BERBAGI
Mak Romlah sedang berjualan gorengan di Semarang

Saat sepi pembeli, Mak Romlah hanya mendapat keuntungan Rp 15 ribu untuk makan masih kurang. Kalau ramai bisa mendapat keuntungan hingga Rp 40 ribu.

Serat.id – Di bawah terik matahari di Kota Semarang, seorang wanita paruh baya berjalan kaki keliling perkampungan menjajakan dagangannya.

Setiap hari wanita penjual gorengan itu rela menyusuri jalanan sejauh puluhan kilometer demi menghidupi satu anak dan dua cucunya. Penjual gorengan itu akrab disapa Mak Romlah.

Meski raut wajahnya nampak lelah, namun wanita asal Desa Rambeanak, Kabupaten Magelang ini selalu riang gembira berjualan dari rumah ke rumah di wilayah Semarang Tengah hingga Semarang Selatan. Bahkan gayanya, cukup nyentrik meski sudah menginjak usia 55 tahun.

Tapi, siapa sangka di balik sikap keceriannya itu, Mak Romlah memiliki kisah perjuangan hidup yang demikian getir.

Ceritanya bermula selepas kedua orangtua Mak Romlah meninggal dunia.

Kala itu, dia masih berusia remaja, sekitar 14 tahun. Setelah kedua orangtuanya meninggal, dia harus menanggung beban hidupnya sendirian di kampung halaman.

Wanita yang hanya lulusan sekolah dasar ini terpaksa harus bekerja serabutan untuk mencukupi kebutuhannya sehari-hari.

Baca juga : Balada Riyati Si Penjual Bubur Asal Genting

Malam Takbiran, Malam Berkah bagi Sakuri

Poniyem, Penjual Daun Singkong yang Terlunta-lunta

Ketika menginjak usia 16 tahun, dia bertemu dengan seorang laki-laki yang dicintainya hingga akhirnya menikah.

Beban hidup Mak Romlah sedikit berkurang lantaran kebutuhan hidup ditanggung bersama-sama dengan sang suami meski hanya bekerja sebagai buruh kapal.

Namun, raut wajahnya mendadak berubah saat berusaha melanjutkan ceritanya.

Dengan menahan haru, Mak Romlah mengenang kisahnya ketika sang suami akhirnya pergi meninggalkannya tanpa alasan yang jelas saat dirinya sedang mengandung buah hatinya.

“Saat saya hamil suami saya pergi tanpa alasan. Dia bekerja jadi buruh kapal. Akhirnya, saya terpaksa melahirkan tanpa didampingi suami saya. Waktu itu di kampung dibantu bidan dan tetangga,” jelasnya.

Karena merasa kebutuhan hidup semakin bertambah sejak kelahiran buah hatinya, dia pun harus memutar otak untuk membesarkan  anaknya.

Akhirnya, dia memutuskan mengadu nasib ke Jakarta hingga Kalimantan.

“Kerja di Jakarta jadi pembantu rumah tangga, pernah jaga toko, jaga orang tua sakit. Saya kerja apa saja mau karena orang enggak punya. Pernah kerja di Serang, Banten, Malang, Kalimantan dan sekarang di Semarang,” ujarnya.

Kecelakaan

Selama dia bekerja melanglang buana, suatu hari Mak Romlah mendengar kabar bahwa suaminya mengalami peristiwa tragis saat sedang bekerja di kapal. 

Meski sudah berpisah dengan suaminya karena menikah lagi, hati Mak Romlah merasa sedih tatkala mengetahui laki-laki yang masih berstatus suaminya itu telah meninggal dunia karena tenggelam.

“Setelah berpisah, sebenarnya suami sempat menikah lagi. Waktu bekerja di kapal ada kecelakaan, dia meninggal dunia karena tenggelam,” ceritanya seraya menahan tangis.

Sejak ditinggal suaminya, Mak Romlah mengaku tak ingin menikah lagi.

Meski sempat ada laki-laki yang ingin mempersunting dirinya, namun dia menolak.

Setelah mengenyam manis pahitnya kehidupan, akhirnya pada usianya yang tak lagi muda, Mak Romlah memilih bekerja di Semarang sebagai penjual gorengan.

Sudah hampir 23 tahun, pekerjaan itu dia lakoni demi menanggung hidup satu anaknya dan dua cucunya yang hidup di kampung.

Mak Romlah hanya mengantongi uang rata-rata sekitar Rp 20 ribu untuk membiayai kehidupannya sehari-hari dari menjual gorengan.

Belum lagi, untuk membayar rumah kontrakannya di Kampung Magersari.

“Pas lagi sepi pernah dapat untung cuma Rp 15 ribu untuk makan masih kurang. Kalau lagi ramai bisa dapat Rp 40 ribu, dikumpulin buat makan sehari-hari dan buat hidup anak dan dua cucu saya di Magelang. Juga buat bayar rumah kontrakan di Semarang,” ungkapnya.

Di tengah kondisinya yang serba kekurangan, Mak Romlah sudah terbiasa berjuang hidup sendiri karena tak ingin menyusahkan orang lain.

Apalagi, menyusahkan adik kandungnya yang sudah puluhan tahun tak bertemu dengannya karena sudah berkeluarga di Solo.

“Makan setiap hari paling nasi sama sayur aja, sama teh. Biar cukup. Kalau jajan yang murah karena uangnya engga cukup. Tapi saya tetap jalani aja. Ingin mengumpulkan uangnya buat beli televisi. Sekarang kan sudah tua, apalagi pernah sakit gula tapi sudah sembuh. Tapi semoga keinginan membeli televisi bisa terwujud,” harapnya.

Mak Romlah tetap pantang menyerah berjualan keliling setiap hari meskipun pernah menderita sakit diabetes.

Pekerjaan itu dia jalani lantaran ingin melihat kedua cucunya bisa tumbuh besar dan menjadi orang sukses.

“Meskipun jualan gini (gorengan) yang penting enggak punya utang. Pernah ditawarin jualan warungan tapi saya tidak punya biaya. Wes jualan gini aja sudah cukup, yang penting sehat terus enggak mikir utang. Bisa lihat kedua cucu saya kelak jadi orang sukses, saya juga ikut senang,” ucapnya.

Dia bilang hidupnya kini sudah bahagia walaupun harus bekerja menjadi penjual gorengan.(*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here