BERBAGI
Korupsi suap
Korupsi suap, pixabay.com

Ada dugaan semakin tinggi jabatan yang diinginkan, biayanya akan semakin mahal.

Serat.id – Puluhan saksi pada sidang kasus jual beli jabatan PDAM Kudus mengaku telah membayar sejumlah uang mulai Rp 10 juta sampai Rp 65 juta ke Dirut PDAM untuk naik jabatan. Ada dugaan semakin tinggi jabatan yang diinginkan, biayanya akan semakin mahal.

“Saat ini ada 26 saksi yang telah mengakui. Untuk jumlahnya memang beda-beda menyesuaikan tingkat jabatan,” kata Asisten Pidana Khusus Kejaksaan Tinggi (Kejati) Jawa Tengah, Ketut Sumedana, Senin 27 Juli 2020.

Baca juga : Ketua DPRD Jateng disebut Dalam Kasus Suap DAK Kabupaten Kebumen

Didakwa Suap, Taufik Kurniawan : Itu Pengembalian Hutang

KPK Gelar Rekonstruksi Kasus Suap Bupati Jepara

Sumedana membuktikan dalam sejumlah nota pembayaran yang nilainya berbeda-beda. Beberapa dokumen transaksi pembayaran dari pihak yang diperas untuk transaksi jual beli jabatan di lingkaran PDAM Kudus sebagai bukti tindakan pidana suap.

“Sampai saat ini bukti-bukti telah terkumpul. Tidak hanya pengakuan para saksi melainkan juga ada bukti transaksi,” ujar Sumedana menambahkan.

Ia menduga adanya transaksi jual beli jabatan di PDAM Kudus karena struktur organisasi di perusahaan penyedia air minum itu yang belum memadai. Hitungan kejaksaan menunjukkan PDAM Kudus mempunyai sekitar 3 ribu pelanggan. Menurut dia, jumlah pelanggan tersebut sangat banyak jika dibandingkan jumlah Direksi PDAM Kabupaten Kudus hanya satu orang.

“Satu orang itu kurang, seharusnya ada tiga direksi,” katanya.

Dalam kasus itu Direktur PDAM Kudus Ayatullah Humaini dan pemilik Koperasi Simpan Pinjam (KSP) Mitra Jati Mandiri, Sukma Oni Irwadani ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus tangkap tangan suap PDAM Kabupaten Kudus. (*)  

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here