BERBAGI
Sakuri (47), marbot Masjid Alhidayah, Jl Jolotundo II Kota Semarang mendapat bantuan gerobak.

Dengan penghasilan Rp 500 ribu per bulan, Sakuri, warga asal Pekalongan itu harus menghidupi istri dan dua anak yang masih sekolah di SMK

Serat.id – Malam takbiran Idul Adha tahun ini menjadi malam yang membahagiakan bagi Sakuri (47), marbot Masjid Alhidayah, Jl Jolotundo II Kota Semarang.

Dia mendapat bantuan gerobak “gilo-gilo” dari Semarang Peduli. Bantuan tersebut diberikan di kediamanya, (30/7). Dia menempati ruangan berukuran 4×7 meter yang merupakan dari bangunan masjid itu. “Saya sangat senang mendapat bantuan ini. Alhamdullilah,” katanya. 

Baca juga : Poniyem, Penjual Daun Singkong yang Terlunta-lunta

Kisah Poniyem, Hidup Terlunta-lunta Sebatang Kara Tanggung Jawab Siapa?

Balada Riyati Si Penjual Bubur Asal Genting

Dia menjadi marbot masjid sejak tahun 2007 atas rekomendasi remaja masjid. “Dulu saya beberapa kali ikut kegiatan di Masjid Alhidayah. Karena marbot yang sebelumnya berhenti bekerja, lalu para pemuda masjid merekomendasikan saya,” jelasnya. 

Dengan penghasilan Rp 500 ribu per bulan, warga asal Pekalongan itu harus menghidupi istri dan dua anak yang masih sekolah di SMK. 

Karena penghasilan itu tak mencukupi untuk memenuhi kebutuhannya, Sakuri juga bekerja serabutan. “Kalau ada yang mengajak kerja, apa aja ya saya mau,” katanya. 

Sebelum pandemi Covid-19, istri Sakuri berjualan gorengan di sekolah-sekolah. “Karena sekarang semua sekolahan ditutup, jadi istri jualan di depan rumah,” terangnya.

Meskipun secara materi belum mencukupi, namun Sakuri yang menjadi yatim piatu sejak kecil itu ingin mewujudkan impiannya membangun rumah untuk anak dan istrinya. 

“Meskipun kecil-kecilan ya ingin punya rumah sendiri untuk berteduh anak-anak saya,” tandas.

Erick Christian, Founder Semarang Peduli mengatakan, awalnya Tonek, jamaah Masjid Alhidayah dan anggota Semarang Peduli bercerita tentang kondisi Sakuri. 

“Tonek cerita Pak Sakuri sedang kesusahan secara materi karena pandemi ini. Biasanya kerja serabutan di proyek bangunan, tapi saat pandemi seperti ini nggak ada yang mengajak bekerja. Jadi satu keluarga hanya mengandalkan uang Rp 500 ribu itu,” katanya. 

Erick mengatakan, dirinya dan tiga anggotanya lalu berunding untuk menentukan bantuan yang berguna untuk Sakuri. 

“Setelah mengetahui Sakuri pernah berjualan buah segar, lalu saya dan tim menggalang dana lewat media sosial selama satu minggu dan terkumpul Rp 1.250.000. Lalu kami belikan gerobak seharga Rp 500 ribu dan sisanya kami berikan untuk modal usaha,” terang Erick. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here