BERBAGI
Ilustrasi kekerasan seksual
Ilustrasi kekerasan seksual

Selama pandemi KJHAM telah menerima puluhan laporan aduan masyarakat terkait kekerasan terhadap perempuan berupa Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) dan Kekerasan Seksual (KS)

Serat.id – Keadilan Jender dan Hak Asasi Manusia (LRC-KJHAM) menyebut kasus kekerasan terhadap perempuan di Jawa Tengah terus meningkat selama pandemi Covid-19. Ironisnya kondisi itu masih sedikit korban yang sadar untuk melaporkan.  

“Laporan kekerasan masih terus masuk ke kita apalagi KDRT itu yang banyak ” ujar Divisi bantuan hukum KJHAM, Lenny Ristiyani, Senin, 3 Agustus 2020.

Baca juga : Kekerasan Terhadap Perempuan di Jateng Terus Meningkat

Jumlah Kasus Kekerasan Terhadap Perempuan di Indonesia Miris

Saatnya Penyintas Kekerasan Seksual Bersuara

Ia menyatakan selama pandemi KJHAM telah menerima puluhan laporan aduan masyarakat terkait kekerasan terhadap perempuan berupa Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) dan Kekerasan Seksual (KS) sejak Maret 2020 hingga Juli 2020 kemarin.

Menurut Lanny, perempuan masih rentan menjadi korban kekerasan baik secara seksual, fisik maupun emosional dengan pelaku berasal dari orang terdekat seperti keluarga, suami atau pacar.

Ditambah dengan diberlakukannya Work Form Home (WFH) atau maraknya PHK selama pandemi. Hal tersebut menjadi faktor terjadinya kekerasan lantaran korban selama 24 jam bersama dengan pelaku kekerasan.

“Pelaku itu biasanya dari orang terdekat korban,”kata Lenny menambahkan.

Tercatat data yang dihimpun sejak Maret hingga Juli 2020 tecatat 33 kasus laporan yang masuk di KJHAM di antaranya kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) yakni 13 kasus, pelecehan seksual 11 kasus, perbudakan seksual 9 kasus dan kekerasan dalam pacaran (KDP) 1 kasus.

Lenny menyebut kekerasan terhadap perempuan seperti fenomena gunung es yang hanya terlihat sedikit dipermukaan. Namun sebenarnya banyak kasus yang tidak terungkap atau dilaporkan. ” Masih sedikit korban yang sadar untuk melapor atau melakukan konseling,” kata Lenny menjelaskan.

Ia berharap jika terdapat korban kasus KDRT atau KS korban bisa melakukan konseling agar tidak menimbulkan trauma ditengah kondisi pandemi. Selama Pandemi lembaganya hanya melakukan konseling online tapi untuk kasus yang darurat ada juga tetap tatap muka. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here