BERBAGI
Poniyem (80) warga Dusun Slamet RT 2 RW 8, Desa Meteseh, Kecamatan Boja, Kabupaten Kendal

Perjuangan hidup Poniyem begitu berat. Hidup sebatang kara dan tidak memiliki pekerjaan tetap. Untuk bertahan hidup dia berjualan daun singkong  dengan penghasilan Rp 3.000 per hari.

Serat.id – Malam itu, Poniyem (80) warga Dusun Slamet RT 2 RW 8, Desa Meteseh, Kecamatan Boja, Kabupaten Kendal, harus menahan buang air besar (BAB) hingga fajar.

Ya, Poniyem terpakasa menahan hajat lantaran di rumahnya tak ada kamar mandi. Sementara untuk BAB dia harus pergi ke sungai yang jaraknya sekitar 300 meter dari kediamannya.

Tak jarang, perutnya begitu kesakitan lantaran terlalu lama menahan sembelit.

Saat  fajar tiba, Poniyem bergegas ke sungai. Sembari menahan rasa sakit di perut, dalam keremangan itu dia menyusuri jalan setapak di lembah yang cukup terjal. Bagi sebagian orang, rute menuju sungai yang dilalui Poniyem mungkin terlihat berbahaya. Meski demikian, bagi Poniyem itu adalah pilihan satu-satunya.

Selain buang air besar, untuk mandi dan mencuci, Poniyem juga harus pergi ke sungai. Namun, tempatnya berbeda. Untuk mandi dan mencuci tempatnya lebih jauh, berjarak 500 meter dari rumahnya.

“Kalau malam-malam ya harus ditahan. Tidak apa-apa menahan rasa sakit dari pada digigit ular jika ke sungai pada malam hari,” jelasnya saat ditemui di rumahnya, Rabu (29/7/2020)  

Saksikan video : Kisah Poniyem, Hidup Terlunta-lunta Sebatang Kara Tanggung Jawab Siapa?

Baca juga : Balada Riyati Si Penjual Bubur Asal Genting

Minim Perlindungan dan Miskin

Penderitaan yang dirasakan Poniyem bukan baru satu dua hari saja. Ia sudah bertahun-tahun melakoninya, tepatnya sejak 1970. Sudah tak terhitung, berapa kali dia terpaksa menahan rasa sakit lantaran terlalu lama menahan sembelit.

Derita Poniyem tak sekadar persoalan ‘’belakang’’. Nenek yang hidup sebatang kara itu juga tidak memiliki rumah. Tempat tinggal yang ia huni sejak Maret 2020 itu merupakan hasil dari gotong royong warga sekitar. Masyarakat setempat merasa kasian dengan kondisi Poniyem yang tak punya rumah, tanah, dan keluarga itu.

Sementara untuk tanah yang digunakan untuk membangun rumah itu adalah milik Kumi’ati, warga Dusun Slamet.

Sebelumnya, ia juga menempati rumah di tanah milik orang lain. Namun, dia harus pindah karena pemiliknya menjual tanah tersebut ke pengembang properti untuk dijadikan akses masuk menuju perumahan.

“Harus pindah soalnya tanahnya sudah dijual oleh pemiliknya, ” ungkapnya.

Bertahan Hidup

Perjuangan nenek itu untuk bertahan hidup begitu berat. Betapa tidak? Hidup sebatang kara, ia tidak memiliki pekerjaan tetap. Bekerja serabutan dengan penghasilan yang sangat minim.

Pada musim kemarau, Poniyem pergi ke hutan untuk mencari kayu bakar. Saat musim panen padi, ia akan menjadi buruh tani atau dalam bahasa Jawa “nderep”.

Ketika musim panen padi selesai, ia juga mencari tanaman genjer dan daun singkong di sawah untuk dijual ke tetangga. Rata-rata penghasilannya dari berjualan daun singkong Rp 3.000 per hari.

“Ya pekerjaan saya ya seperti tidak tetap. Kadang kuli ketika panen padi kadang juga jual daun singkong dan genjer,” ujarnya.

Meski usianya sudah uzur, Poniyem tak ingin menyerah. Ia ingin terus bergerak. Ia meyakini sebuah falsafah Jawa, “ora obah ora mamah”. Jika tak bekerja dan berkarya, maka tak akan bisa hidup.

Baginya, keterbatasan bukan untuk diratapi namun untuk menguatkan daya diri tanpa harus berharap belas kasih orang lain. Itulah keyakinan Poniyem yang membuatnya sampai saat ini masih bertahan.

Poniyem berbincang dengan tetangganya di rumah

“Jika tak bekerja dan berkarya, maka kita tak akan bisa hidup. Kan saya hidup sendirian tidak ada yang menemani,” ucapnya.

Meski dalam Pasal 41 ayat (1) UU tentang Penanganan Fakir Miskin, Poniyem masuk dalam kategori tanggung jawab negara, tak membuatnya lantas berpangku tangan kepada pemerintah.

Jika ia hitung, selama hidup sendiri sejak 1970 ia hanya menerima bantuan satu kali dari pemerintah. Itu pun baru diberi ketika pada masa pandemi Covid-19 . Padahal, Poniyem sejak 2018 sudah mempunyai Kartu Keluarga Sejahtera (KKS).

“Tidak tau cara ngambilnya di mana, tidak pernah diberi tahu. Baru kemarin saya mendapatkan  bantuan paket sembako dari pemerintah karena pandemi Covid-19,” keluhnya. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here