BERBAGI
Subagyo memilah-milah batu di pinggir Jalan Panjang, Manyaran, Kota Semarang. Serat.id/ Praditya Wibby

Setelah digusur, Subagyo dan istrinya, terpaksa tidur di bawah pohon pisang menggunakan dipan beratap MMT

Serat.id – Terik sepanjang hari tak menyurutkan Subagyo (78) bekerja memilah-milah batu kali yang baru saja diterima dari pemasok.

Meski hanya memiliki satu tangan, dia cekatan memilah batu yang masih tercampur pasir di pinggir Jalan Panjang, Manyaran, Kota Semarang. 

“Yang kecil ini namanya grapel, yang sedang itu “jagung”. Biasanya buat taman, terus yang besar lagi buat hiasan atau tekstur tembok,” katanya kepada Serat.id.

Baca juga : Kisah Pilu Pekerja Rumah Tangga di Tengah Pandemi

Kisah Cap Jempol di Kertas Kosong Menghilangkan Tanah Mbah Sumiatun

Kisah Dokter Jalanan Melibas Macet Demi Pasien

Dia mengatakan, batu tersebut dijualnya per rit (satu mobil pickup) seharga Rp 1 juta. Tetapi transaksi itu belum tentu dirasakan Subagyo setiap bulannya. 

Sebelumnya, dia bekerja sebagai pencari batu berukuran sekitar 50 cm2 di Kali Garang. Pada tahun 1975 mengalami kecelakaan kerja.

“Saat saya dan teman-teman mengangkat batu, saya terpeleset. Tangan kiri saya tertindih batu tersebut,” ungkapnya. 

Dia menjelaskan, batu itu pesanan untuk sebuah proyek di Pelabuhan Tanjung Emas, Semarang. Batu itu akan digunakan untuk membuat pemecah ombak.

“Setelah kecelakaan, tangan saya masih bisa digunakan untuk bekerja. Namun, dua tahun kemudian tangan saya ini bengkak dan berdarah. Lalu dokter menganjurkan untuk diamputasi,” terangnya. 

Saat ini Subagyo tinggal bersama istri di gubuk tanpa kamar mandi di Manyaran atau sekitar 10 meter dari tempat kerjanya.

Gubuk tersebut dibangun sendiri oleh Subagyo setelah rumahnya yang berada di bantaran Sungai Banjirkanal Barat digusur Pemerintah Kota Semarang karena kali itu akan dinormalisasi.

“Saat digusur saya diberi uang Rp 500 ribu sebagai ganti rugi. Kalo gak salah sekitar tahun 1995,” jelasnya. 

Istri Subagyo menambahkan, setelah digusur mereka tidur di bawah pohon pisang menggunakan dipan beratap MMT.

“Kalau hujan, sebelum tidur tubuh, saya bungkus menggunakan plastik biar tidak basah,” katanya. 

Dia mengatakan, kini untuk keperluan mandi dirinya menumpang di tempat indekos di dekat gubuknya. Begitu untuk aliran listrik diambil dari rumah indekos tersebut. ”Karena saya sering bersih-bersih di sana,” terangnya. 

Terpisah, Erick Christian dari Semarang Peduli mengungkapkan, dirinya pernah menggalang dana untuk membantu Subagyo dan istri.

“Hasil penggalan dana itu saya belikan televisi dan sejumlah uang untuk Subagyo,” katanya. (*) 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here