengah telah menyiapkan anggaran Rp 600 juta untuk mengantisipasi dampak kekeringan. Namun anggaran tersebut akhirnya harus di refocusing dalam rangka prioritas penanganan Covid-19.

“Sedangkan yang digunakan untuk menangani kekeringan hanya Rp 280 juta,” kata Purwita menjelaskan.

Anggaran itu akan digunakan untuk droping air bersih dan bekerjasama dengan PDAM. Sedankan penyalura akan bersinergi dengan BPBD daerah yang mengetahui daerah mana saja yang perlu diprioritaskan sesuai kebutuhan.

Saat ini BPBD Jateng masih koordinasi pemetaan ancaman kekeirngan dan kebakaran hutan dan pendataan di tingkat kabupaten dan kota. Sampai saat ini data daerah rawan kekeringan yang baru saja diterima delapan kabupaten dan kota.

Namun jika melihat tahun lalu, sebenarnya ada 33 kabupaten yang terdampak kekeringan. Biasanya berdasarkan pengalaman tahun lalu, daerah tersebut diantaranya di daerah Kabupaten Rembang, Blora, Wonogiri, Pati, serta sejumlah daerah di bagian utara dan timur Jateng.

“Sedangkan untuk daerah di bagian selatan dan barat, daerah yang rawan kekeringan ada di Banjarnegara, Purbalingga dan Banyumas. Kemudian utara bawah ada di daerah Brebes, Pemalang dan seterusnya. Namun pada tahun kemarin daerah yang terdampak kekeringan paling banyak ada di daerah Rembang” kata Purwita menjelaskan.

Kepala Seksi Data dan Informasi Stasiun Klimatologi Kelas 1 Semarang, Iis Widya Harmoko mengatakan, saat ini sudah ada sebagian daerah masuk dalam musim kemarau.

“Hanya ada beberapa daerah, terutama di pegunungan tengah perbatasan antara Gunung Slamet baik di sisi  utara maupun selatan masih belum masuk musim kemarau,” kata Widya.

Meski ia menjelaskan untuk daerah lainya sudah hampir masuk musim kemarau sejak April, Mei dan Juni yaitu di wilayah Rembang, Blora Gunung Muria, Wonogiri dan Brebes.

Ia mengaku tahun ini musim kemarau kategori basah yang artinya masih ada hujan saat musim kering. Sedangkan yang disebut kemarau jika akumulasi hujan dalam waktu 10 hari di bawah 150 mili.

“Tahun ini cenderung lebih basa  karena berdasarkan perkiraan dinamika atmosfer menunjukan kecendrunagan akan berpotensi hujan di wilayah Jateng, yang mengakibatkan hampir normalnya,” kata Widya menjelaskan. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here