BERBAGI

Booming menggowes yang terjadi pada akhir-akhir ini memang menguntungkan para perakit dan penjual sepeda. Penjualan sepeda naik hingga 300 persen dalam empat bulan terakhir dengan perputaran mencapai ratusan juta rupiah.

[Ilustrasi] Gowes di Kota Semarang. (Serat.id/A. Arif)
[Ilustrasi] Gowes di Kota Semarang. (Serat.id/A. Arif)

Serat.id- Hari Minggu seakan menjadi hari istimewa bagi Sarman, seorang pedagang sepeda bekas di Barito Baru, kawasan pasar relokasi MAJT Sambirejo Kota Semarang. Pria berusia 56 tahun itu tak mau menyia-nyiakan hari libur ahkir pekan itu untuk menyambut pembeli.

Meski diakui pembeli sepeda datang saban hari, namun hari Minggu lebih ramai dibanding hari biasa. “Mungkin karena libur. Jadi orang bebas meluangkan waktu untuk memilih sepeda,” kata Sarman, kepada serat.id, Minggu awal Juli lalu.

Sarman tampak bersemangat menyambut pagi mengeluarkan sepeda bekas yang sebelumnya ia perbaiki ulang. Maklum, selama pandemi Covid-19 saat orang menghadapi situasi sulit, ia justru merasa diuntungkan dengan berjualan sepeda bekas.

Keuntungan besar ia rasakan sejak tiga bulan terakhir. Sarman mengakui pandemi Covid-19 mengubah pendapatannya sebagai penjual sepeda bekas.

“Selama pandemi Covid-19 ini malah menjadi berkah buat saya. Penjualannya bisa sampai puluhan unit. Bahkan kuwalahan karena sering kehabisan stock,” kata Sarman menjelaskan.

Menurut dia usaha yang ia geluti sepuluh tahun lalu, baru tahun kali ini merasakan penjualan yang luar biasa. Jika dalam sehari Sarman hanya bisa menjual tiga sampai lima unit sepeda, selama pandemi Covid-19 ia bisa menjual 20 unit sepeda dalam satu hari.

Harga sepeda bekas yang ditawarkan di tokonya bervariasi mulai dari ratusan ribu hingga jutaan rupiah tergantung kualitas barang.

“Untuk harga itu memang berbeda-beda itu tergantung dengan kondisi, model, dan seri yang ditawarkan,” kata Sarman menjelaskan.

Baca juga: Nggowes, Menghilangkan Rasa Bosan dan Tekanan

Tertinggi ia menjual sepeda yang sebelumnya ia rakit ulang itu mencapai Rp3,5 jutaan. Sayangnya di tengah tingginya pembeli saat ini ia mulai kebingungan mencari sepeda bekas yang hendak ia produksi ulang, karena tidak banyak orang yang mau menjual sepedanya.

“Sekarang itu banyak yang tidak mau menjual sepedanya. Mungkin lagi musim sepedaan,” katanya.

Panen keuntungan di tengah pandemi juga dirasakan, Daronjin. Pria berusia 41 tahun, perakit sepeda sejak 2013 itu mengaku kewalahan dengan pemesanan sepeda yang dirasakan akhir-akhir ini.

“Ada peningkatan pemesanan sepeda. Saya bersyukur pandemi Covid-19 membawa berkah,” kata Daronjin.

Daronjin sendiri adalah perakit sepeda penny-farthing atau yang biasa disebut sepeda roda tinggi. Sepeda ini merupakan jenis sepeda yang tak lazim. Memiliki ciri khas roda bagian depan besar, sementara bagian belakang berukuran kecil. Secara historis sepeda ini muncul dari Inggris pada 1860 dan mulai terkenal pada 1880.

“Saya merakit sepeda-sepeda unik, seperti penny-farthing dan sebentar lagi merakit sepeda model trycycle,” kata Daronjin menjelaskan.

Pria yang kerap mengenakan blangkon itu bercerita harga sepeda hasil karya dibanderol mulai Rp10 juta hingga puluhan juta. Bahkan, salah satu rakitannya laku hingga Rp40 juta.

Baca juga: Uji Nyali Penggowes yang Merindukan Jalur Khusus

“Kemarin ada pengusaha asal Semarang yang tinggal di luar negeri pesan. Saya buatkan edisi khusus, harganya Rp40 juta. Tidak nawar,” katanya.

Keberuntungan yang ia rasakan saat ini seakan menutup jerih payah merintis usaha tersebut. Daronjin sejak dulu memang menyukai sepada yang unik, kemudian pada akhir 2013 ia memulai merakit. Sepeda yang ia buat menyesuaikan standar masyarakat Indonesia dengan model roda depan berukuran 44 inci.

Saat ini, karyanya sudah banyak diminati mulai dari komunitas, kolektor hingga pejabat. Sejumlah orang penting pernah membeli sepeda rakitannya di antaranya Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo saat momentum kegiatan Ontel Kebangsaan yang digelar 23 Desember 2018.

Tak hanya itu, pertengahan 2014 lalu, salah satu pensiunan jenderal asal Bogor, Jawa Barat bernama Letjend (Purn) Suyono juga membeli produknya sekaligus mendukungnya.

”Saat itu pak Suyono ke Semarang. Kemudian ia diajak ajudannya untuk melihat lihat sepeda unik di Semarang, akhirnya ditunjukkanlah ke sini,” kenangnya.

Baca Juga: Sepeda Koleksi Ganjar, Klasik Rangka Kayu Hingga Balap

Daronjin juga dipercaya membuat sepeda penny-farthing sebagai hadiah utama acara bertaraf dunia yakni, International Veteran Cycle Association (IFCA) di Bali yang digelar April 2018 saat Indonesia menjadi tuan rumah.

Salah satu raja dari Ubud, Bali juga membeli sepeda rakitannya. Raja tersebut mendukung supaya terus disempurnakan.

“Akhirnya saya terpacu melakukannya,” kata Pria yang juga tergabung dalam Komunitas Sepeda Tua Indonesia (Kosti) Korwil Semarang itu.

Ia mengaku proses perakitan satu sepeda penny-farthing membutuhkan waktu sekitar tiga sampai enam bulan, tergantung tingkat kesulitan. Tercatat tak kurang hampir 100 unit sepeda sudah dihasilkan sejak awal merintis hingga sekarang.

Di tengah pandemi ini pemesan sepeda ke Daronjin harus menunggu, karena orderan sudah penuh sampai akhir tahun 2020. ”Saya mencoba menggabungkan beberapa model sepeda penny-farthing dari sejumlah negara seperti Inggris, Amerika Serikat, Belanda supaya hasilnya lebih detail,” katanya.

[Videografis] Gowes, Hilangkan Rasa Bosan dan Tekanan

Pendiri Komunitas WindBike, Jawa Barat Dian Wahyu Puspitasari, mengakui booming mengowes yang terjadi pada akhir-akhir ini memang menguntungkan para perakit dan penjual sepeda.

“Ini menjadi berkah. Tak ada yang menyangka pandemi ini menjadi salah satu pintu rezeki bagi penjual sepeda,” kata Dian.

Ia menyebut penjualan sepeda naik hingga 300 persen dalam empat bulan terakhir dengan perputaran setiap bulan mencapai ratusan juta rupiah.

“Untuk toko skala kecil saja dalam sehari bisa mencapai Rp20 jutaan. Apalagi toko besar. Hitung saja berapa pemasukannya dalam sebulan, Rp20 juta dikalikan 30 hari,” kata Dian yang juga membuka cabang WindBike di Kabupaten Kendal.

Ia menyayangkan tingginya animo publik yang minat sepeda tak imbang dengan produksi sepeda dalam negeri yang masih terbatas. Padahal, kata Dian, kualitas merk sepeda lokal tidak kalah dengan luar negeri.

“Malah sekarang jadi primadona. Untuk harganya antara Rp8 juta hingga Rp10 juta. Namun yang terjadi high demand banyak permintaan supply kurang,” katanya. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here