BERBAGI
Ilustrasi pixabay.com

AJI Jakarta tidak memiliki hubungan apa pun dengan media Law-Justice dan media online itu juga bukan di bawah nauangan AJI. Kendati demikian, AJI Jakarta terus memperjuangkan kemerdekaan pers

Serat.id – Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Jakarta mengecam tindakan intimidatif dan kekerasan yang diduga dilakukan Kepala Subdirektorat Media dan Humas Kejaksaan Agung Muhammad Isnaini terhadap jurnalis Law-Justice, Ricardo Ronald.

Hal itu dikemukaan Ketua AJI Jakarta Asnil Bambani dalam siaran pers, 23 Juli 2020. Dia mengatakan, peristiwa tersebut terjadi, Kamis (16/7/2020). Mulanya, jurnalis Law-Justice Ricardo Ronald melakukan peliputan berupa doorstop kepada Kepala Pusat Penerangan Hukum Kejaksaan Agung Hari Setiyono sekitar pukul 16.00.

Seusai kegiatan tersebut, sekitar 16.20, Ronald menemui Hari dan langsung memperkenalkan diri. Hari saat itu didampingi dua pejabat Puspenkum lainnya. Salah satunya, Kepala Subdirektorat Media dan Humas Puspenkum Kejaksaan Agung Muhammad Isnaini.

”Tiba-tiba, perkenalan Ronald direspons dengan nada tinggi oleh Isnaini. Isnaini kemudian memukul Ronald. Lalu, merangkul Ronald untuk dibawa ke ruang tamu Pusat Penerangan Hukum Kejaksaan Agung. Namun Isnaini menganggap itu merupakan bentuk keakraban,” katanya.

Baca juga : AJI Indonesia Kembali Serukan Jurnalis meningkatkan Keselamatan

Dugaan Aliran Duit Judi ke Wartawan, AJI Bojonegoro : Harus diusut…

Sering Terulang, AJI Jakarta Minta Pelaku Doxing Jurnalis diusut

Di kursi ruang tamu ruang Puspenkum, Ronald mengaku dicecar Kapuspenkum Hari Setiyono. Ronald mengaku medianya di bawah nauangan AJI. Ronald baru ke luar dari ruangan itu pukul 17.20.

Dia mengaku mendapat perasaan takut setelahnya. Itulah sebabnya, dia baru melaporkan masalah tersebut ke redaksi Law Justice pada Rabu (22/7).

Perlu ditegaskan, kata dia, AJI Jakarta tidak memiliki hubungan apa pun dengan media Law-Justice dan media online itu juga bukan di bawah nauangan AJI. Kendati demikian, AJI Jakarta terus memperjuangkan kemerdekaan pers.

AJI Jakarta menilai, Kejaksaan Agung sebagai aparat penegak hukum telah menjadi tempat tindak pidana kekerasan terhadap jurnalis. Tindakan Isnaini terhadap Ronald adalah penganiayaan yang melanggar pasal 351 Kitab Undang-undang Hukum Pidana.

Isnaini juga tidak mengindahkan Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers. Pasal 4 UU Pers mengatur bahwa pers nasional berhak mencari, memperoleh, mengolah, dan menyebarluaskan informasi. Sementara, pasal 18 mengatur bahwa setiap orang yang menghambat atau menghalangi kerja jurnalistik dapat dijerat ancaman pidana maksimal dua tahun penjara atau denda paling banyak Rp500 juta.

Atas dasar itu, kata Ketua Divisi Advokasi AJI Jakarta Erick Tanjung, pihaknya mendesak Jaksa Agung Sanitiar Burhanuddin segera memproses tindakan pejabat terkait secara tuntas dengan mengacu pada ketentuan hukum yang berlaku.

Kemudian, kata dia, mendesak media Law-Justice memberikan jaminan perlindungan serta pendampingan hukum terhadap korban sejak di kepolisian hingga ke pengadilan. ‘’Mendesak kepolisian mengusut tuntas kasus kekerasan terhadap jurnalis Law-Justice dan kasus-kasus kekerasan jurnalis lainya,’’ katanya. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here