BERBAGI
Suasana di sentra penjualan batu akik Kota Semarang di Pasar Dargo. (Serat.id/ Anindya Putri)

Sejak tiga tahun terakhir, sentra penjualan batu akik Pasar Dargo mulai meredup. Kios-kios yang saban hari dukunjungi pembeli itu kian sepi.

Serat.id – Puluhan kios bercat warna merah muda yang warnanya mulai pudar berjajar rapi di dalam Pasar Dargo, Kota Semarang. Dari puluhan kios tersebut hanya beberapa kios penjual batu akik yang buka, itu pun tidak ada pembeli.

Lima tahun lalu fenomena demam batu akik sempat membuat Pasar Dargo tak pernah sepi pengunjung. Saban hari, ratusan orang berburu batu akik untuk dijadikan aksesori.

Salah seorang penjual batu akik, Harryanto menceritakan, pada masa kejayaannya, sentra batu akik di Kota Atlas itu selalu menjadi tujuan utama para pecinta batu mulia. 

Pasar Dargo juga menjadi tempat mengais rupiah yang ’’gurih’’ bagi para penjaja batu mineral. Di sana ada lebih dari 30 penjual batu akik, ada yang memiliki kios hingga bermodal tikar. Mereka sekitar lima tahun lalu, saban hari membuka lapak.

“Dulu itu ada puluhan pedagang batu akik di sini. Penjual yang biasanya berjualan di pinggir jalan ikut berdagang di sini juga. Jadi gak cuma yang punya kios saja yang bisa jualan akik di sini,” ungkap Harry saat ditemui Serat.id, beberapa waktu lalu.

Baca juga : Ini Penerapan Jaga Jarak di Pasar Bintoro Demak

Temuan Positif Covid-19 Melonjak, Jateng Intruksikan Tutup Pasar dan Mall

Mbah Khotimah Mendapat Bantuan Dari Presiden Jokowi

Dia menceritakan, dulu dirinya dan penjual akik lainnya sehari bisa mengantongi keuntungan sekitar Rp 300 ribu rupiah karena ramai pembeli. Pembeli yang menyambangi Pasar Dargo dari berbagai kalangan dan berbagai daerah di Jawa Tengah. Beragam batu mulia yang dijajakan. Adapun yang diminati pembeli di antaranya jenis ruby, blue safir, kecubung, dan bacan dengan kisaran harga dari Rp 50 ribu hingga Rp 500 ribu.

Namun sejak tiga tahun terakhir, sentra penjualan batu akik di Pasar Dargo itu mulai meredup. Kios-kios yang saban hari dukunjungi pembeli itu kian sepi.

Beberapa pedagang yang tak memiliki kios kini kembali berjualan di pinggir jalan. Sepinya Pasar Dargo juga berimbas pada pendapatan para penjaja batu akik.

“Sekarang yang datang ke sini bisa dihitung dengan jari. Itu pun mereka cuma lihat-lihat, bisa dapat 50 ribu per hari sudah bersyukur,” ungkapnya.

Untuk menyiasatinya, dia kini juga berjualan secara online. Harry mengatakan, tak semua pedagang akik paham dengan jual-beli online  karena tidak banyak yang pemahaman dunia digital.

“Kalau penjual paham memanfaatkan gadget, jualan online juga. Nah yang kasihan penjual yang sudah sepuh itu, mereka masih tetap bertahan jualan tapi ya kondisinya gitu,” jelasnya.

Dia berharap adanya perhatian dari pemerintah agar membantu para pedagang batu akik di Pasar Dargo untuk mengembalikan gairah kembali penjual batu akik.

“Setidaknya ada bantuan berupa pelatihan atau pameran akik dari pemerintah agar kami tetap hidup,” harapnya.(*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here