BERBAGI
Ilustrasi, pixabay.com

Mendongeng bisa menjadi penguat ikatan batin antara orang tua dan anak. Selain itu, bisa menjadi media untuk menyampaikan nasihat yang mengasyikkan


Serat.id – Budaya mendongeng kini banyak ditinggalkan. Tak banyak orang tua yang meluangkan waktunya menyampaikan nasihat dan motivasi kepada anaknya melalui dongeng.

Dahulu, dongeng menjadi asupan anak-anak tiap hari, baik sebelum tidur atau dalam situasi tertentu.

“Saat ini, jika anak rewel, ada orang tua yang mengasih buah hatinya ponsel. Yang penting anak diam. Jika hal ini terus-terusan dipertahankan maka akan menjadi budaya yang kurang baik bagi anak-anak,’’ kata Abdul Rahman, pegiat dongeng asal Pati.
Pria yang akrab disapa Kak Roh itu menerangkan, dongeng itu semacam nasihat dan motivasi tanpa terkesan menggurui.

Baca juga : Hidupku untuk Masa Depan Anakku

Live Streaming: Imunisasi, Penuhi Hak Anak di Masa Pandemi

Live Streaming: Imunisasi, Penuhi Hak Anak di Masa Pandemi

Dulu, orang tua gemar mendongeng untuk anak-anak. Sebab, mereka tahu manfaat dongeng. Sekali menancap, cerita yang disampaikanakan sulit dilupakan. Bahkan bisa memberikan kesan yang mendalam dan menjadi motivasi anak hingga mereka dewasa.
“Sejatinya dongeng menjadi asupan gizi bagi pembentukan pikiran, jiwa, dan memperkuat secara emosional. Nilai-nilai positif yang terkandung dalam sebuah dongeng menjadi pengantar setia meraka meraih kesuksesan,” imbuhnya.


Cerita Positif

Dengan mendapat cerita positif itu anak bisa menjadi lebih fresh. Tentu imajinasi anak akan membumbung tinggi hingga memengaruhi aktivitas harian mereka akan sosok karakter baik atau jagoan dalam dongeng itu.

Dia mengatakan, berkat dongeng, anak bisa belajar dan menghindari sesuatu yang tidak baik. Misalnya, kata dia, tak akan mencontoh kelicikan tokoh jahat dalam cerita.
“Yang paling penting dari budaya dongeng adalah menjadi penguat ikatan batin antara orang tua dan anak,” ungkapnya.
Menurutnya, sebagian besar orang-orang hebat bermula sejak kecil orang tuanya selalu memberikan dongeng.

Dia mencontohkan, Presiden pertama RI, Ir Soekarno yang semasa kecil sering didongengin ibundanya tentang kehebatan tokoh Bima dalam pewayangan.  
“Soekarno kecil sangat tertarik dengan cerita itu. Hingga terinspirasi untuk menjadi sosok pahlawan seperti Bima yang membantu sesama dan bisa mengalahkan kejahatan. Maka, beliau pun menjadi seorang pahlawan hebat Indonesia,” terangnya.
Dia menceritakan, pengalaman istrinya saat mengajar les privat perempuan berusia 7 tahun yang belum bisa membaca.

Istrinya lalu membeli buku cerita bergambar. Buku itu diberikan kepada muridnya. Setiap anak itu belajar wajib membawa buku tersebut. Sebelum memulai pembelajaran, istri Kak Roh membacakan dongeng tersebut.
“Berawal dari pembacaan dongeng, anak itu makin penasaran. Hingga akhirnya, anak tersebut rajin belajar membaca supaya bisa membaca buku dongeng sendiri. Alhamdulillah sekarang anak itu sudah bisa membaca dengan lancar,” jelasnya. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here