BERBAGI

‘’Kami meluruskan tidak ada badan pesawat atau sayap yang menyangkut di Gardu Tol Banyumanik.’’

Serat.id – Proses pemindahan pesawat N250 Gatot Kaca dari Bandung menuju Yogyakarta mengalami insiden di Jalan Tol Semarang-Solo, tepatnya di Ruas Banyumanik-Colomadu pada Kamis (20/8/2020) malam.

Pesawat karya Presiden ketiga Republik Indonesia, BJ Habibie, yang akan dijadikan koleksi Museum Pusat Dirgantara Mandala Yogyakarta.

Sopir truk trailer yang mengangkut pesawat itu mengalami sedikit kendala lantaran ukuran badan pesawat yang diangkut tidak cukup jika melewati salah satu pintu gerbang tol tersebut.

Kejadian tersebut membuat warga heboh. Setelah diunggah oleh pengendara yang melihat kejadian tersebut, lewat media sosial berdurasi 26 detik. 

Dalam tayangkan itu seolah-olah komponen pesawat nyangkut di gerbang tol.  Jr  Spesialist Corporate Communications & Secretary PT Trans Marga Jawa Tengah (TMJ), Shintya Putranti Ika W meluruskan pemberitaan yang viral tersebut.

“Kami meluruskan tidak ada badan pesawat atau sayap yang menyangkut di Gardu Tol Banyumanik,” kata Shintya dalam keterangannya yang diterima Serat.id, Jumat (21/8/2020).

Baca juga : Mesin Helikopter MI-17 Milik TNI AD Kondisi Baik Sebelum Jatuh

Lion Air Tuding Pilot dan Karyawannya Palsukan Dokumen

Tol Semarang-Demak, Solusi atau Bencana?

Dia menambahkan, pesawat tersebut tiba di Gerbang Tol Banyumanik, Jalan Tol Semarang-Solo sekitar pukul 19.00. 

“Saat itu, petugas PT TMJ dan PJR Jateng 1B telah mengarahkan truk trailer pengakut melintas di Gardu 16, Jalur A yang memiliki lebar 4,1 meter,” ujarnya. 

Sementara lebar badan pesawat kurang lebih 4 meter setelah lepas sayap. “Untuk mengantisipasi risiko lain-lain, sebelum truk trailer pengangkut badan pesawat melintas gardu tersebut dilakukan ukur ulang dan ternyata ada space yang nantinya bisa menganggu saat harus melintas di Gardu 16, Jalur A,” terangnya. 

Untuk itu, pihaknya memberikan solusi dengan pindah ke Gardu 24, Jalur B atau exit tol Banyumanik dengan pertimbangan space lebih lebar.

Solusi ini dianggap lebih aman meskipun harus melawan arus saat melintas Gardu 24 Jalur B yang hanya dilakukan saat melalui gardu tol.

“Proses pindah jalur itu dilakukan dengan mundur karena panjangnya trailer pengangkut badan pesawat,” katanya.

Setelah berhasil melintas Gardu 24 Jalur B, para petugas mengarahkan kembali melintas di Jalur A dengan membuka beberapa water barrier yang selama ini terpasang di sana. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here