BERBAGI
Joko Agus Satrio sedang melukis di rumahnya Kampung Malangsari II RT 9 RW 7 Kelurahan Tlogosari Kulon, Kota Semarang.

Dalam sehari Joko Agus Satrio mampu menyelesaikan sepuluh lukisan bertema patriotisme.Dia memilih melukis berkisah kepahlawanan untuk menumbuhkan jiwa kebangsaan generasi muda.

Serat.id – Ada banyak cara untuk menumbuhkan jiwa kebangsaan kepada generasi muda pada masa pandemi Covid-19 ini.

Salah satunya melalui lukisan. Hal itulah yang dilakukan Joko Agus Satrio (54), seniman asal Semarang.

Dia melukis tema pratriotisme, seperti pertempuran lima hari di Semarang, Sultan Agung Raja Mataram saat menyerang Belanda di Batavia pada tahun 1628 dan lainnya.

Agus, panggilan akrab Joko Agus Satrio mengatakan, selama di rumah pada masa pendemi Covid-19 ini, dia fokus melukis dengan tema kepahlawanan atau pratriotisme. 

’’Ini untuk menanamkan jiwa kebangsaan kepada generasi muda, supaya selalu mengingat bahwa negeri ini diperjuangkan dengan darah, jiwa dan raga,” ungkap Agus saat ditemui Serat.id di kediamanya di Kampung Malangsari II RT 9 RW 7 Kelurahan Tlogosari Kulon, Kota Semarang, Senin, (3/8/2020).

Baca juga : Pameran Lukisan “kertas kokoh”

Lukisan-lukisan Muji Konde

Ajarkan Anak Peduli Lingkungan lewat Lukis Kaleng Bekas

Agus sambil menunjukan beberapa lukisanya mengatakan, mampu menyelesaikan sepuluh lukisan dalam sehari. 

“Biasanya kanvas yang sudah diseket pakai kapur warna, saya jejer. terus saya lukis bergantian biar tidak buang-buang cat dan hemat waktu,’’ jelasnya. 

Kanvas yang diagunakan dari kain bekas.  Kain itu didasari dengan cat tembok putih. Hal itu untuk menutup pori-pori kain supaya mudah dilukis menggunakan cat minyak. 

Pria yang mempunyai tujuh putra itu, mematok harga lukisanya Rp150 ribu dengan ukuran 50X70 cm.

’’Saya jual lukisan paling mahal satu juta rupiah, tergantung ukuranya,’’ katanya.

Dia mengatakan, pembeli lukisannya ada yang kolektor dan pedagang. ’’Biasanya sekali beli sampai 15 lukisan. Jadi dalam sebulan saya bisa menjual sampai 60 lukisan,” ungkapnya. 

Sebelum muncul wabah corona, Agus belum fokus untuk melukis dikanvas. Namun, dia berjualan barang-barang seni, membuat kerajinan dari botol kaca bekas, dan mural jika ada pesanan.

“Untuk barang seni, biasanya diambil teman-teman dari gallery klitikan Kota Lama Semarang,” katanya.(*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here