BERBAGI
Riyat saat sedang memasak di rumahnya, Desa Genting, Kecamatan Jambu, Kabupaten Semarang.

Alih-alih membangun rumah, untuk biaya hidup saja tak cukup. Dari hasil berjualan bubur, Riyati hanya mendapat keuntungan Rp 10 ribu per hari

Serat.id – Malam itu, Riyati, warga Desa Genting, Kabupaten Semarang, terbangun dari tempat tidurnya.

Ia bergegas ke rumah tetangganya untuk mengambil air wudu. Ia lalu menggelar sajadah di lantai tanah. Dalam keheningan malam itu, ia bersimpuh kehadirat Tuhan. Meminta pertolongan agar dimudahkan perjalanan hidupnya.

“Hampir tiap malam saya menangis, sedih. Tidak tega melihat anak saya,” keluh janda itu kepada Serat.id, Sabtu (25/7/2020). 

Baca juga : Minim Perlindungan dan Miskin

Jateng Terjunkan Seluruh SKPD ke Desa Miskin

Dompet Dhuafa Sasar Pemberdayaan Masyarakat Miskin 100 Desa

Betapa tidak? Di sebuah rumah sederhana yang lebih mirip gubuk itu, ia tinggal dengan penuh keterbatasan bersama anaknya semata wayangnya.  

Di rumah berdinding anyaman bambu itu, ia harus berbagi tempat tidur dengan anaknya karena hanya memiliki satu dipan. Tak hanya itu, untuk keperluan mandi, cuci, dan kakus (MCK) dia harus menumpang ke rumah tetangganya.

Sebelumnya, Riyati dan anaknya tinggal bersama saudarnya. Tempatnya tak jauh dari tempat tinggalnya saat ini. Namun, karena sempar terjadi selisih paham, akhirnya Riyati diusir dari rumahnya saudaranya. 

“Ya di rumah saudara saya kan dihuni orang banyak, jadi ada kalanya berselisih pamah,” ujarnya. 

Untuk menghidupi anaknya, berbagai usaha pernah ia geluti, mulai dari bekerja sebagai pembantu rumah tangga, tukang pijat, jual bakso hingga menjadi penjual bubur. Namun, usahanya itu masih belum bisa mencukupi kebutuhan sehari-hari. 

Alih-alih membangun rumah, untuk biaya hidup saja tak cukup. Dari hasil berjualan bubur, Riyati hanya mendapat keuntungan Rp 10 ribu per hari.  “Mau bagaimana lagi, sudah usaha tapi masih saja belum cukup,” terangya.  

Setelah Riyati diusir dari rumah saudarnya. Karena bingung, Riyati menyampaikan curahan hatinya kepada tokoh masyarakat setempat.

Karena tak tega, akhirnya tokoh masyarakat itu berinisiatif untuk membangun rumah sederhana untuk Riyati. 

“Saya bersyukur mempunyai tetangga yang baik dan perhatian. Semoga semuanya dibalas oleh Tuhan,” ucapnya. 

Hingga akhirnya, di tanah peninggalan orang tuanya, rumah sederhana Riyati dibangun oleh warga Dusun Wora Wari, Desa Genting, Kecamatan Jambu, Kabupaten Semarang secara bergotong royong. 

Untuk bahan baku pembangunan rumah Riyati, warga rela iuran Rp 25 ribu setiap kepala keluarga. Meski tidak seberapa, minimal Riyati sudah mempunyai tempat tinggal. 

“Dengan cara patungan. Setiap keluarga iuran Rp 25 ribu,” kata tokoh masyarakat Desa Genting, Jumadi saat ditemui di rumah Riyati. 

Setelah iuran terkumpul Rp 1 juta, malah muncul masalah  lain. Sebab, uang tersebut hanya cukup untuk membuat fondasi. 

“Baru membangunan fondasi uangnya sudah habis. Akhirnya, kami menarik iuran ke warga lagi,” imbuhnya.

Karena uangnya masih belum cukup, akhirnya warga bersepakat berutang kas uang tahlilan warga Genting. Adapun kas uang tahlilan tersebut sebesar Rp 7 ratus ribu. 

“Dari hasil gotong royong warga Genting, saat ini rumah Riyati sudah berdiri. Total dana yang terkumpul Rp 4 juta,” terangnya.(*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here