BERBAGI
Hunian Sementara untuk warga Tambakrejo yang sebelumnya digusur, foto Tamam/serat.id
Hunian Sementara untuk warga Tambakrejo yang sebelumnya digusur, foto Tamam/serat.id

Mereka tinggal di hunian sementara (Huntara) dengan kondisi yang serba sulit.

Serat.id – Warga korban penggusuran normalisasi Banjir Kanal Timur asal kampung Tambakrejo, Tanjung Mas, Semarang Utara, Kota Semarang, merindukan hunian permanen yang dijanjikan pemerintah. Sudah satu tahun ini mereka tinggal di hunian sementara (Huntara) dengan kondisi yang serba sulit.

“Awalnya kami mendapat Huntara ini tanpa fasilitas, hanya dinding kanan kiri dan atap saja tanpa sekat. Kandang kambing saja ada sekat,” kata Fadilah, tokoh masyarakat kepada Serat.id. Belum lama ini.

Berita terkait : Warga Tambakrejo Pindah ke Hunian Sementara

Cerita Jum saat Penggusuran Rumah Warga Tambakrejo

Komnas HAM Sebut Penggusuran Tambakrejo Melanggar Kesepakatan

Fadilah mengatakan fasilitas di hunian sementara minim, kamar mandi saja hanya ada dua, itu pun dari limbah baliho yang mudah robek. “Sedangkan Huntara tidak dilengkapi sekat yang memisahkan antara penghuni,” kata Fadilah menambahkan.

Menurut Fadilah ada tiga bangunan Huntara yang dihuni 60 keluarga setelah penggusuran paksa oleh Satuan Polisi Pamong Praja pemerintah kota Semarang pada 9 Mei 2019 lalu.

Warga lain, Juminten mengaku saat ini hanya bisa bertahan karena tidak tahu harus ke mana. “Mau gak mau saya bertahan karena tidak tau lagi mau kemana,” kata Juminten.

Ia mengaku sebelum menempati hunian sementara, selama sepekan tidur di mana saja, bahkan sempat kehujanan dan diterjang air laut pasang yang menghanyutkan barang miliknya.

“Kami basah kuyup tak ada tempat berlindung. Anak-anak tidur di bawah jembatan, gelap tak ada listrik dan air bersih,” kata Juminten menambahkan

Fadilah dan Juminten berharap perumahan permanen penganti tinggal sementra diserahkan agar hidup mereka lebih tenang. “Kami berharap rumah itu dihibahkan, jadi kami tidak perlu membayar,” katanya .

Side Manager CV Adiyatma Semarang, Rudi Cahyo Nugroho yang menangani proyek pembangunan perumahan korban pengusuaran mengatakan masih proses mengerjakan. Menurut Rudi pengerjaan pembangunan sebenranya sudah bisa berjalan lebih cepat jika tidak ada konflik dari warga.

“Warga kampung pernah melempari alat berat kami dengan tanah serta mengahalangi , jadi prosesnya terpaksa dihentikan sementara,” kata Rudi.

Proyek pengerjaan perumahan tersebut, kata Rudi berkonsep minimalis denga ruang tamu, satu kamar tidur, dapur dan kamar mandi. “Kontruksinya menggunakan baja ringa tahan gempa,” katanya. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here