BERBAGI
Panggung rakyat
Perayaan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke 75 bertema “Merdeka 100 Persen Dari Pandemi Dan Tirani” digelar Gerakan Rakyat Menggugat (GERAM), Aninda Putri/ Serat.id

 Aksi panggung juga diisi oleh para musisi yang menyuarakan nasib masyarakat kecil yang tertindas oleh kesewenang-wenangan penguasa.

Serat.id – Remang lampu kuning di bawah pohon beringin mengiringi acara Perayaan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke 75 dengan tema “Merdeka 100 Persen Dari Pandemi Dan Tirani” yang digelar oleh Gerakan Rakyat Menggugat (GERAM). Gerakan yang digagas oleh aliansi antara mahasiswa dan buruh serta seniman di Kota Semarang itu sengaja menggelar panggung rakyat untuk merayakan hari kemerdekaan sebagai rangakain dari aksi penolakan Omnibus Law.

Perayaan lewat panggung sederhana dibuka dengan pembacaan puisi berjudulkan ” Istriku Seorang Demonstran,” yang dibacakan oleh sastrawan Aditya. Tak hanya pembacaan puisi, aksi panggung juga diisi oleh para musisi yang menyuarakan nasib masyarakat kecil yang tertindas oleh kesewenang-wenangan penguasa. Termasuk menyidir Omnibus Law yang hanya berpihak kepada para penguasa dan investor dan penanganan Covid-19 yang tidak transparan.

Baca juga : Mereka Yang Menggelar Peringatan Kemerdekaan di Atas Reruntuhan

Masyarakat Peduli Pegunungan Kendeng Peringati Kemerdekaan Dengan Keprihatinan

Warga Kampung Ringin Telu Gelar Upacara di Sungai Bekas Presiden Soeharto Sembunyi

Selain itu seorang Perupa asal Kota Semarang, Hartono ikut meramaikan dengan karyanya bertema kekayaan alam Nusantara yang ditampilkan di tengah panggung rakyat. Lukisan itu menggambarkan kritik kepada pemerintah lewat karyanya yang menggambarkan Burung garuda, Sawah dan para petani.

Dalam goresan karyanya Hartono bercerita Nusantara sebagai negara agraris dengan bentang alam yang kaya hasil bumi seperti padi. Namun ia merasa miris dengan mulai hilangnya lahan sawah.

“Lihat saja sawah sekarang mulai hilang, lewat gambar ini saya ingin menuangkan apa yang dipikiran sekaligus menjadi kritik,” kata Hartono.

Ia mengaku senang bisa terlibat dalam acara yang digelar oleh kelompok masyarakat yang menyuarakan kegelisahan ditengah pandemi dan ketidakpastian regulasi pemerintah. ” Kegiatan ini sangat positif sekali kita para seniman dapat ikut bersuara melalui karya seni,” kata Hartono menjelaskan.

Panggung rakyat juga menampilkan seorang mahasiswa bernama Aziz yang menyanyikan lagu bertema suara dan hak rakyat. Dalam lagunya Azis mengkritik pemerintah lantaran masifnya pembangunan industri yang berimbas merusak lingkungan.

“Lihat sekarang pohon menghilang, pabrik-pabrik bermunculan lingkungan menjadi rusak,” teriak Aziz yang berharap agar pemangku kekuasaan lebih memperhatikan rakyat kecil seperti buruh tani dan nelayan yang semakin kehilangan mata pencaharian mereka.

” Selain buruh pabrik yang harus menanggung beban, nelayan dan tani juga terpaksa kehilangan ruang hidup mereka,” kata Aziz menegaskan. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here