BERBAGI
Ilustrasi, pixabay.com

Stigmatisasi juga dialami oleh keluarga responden. Sebanyak 42 persen menjadi buah bibir atau digosipkan dan hampir sepertiga

Serat.id – Hasil survei Koalisi Warga Lapor Covid-19 bekerja sama dengan Kelompok Peminatan Intervensi Sosial Fakultas Psikologi Universitas Indonesia mengungkapkan sebagian besar penyintas Covid-19 beserta keluarganya mendapat stigma dari masyarakat.

“Mayoritas 55 persen responden itu mengalami pengalaman bahwa mereka menjadi buah bibir atau digosipkan,” ujar kolaborator Koalisi Warga Lapor Covid-19, Dicky Pelupessy, dalam diskusi daring yang digelar Koalisi Warga Lapor Covid-19 bertajuk “Pemaparan Hasil Survey Stigma Covid 19 dan Soft Launch Komunitas Penyintas Covid 19,” Kamis, 27 Agustus 2020.

Baca juga : Pasien Covid-19 di Jateng Terus Meningkat, Ini Imbauan Gubernur Ganjar

Anggota Dewan Jateng Meninggal Karena Covid-19. Gedung DPRD ditutup

Tangani Covid-19, Dalam Sepekan Empat Dokter di Semarang Raya Gugur

Menurut Dicky sebanyak 33 persen responden lain mengalami pengucilan oleh warga, sedangkan 25 persen responden mendapat julukan sebagai penyebar atau pembawa virus, serta 10 persen mengalami perundungan di media sosial.

“Stigmatisasi juga dialami oleh keluarga responden. Sebanyak 42 persen menjadi buah bibir atau digosipkan dan hampir sepertiga (27 persen) anggota keluarga mengalami situasi dijauhi atau dikucilkan,” ujar Dicky menambahkan.

Tak hanya itu, hasil survey yang ia lakukan juga menunjukkan sebanyak 15 persen keluarga responden pernah mendapat julukan penyebar atau pembawa virus. Sebanyak 7 persen di antaranya pernah mengalami penolakan untuk mendapatkan dan menggunakan layanan fasilitas umum. Dicky memaparkan sebanyak 56,4 persen responden berprofesi sebagai tenaga kesehatan (dokter, perawat,) sementara sisa responden sebanyak 32 persen bekerja pada sektor lain.

“Dalam survei ini juga ditemukan, sebagian besar yang paling mendapat stigma adalah perempuan. Penyebab perlakukan ini, sebanyak 43 persen responden merasa karena masyarakat kurang mendapat informasi atau mendapat informasi yang keliru. Sebagian lain 42 persen beranggapan karena masyarakat takut,” kata Dicky menjelaskan.

Stigma itu berdampak buruk terhadap penyintas Covid-19, hal itu dibuktikan sebanyak 51 persen responden merasa khawatir, sebagian lagi merasa sedih, takut, kecewa, hingga mati rasa.

Dicky berharap publik menghentikan stigma negatif bag pasien, sedangkan pemerintah dapat menjalankan komunikasi kepada publik yang berisi fakta, informasi akurat dan tidak membingungkan mengenai Covid-19 dan penularannya.

“Perlu mengoreksi dan meluruskan rumor, gosip, atau hoax terkait Covid-19 yang ada di masyarakat sesegera mungkin,” katanya. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here