BERBAGI

ASI tak hanya sehat dari pandangan medis, namun secara psikis juga penting bagi ibu dan bayi

Merindukan Ruang Laktasi di Ruang Publik | Videografis A. Arif

Serat.id – Dokter Anak Kota Semarang, Rochamanadji menyebutkan pentingnya Air Susu Ibu (ASI) bagi bayi. Hal itu menjadi alasan secara medis mewajibkan agar ibu melahirkan bisa menyusui  bayinya minimal hingga usia 6 bulan pertama.

“Manfaat ASI bagi bayi sangat berdampak bagus bagi kesehatan, bayi akan memiliki kekebalan tubuh hingga tidak rentan terkena penyakit,” kata Rochamanadji, kepada serat.id.

Rochamanadji  menyebutkan kandungan ASI yang kaya nutrisi berupa karbohidrat, protein, lemak dan serat sangat diperlukan oleh tubuh bayi. Fungsi ASI juga sangat bagus yakni mencegah stunting dan meningkatkan kemampuan kognitif  membantu pertumbuhan otak anak lebih cerdas.

“Manfaat ASI itu sangat luar biasa bagi bayi jadi penting untuk diberikan pada usia 6 bulan pertama,” kata Rochamanadji menjelaskan.

Baca juga: Mereka yang Merindukan Fasilitas Khusus

Psikolog Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, Dr Hastaning Sakti M Kes memaparkan, pemberian ASI eksklusif tak hanya mampu mencukupi kebutuhan nutrisi bagi bayi, namun juga memiliki peranan penting bagi perkembangan psikologis anak.

Hastaning menjelaskan pemberian ASI kepada bayi dapat memengaruhi kedekatan emosional antara bayi dengan ibu karena proses menyusui ada interaksi antara ibu dan bayi terjalin sehingga menimbulkan kenyamanan baik bagi ibu maupun bayi.

“Dari sisi psikologis anak, ada kontak antara ibu dan bayi baik melalui kontak mata, ada meraba, meraih rambut ibu, dan lainnya,” kata Hastaning.

Ia menjelaskan proses  menyusui antara ibu dan bayi ada bahasa dan proses komunikasi yang terkandung. “Sehingga proses itu dinikmati keduanya, mereka nyaman dengan kondisi itu,” kata Hastning  menjelaskan.

Baca juga: Tak Semua Bayi di Kota Semarang Mendapat ASI Eksklusif

Hal itu menjadi alasan Hastaning  mendukung pentingnya ruang laktasi bagi ibu menyusui karena turut memengaruhi kondisi psikologis ibu.  Ia menilai sikap wajar jika seorang ibu menyusui mengalami kecemasan karena tak mendapati ruang laktasi di tempat umum.

“Ibu bisa stres karena ketika ASI sudah penuh, maka akan bengkak. Itulah yang membuat kecemasan bagi ibu karena secara biologis ASI akan keluar dalam rentang waktu tertentu dengan sering disentuh oleh bayi,” katanya.

Hastaning menilai ruang laktasi sangat memengaruhi ibu menyusui dan anak. Menyedot ASI itu tidak sekadar seperti nyusrup sedotan di restoran-restoran. Menyedot punting susu bagi bayi adalah kepercayaan utama.

“Ada bayi yang menangis bukan karena apa-apa, tetapi saat langsung kena punting susu ibu langsung diam. Kalau botol bisa saja ditolak,” kata Hastaning menjelaskan makna psikis dan komunikasi antara ibu dan bayi saat proses menyusui. (*)

Edisi Khusus “ Merindukan Ruang Khusus Untuk Para Ibu Menyusui”

Penulis : Anindya Putri, Kontributor 4, Pengolahan Bahan : Edi Faisol, Ilustrasi : A. Arif

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here