BERBAGI
Okti Christiana bersama anaknya, Joseph Arnando, di rumahnya, Jalan Karanggawang Baru II RT 6 RW 6, Kelurahan Tandang, Kecamatan Tembalang, Kota Semarang.

Okti Christiana terus berjuang untuk kesembuhan anaknya, Joseph Arnando (8) yang mengidap kanker tulang. Sementara untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dia harus berutang ke tangga dan mengandalkan bantuan dari saudaranya.

Serat.id – Okti Christiana (45) penjaga kantin di kompleks Sekolah Sedes Sapientiae Semarang limbung. Betapa tidak? Sejak Indonesia dilanda pandemi Covid-19, sekolah tersebut tutup dan proses pembelajaran dilakukan secara daring.

Dampaknya, ibu itu tak memiliki penghasilan sama sekali karena tidak bisa bekerja di kantin sekolah. Padahal orang tua tunggal itu harus berjuang untuk kesembuhan anaknya, Joseph Arnando (8) yang mengidap kanker tulang. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dia harus berutang ke tangga dan mengandalkan bantuan dari saudara serta tetangganya.

Dia mengetahui jika anaknya mengidap kanker tulang, saat anaknya terjatuh dan kakinya membengkak. “Saya pikir itu bengkak biasa karena jatuh saat bermain, maka saya bawa ketukang pijit tradisional,” kata Okti kepada Serat.id melalui sambungan telepon, Rabu (12/8/2020).

Setelah dipijit, bengkak di kaki Nando panggilan akrab anak Joseph Arnando, tambah membesar dan lukanya kian parah. Lalu Nando dilarikan ke rumah sakit oleh Okti pada pertengahan 2019.

“Setelah dua bulan bengkaknya makin membesar, saya periksakan ke RS Bhayangkara Semarang,” jelas Okti. 

Baca juga : Polusi Udara Picu Penyakit Kanker

Program Digital Ini membantu Pasien Kanker Payudara

Cerita Dari Markas Pejuang Melawan Kanker

Sesampainya di rumah sakit, dokter menyatakan bahwa kaki Nando hanya memar biasa dan diberi obat peredam memar. 

Karena meski sudah meminum obat itu tidak sembuh, namun luka anaknya semakin parah, Okti kembali membawa Nando ke RS Bhayangkara untuk melakukan rontgen.

Setelah itu, dokter mengetahui bahwa Nando terkena tumor dan dirujuk ke RSUD KRMT Wongsonegoro Kota Semarang.

“Kami dirujuk ke RSUD KRMT Wongsonegoro Kota Semarang. Barulah diketahui jika anak saya ternyata terkena kanker tulang,” jelas Okti. 

Dari RSUD KRMT Wongsonegoro, Nando kembali dirujuk ke RSUP dr Kariadi Semarang untuk dilakukan tindakan operasi pengambilan jaringan di kakinya. Setelah itu, Nando harus menjalani kemoterapi.

Setelah kemoterapi tahap kedua, dokter mengetahui kanker tersebut telah menyerang paru-paru. Lalu, dokter menyarankan agar kaki kiri Nando diamputasi supaya kanker tersebut tidak menyebar. 

“Mendengar hal itu, saya dan Nando kaget. Lalu menangis bersama,” ungkap Okti. 

Tidak mudah menerima kenyataan perih dan mengharuskanya segera memberi keputusan. “Orang tua mana yang mau melihat anaknya kehilangan kakinya,” kata Okti. 

Setelah hampir satu tahun, akhirnya Nando merelakan untuk kakinya diamputasi.

“Kaki kiri Nando diamputasi bulan lalu, tepatnya 14 Juli 2020 pukul 10.00,” ungkap Okti. 

Meskipun semua biaya ditanggung BPJS Kesehatan, namun Okti yang tinggal di Jalan Karanggawang Baru II RT 6 RW 6, Kelurahan Tandang, Kecamatan Tembalang, Kota Semarang ini, tetap harus mengeluarkan biaya transportasi untuk kontrol dan kebutuhan sehari-hari. 

Sebelum pandemi Covid-19, sebagai penjaga kantin dengan upah Rp 60.000 per hari, Okti harus pintar mengelolanya untuk memenuhi kebutuhan ketiga anaknya.

Dan, kehidupan semakin berat setelah pandemi ini karena dia tidak bekerja lagi,

“Apa pun akan saya lakukan untuk anak saya. Dan, semua saya serahkan kepada Tuhan untuk menjaga anak-anak saya, terlebih Nando jika saya nanti meninggal,’’ ucap Okti dengan nada sedih.(*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here