BERBAGI
Tugu Sidandang di Dukuh Gilisari , Keluharan Purwosari, Kecamatan Mijen

Pemerintah Kota Semarang diharapkan kembali memperhatikan kondisi Tugu Sidandang dan menghidupkan kegiatan di sana. Hal itu sebagai upaya nguri-uri budaya di daerah setempat


Serat.id – Tugu Sidandang yang terletak di Dukuh Gilisari RT 3 RW 1, Keluharan Purwosari, Kecamatan Mijen, kondisinya kian memprihatinkan.

Tak banyak orang yang tahu mengapa tugu berbentuk dandang tersebut dibangun di kawasan pinggiran Kota Semarang, jauh dari hiruk pikuk, dan dikelilingi hamparan sawah.  

Di dinding Tugu Sidandang itu tertulis 1996, tahun didirikannya tugu yang diresmikan oleh Wali Kota Semarang saat itu, Soetrisno Soeharto.

Saat Serat.id berkunjung ke Tugu Sidandang nampak semak belukar dan terkesan tak terawat. Tugu itu menjadi sasaran aksi vandalisme. Tak hanya itu, tugu tersebut mulai terkikis dan telihat ada lubang menganga. Hal itu menambah kesan kondisi tugu kian memprihatinkan.

Tokoh masyarakat Dukuh Gilisari, Karyadi menceritakan, nama Sidandang berasal dari sumber mata air (tuk) yang letaknya tak jauh dari Tugu Sidandang.

Menurut dia, sumber air tersebut memiliki ciri khas, seperti suara gemericik antara uap dan air saat orang menanak nasi menggunakan dandang (periuk besar untuk mengukus nasi, biasanya dibuat dari tembaga atau aluminium). 

Nah, dari ciri khas suara sumber air itulah nama Sidandang diambil,” ungkap Karyadi kepada Serat.id, Jumat (10/7/20).

Baca juga : Sungai Gondorio Punya Curug dan Goa Dengan Arca Misterius

Cerita Hilangnya 108 Candi di Kawasan Dieng

Menguak Misteri Tempat Ibadah Umat Hindu Abad IX di Kebun Durian

Ia menjelas, sumber mata air tersebut dahulu sering dimanfaatkan warga untuk memenuhi kebutuhan mereka, seperti mandi, minum, mencuci, dan mengairi sawah warga sekitar Dukuh Gilisari.

Kini sumber air Sidandang tak mengalir deras seperti dahulu. Warga pun beralih menggunakan air PDAM yang disediakan oleh pemerintah.

“Karena tak seperti dulu, kami sekarang pakai air PAM,” ucapnya.

Karyadi mengungkapkan, tugu itu menjadi ikon warga Kampung Gilisari. Ditambah Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang pada waktu itu membuat proyek Agrowisata Sodong di Kelurahan Purwosari, di mana Tugu Sidandang akan dijadikan destinasi wisata.

Kawasan Tugu Sidandang itu cukup luas dan dilengkapi area teater sehingga bisa digunakan untuk berbagai pertunjukan kesenian.

Kala itu, kata dia, pertunjukan wayang dan hajatan kampung kerap digelar di kawasan tugu.

“Dulu, tempat ini ramai, sering dipergunakan untuk kegiatan,” ujar Karyadi mengingat masa kejayaan Tugu Sidandang.

Namun, saat terjadi krisis ekonomi pada 1998 berdampak pada pemangkasan dana. Hal itu membuat proyek Agrowisata Sodong terhenti.

Tak adanya kegiatan kesenian dan hajatan warga sekitar membuat Tugu Sidandang tak terurus.  “Jadi sepi. Setelah itu tidak ada kegiatan lagi sampai sekarang,” tuturnya.

Selang 20 tahun setelah projek agrowisata terhenti, Tugu Sidandang direnovasi pada tahun 2018. Namun tak bertahan lama, tembaga lapisan luar tugu itu dicuri sehingga membuat dandang berlubang di beberapa bagian.

“Sempat ada perbaikan, tapi ada tangan jahil yang mencuri tembaga di badan tugu. Hingga kini belum direnovasi lagi,’’ jelasnya.

Karyadi berharap Pemerintah Kota Semarang memperhatikannya dan menghidupkan kembali kegiatan di Tugu Sidandang seperti dulu. “Ya, keinginan kami ada kegiatan lagi di sini, buat nguri-nguri budaya,” pungkasnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here