BERBAGI
Danny menunjukkan tumpukan kaset pita di Rumah Makan Padang Jaya, Agus Salim Kota Semarang. (Serat.id/ Anindya Putri)

Hingga kini kaset pita masih tetap diminati, terutama oleh para kolektor. Selain untuk menambah koleksi, mendengarkan musik dari kaset pita juga bisa membuat penggemarnya terbawa pada suasana masa lalu.


Serat.id – Kaset pita yang populer pada tahun 80-an, perlahan hilang tergerus oleh teknologi musik digital. Tak heran jika kini sulit menemukan penjual kaset pita di pasar atau mal.

Namun pemandangan berbeda tampak di sebuah Rumah Makan Padang Jaya yang berada di Ruko Bubakan A16, Jalan Agus Salim, Kota Semarang.
Deretan tumpukan kaset pita dengan beragam warna sampul menghiasi setiap sudut dan dinding rumah makan tersebut.

Pemilik rumah makan padang sekaligus penjual kaset, Denny  mengungkapkan, usaha berjualan kaset pita telah dilakoni terlebih dahulu oleh ayahnya, Amir (75), sejak tahun 1977. ’’Sekarang saya yang nerusin jual,” ungkap Danny kepada Serat.id, Sabtu (22/08/20).

Baca juga : Redupnya Sentra Batu Akik Kota Atlas

Dari Hobi Menjadi Rezeki

Bertani Tanpa Lahan


Ia menceritakan, sebelum menetap di Kota Semarang,  ayahnya berkeliling Indonesia menjual kaset pita. Koleksi kaset pita yang dijual juga berbagai genre, dari musik daerah, pop, rock, keroncongan hingga berisi tausiah, ketoprak dan drama.

“Ada banyak koleksi kaset yang dijual oleh bapak. Bapak jual sebelumnya pindah-pindah kota dan akhirnya tinggal di sini (Semarang),” terang Danny.

Danny menjelaskan, dirinya dan ayahnya tak sengaja membuat konsep rumah makan Padang menjadi galeri kaset pita. Tumpukan kaset itu ditaruh di rumah makan lantaran tak tersedianya tempat tersendiri untuk menyimpan. “Karena kekurangan ruang makanya kami jadikan satu,” katanya.

Menurut dia, masih banyak orang yang berminat dengan rilisan fisik, seperti kaset pita. Pembeli yang mampir ke rumah makannya berbagai kalangan, tidak hanya orang tua, anak muda juga masih banyak yang menggandrungi kaset pita.

Harga yang dibandrol Danny dalam menjual kaset pita juga masih terjangkau, yakni hanya Rp 18 ribu hingga Rp 20 ribu per kaset.

“Saat itu  ada turis dari China mampir makan ke sini. Terus lihat ada kaset pita, dia cari kaset lama yang diinginkan dan menemukan di sini,” tuturnya.

Ia tak pernah mengejar target penjualan kaset pita. Sebab, dia hanya menghabiskan stok yang ada. “Saya tidak memikirkan pendapatan dari penjualan kaset pita itu. Pembeli yang ke sini juga gak banyak. Rata-rata mereka cerita emang suka sama hasil suara dari kaset pita,” Jelasnya.

Koleksi kaset pita milik Pupung, Penggemar rilisan fisik dari Kota Semarang. (Serat.id/ Anindya Putri)

Ya, hingga kini kaset pita masih tetap diminati, terutama para kolektor. Selain untuk menambah koleksi, dengan mendengarkan musik dari kaset pita juga bisa membuat penggemarnya terbawa pada suasana masa lalu.

Penggemar rilisan fisik dari Kota Semarang, Pupung (26) menceritakan, kegemarannya mengkoleksi kaset pita pada era digital kini. Sebagai penikmat musik, menurutnya, umur pakai kaset pita lebih lama dibanding dengan compact disc CD.

“Ya karena seneng musik, milih kaset soalnya lebih awet ketimbang CD. Selain karena emang dari dulu seneng beli kaset. 4-5 tahun ini lagi demam kaset, jadi lebih terpicu untuk beli,” ungkapnya.

Selain itu perawatan kaset pita juga memiliki cara tersendiri bagi para penikmat musik. Yakni dengan membersihkan pita kaset yang sebelumnya harus ditarik perlahan dan dilap dengan menggunakan kapas.

“Cara membersihkan kaset pita agar tidak jamuran itu jadi sensasi tersendiri,” katanya.

Namun, ia tak menampik juga tetap mendengar musik digital saban harinya, Saat ini koleksi rilisan fisik miliknya untuk kaset pita sekitar 300-an kaset dan 150 CD.

“Tetep denger musik kaya dari Youtube / Spotifykok tapi kalau ada rilisan fisik, pas ada duit ya aku beli juga” jelasnya. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here