BERBAGI
Ilustrasi keberagaman kepercayaan (sumber: pixabay)
Ilustrasi keberagaman kepercayaan (sumber: pixabay)

Sujudan kecepit, diambil dari istilah di tradisi hitungan Jawa, bahwa malam Jumat Legi merupakan malam di antara atau dalam bahasa jawa kecepit dari dua malam sujudan

Serat.id – Ritual supit atau sujudan kecepit merupakan satu di antara beberapa ritual yang dilakukan penganut kepercayaan di Padepokan Wulan Tumanggal milik Perguruan Trijaya Kabupaten Tegal. Tepatnya di Desa Dukuhtengah, Kecamatan Bojong, Kabupaten Tegal.

“Kami merupakan salah satu organisasi penghayat kepercayaan yang memercayai Tuhan Yang Maha Esa,” kata Humas Padepokan Wulan Tumanggal Perguruan Trijaya, Bambang Permadi, kepada serat.id, Senin 27 Juli 2020.

Baca juga : Kampanyekan Toleransi, Sinta Nuriyah Sahur di Gereja Semarang

Pemotongan Pusara Salib, Pelita : Kami Menyesalkan Sikap Intoleransi

Sulitnya Mencari Penghidupan Bagi Mereka

Bambang menjelaskan, sujudan kecepit, diambil dari istilah di tradisi hitungan Jawa, bahwa malam Jumat Legi merupakan malam di antara atau dalam bahasa jawa kecepit dari dua malam sujudan wajib di Perguruan Trijaya, yaitu Kamis Kliwon dan Sabtu Pahing.

“Waktu Jumat Legi di tempat kami menjadi salah satu waktu terbaik untuk melakukan sujudan permohonan kepada Sang Pencipta,” kata Bambang menjelaskan.

Ritual itu dilakukan secara berkelompok di tengah malam hingga sepertiga malam atau sekitar pukul 03.00 – 04.00. Ritual ini dilakukan di Sanggar Pamujan, Perguruan Trijaya. Lokasi pasujudan berada di alam terbuka di lingkungan Padepokan Wulan Tumanggal.

Tercatat penghayat kepercayaan Perguruan Trijaya berdiri sejak 1966. Lembaga spiritual itu kini punya dua padepokan, yaitu Argasonya di Kota Tegal dan Wulan Tumanggal di Kabupaten Tegal. 

Selain di Kabupaten Tegal sebagai pusat organisasi ini, Perguruan Trijaya juga memiliki beberapa cabang di Indonesia seperti, Pemalang, Tegal, Brebes, Jakarta, Semarang, Yogyakarta, Karanganyar, Purwodadi dan Riau.

“Saat ini jumlah anggota aktif ada sekitar 300 an orang dan anggota tidak aktif mencapai 3 ribu orang,” kata Bambang menambahkan.

Sebelumnya pengurus Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Jawa Tengah mengunjungi padepokan tersebut pada Kamis 23 Juli 2020.  Ketua FKUB Jawa Tengah, KH Taslim Sahlan mengatakan kunjungan yang dilakukan silaturahmi kebangsaan.

“Kemarin kami ditemani kawan – kawan FKUB Kabupaten Kendal dan FKUB Kabupaten Tegal,” kata Taslim.

Ada tiga lokasi yang dikunjungi di hari yang sama, yakni ke rumah KH Mustamsikin, salah satu tokoh di Kaliwungu Kendal, Kemenag Tegal, dan Perguruan Trijaya.  

Dalam acara tersebut hadir Koordinator Persaudaraan Lintas Agama (Pelita), Setyawan Budi, mubaligh Saefullah A Farouq dari JAI Semarang, perwakilan Humanity First (HF) Indonesia, Anton Baskoro, perwakilan Gusdurian Peduli, Nuhab Mujtaba, dan Koordinator Gusdurian Unnes, Iqbal Alma GA. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here