BERBAGI

Berharap pemerintah memperhatikan pesepeda dapat ruang memanfaatkan moda yang mereka kayuh yang jumlahnya semakin banyak.

Serat.id- Riu Danar terpaksa menghentikan sepeda saat sebuah bus kota berhenti mendadak dengan cara memotong arah jalan sepeda yang ia kayuh. Saat itu kejadian sore hari ketika perjalanan pulang dari tempat kerjanya di kawasan Mangkang, Kota Semarang.

[Ilustrasi] Gowes di Kota Semarang. (Serat.id/A. Arif)
[Ilustrasi] Gowes di Kota Semarang. (Serat.id/A. Arif)

“Antara jam empat sore, pulang kerja ada bus kota yang memotong karena mengambil penumpang,” kata Danar, menceritakan salah satu kisah saat hendak bertabrakan dengan angkutan umum ketika bersepeda.

Kejadian seperti yang ia alami juga dirasakan oleh rekannya lain yang tergabung dalam Komunitas sepeda lipat semarang (Komselis). Danar mengaku kejadian itu terjadi tahun 2013, saat ia masih bekerja di dalam Kota Semarang.

Baca juga: Sepeda Koleksi Ganjar, Klasik Rangka Kayu Hingga Balap

Pengalaman tak mengenakkan di jalan raya seperti yang ia alami itu sudah sering terjadi di Kota Semarang hingga sekarang.

“Sering kami terpaksa mengalah lebih baik berhenti sejenak,” kata Danar menambahkan.

Menurut Danar, sikap ugal-ugalan antara pengguna moda transportasi lain jelas dilarang dalam peraturan pemerintah nomor 22 tahun 2009 tentang lalulintas, yang mengatur agar pengguna jalan tetap menghormati pesepeda dan pejalan kaki.

Kejadian yang dialami itu menjadi alasan ia dan para pesepeda lain di Kota Semarang ingin ada jalur khusus bagi mereka. Apalagi bagi masyarakat yang saban hari menggunakan moda gowes itu untuk bekerja.

Baca jua: Meraih Untung di Tengah Booming

“Termasuk jangka panjang untuk anak-anak sekolah yang usianya belum cukup untuk mengendarai sepeda motor,” kata Danar menjelaskan.

Jalur sepeda di Kota Semarang dinilai penting, ia berharap pemerintah memperhatikan pesepeda dapat ruang memanfaatkan moda yang mereka kayuh yang jumlahnya semakin banyak. Meski sebenarnya Pemkot Semarang telah menyediakan jalur khusus sepeda sebelum booming para pengowes di tengah masa pandemi.

Namun jalur itu berubah fungsi untuk parkir karena pengguna sepeda sebelumnya cenderung sedikit.

Dirjen Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan, Budi Setiyadi, saat webinar bertema “Pesepeda : Mengatur, Diatur dan Teratur” pada Selasa, 7 Juli pekan lalu mengatakan sedang menginventarisir penyiapan lajur sepeda.

Baca juga: Nggowes, Menghilangkan Rasa Bosan dan Tekanan

Bahkan Budi mengaku tahun 2021 nanti direncanakan anggaran khusus untuk jalur sepeda di sejumlah daerah.

“Karena ini sebuah kebutuhan, jadi ada anggaran akan didedikasikan di beberapa daerah yang memungkinkan bisa menganggarkan membuat lajur sepeda di jalan nasional,” kata Budi.

Menurut Budi, jalur khusus itu akan dimasukkan dalam peraturan menteri perhubungan khusus tentang pesepeda. Ia menjelaskan secara detail beragam sepeda digunakan di jalan, baik di gunung termasuk di jalan raya.

“Nanti kita akan siapkan fasilitas pendukung yang disiapkan, mungkin jalurnya menyangkut juga untuk masalah parkirnya,” kata Budi menjelaskan.

Sejumlah poin yang akan dimasukkan dalam peraturan menteri itu meliputi persyaratan teknis sepeda serta tata caranya, termasuk fasilitas pendukung sepeda.

Baca juga: Meraih Untung di Tengah Booming

Pakar transportasi Universitas Katolik Soegijapranata Semarang, Djoko Setijowarno menilai risiko kecelakaan pesepeda di Kota Semarang tinggi, saat jalan raya tak banyak yang ada fasilitas jalur khusus bagi mereka.

Djoko menyarankan, sejumlah rekomendasi jalur sepeda yang sesuai dengan fungsi dan kegunaan. Di antaranya Bike Path yang tidak berbagi ruas wilayah dengan pergerakan kendaraan lain, dapat bersama atau terpisah dengan pejalan kaki.

“Biasanya jalur diperkeras dengan semen atau paving dengan lebar 1,5 meter. Jalur itu lokasinya dapat dibangun di sepanjang tepi jalan raya jika lebar jalan memungkinkan, sepadan sungai atau jalur inspeksi, serta jalur hijau rel kereta api atau urban park connector,” kata Djoko Setijowarno.

Selain itu juga jenis Bike Lane, yang berbagi ruas wilayah dengan pergerakan kendaraan lain dan pergerakan manusia, bertumpangan dengan ruas jalan atau jalur pedestrian. Menurut Djoko, jika lebarnya lebih dari enam meter, rapi, jalur pedestrian dapat digunakan untuk pejalan kaki dan sepeda. Jika tidak, lajur sepeda di tepi kiri jalan, dicat selebar 1,5 meter, warna tegas.

“Saya rekomendasikan dengan warna hijau,” ujar kata Djoko menjelaskan.

Djoko menyebut rute sepeda bike route yang biasa dikembangkan di kawasan perumahan, perkantoran, terpadu. Di jalur sepeda yang ia sebut itu cukup dipasang rambu dan marka sepeda untuk petunjuk pesepeda di titik-titik strategis, seperti persimpangan jalan, bangunan yang menyediakan parkir sepeda. Untuk jalur yang ia sebutkan itu perlu memperbanyak penyediaan parkir sepeda yang berkualitas.

“Penyediaan parkir sepeda, baik parkir sepeda gratis atau sewa, seperti di sekolah, kampus, stasiun, pasar, pusat perbelanjaan, perkantoran, tempat ibadah dan tempat rekreasi,” katanya.

Tak hanya itu, di sini diperlukan penyediakan informasi terkini tentang sejumlah lokasi parkir sepeda yang ada dan yang akan dibangun. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here