BERBAGI

Tatkala Majapahit diambang kehancuran, jaringan perdagangan maritimnya semakin berkembang hingga muncul sebagai pusat kekuatan politik dan ekonomi baru.

Serat.id – Sejarawan Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, Singgih Tri Sulistiyono menyebut Jawa bukan sebagai penghasil rempah, namun berperan sebagai perniagaan rempah. Ia mengecualikan satu-satunya wilayah di Jawa, yakni Banten yang disebut menghasilkan salah satu produk rempah yakni lada.

“Jawa memiliki kedudukan yang penting dalam pelayaran dan kegiatan maritim di Nusantara dan  bahkan di dunia internasional,” ujarnya dalam diskusi daring yang digelar Direktorat Jenderal Kebudayaan bertajuk “Budaya Rempah di Pusaran Jawa”, Jumat, 29 Agustus 2020.

Baca juga : Peter Carey : Tak Ada Bukti Sejarah Hubungan Turki Usmani dan…

Hendak direnovasi, Gedung Bersejarah Era Kolonial Ini Akhirnya Runtuh

Singgih yang juga penulis buku The Java Sea Network: Patterns in the Development of Interregional Shipping and Trade in the Process of National Economic Integration in Indonesia, 1870s-1970s itu menyebut peran perdagangan Jawa mulai berkembang pada masa Kerajaan Hindu-Budha di Nusantara saat pusat politik Jawa beralih ke Jawa Timur yang saat itu dimulai pada masa Kerajaan Kahuripan, berlanjut ke masa Kerajaan Singasari hingga ke Kerajaan Majapahit. 

Memasuki abad 15 M, tatkala Majapahit diambang kehancuran, kata Singgih, sebaliknya jaringan perdagangan maritimnya semakin berkembang, hingga muncul sebagai pusat kekuatan politik dan ekonomi baru.

“(Sebaliknya pada masa Kerajaan Islam) meskipun Islam memiliki semangat solidaritas yang tinggi, tapi solidaritas itu  tidak mampu mencegah  terjadinya prediksi dan konflik internal, yang bersumber dari kepentingan ekonomi dan  fanatisme etnik dan motif politik tertentu,” ujarnya.

Singgih menyebut Jawa setelah Kerajaan Islam Demak runtuh, justru menimbulkan fragmentasi pusat-pusat politik dengan kemunculan berbagai kota pelabuhan yang berdiri sendiri dan saling bersaing, meski pun hubungan ekonomi berjalan cukup baik.

Dicatat Penjelajah Portugis

Menurut Singgih, saat itu Tome Pires, penjelajah asal Portugis yang tiba di Pantai Utara Jawa pada abad ke-16 M, mencatat bahwa penduduk saat itu masih mengingat kejayaan 100 tahun yang lalu tentang cerita Kerajaan Majapahit yang memiliki kekuasaan dari Wilayah Timur (Maluku) ke Wilayah Barat (Malaka).

“Penjelajah asal portugis lainnya, Duarte Barbosa menggambarkan mengenai makmurnya kota-kota pelabuhan di Pantai Utara Jawa yang kekayaannya dari berdagang itu sangat luar biasa besarnya yang belum pernah dijumpainya. Disamping itu, di Pantai Utara Jawa ini juga ada (penduduk) keturunan orang Cina, Persia Gujarat, Benggala,” ujarnya.

Singgih menyebut gambaran dari Barbarosa menunjukkan perdagangan rempah menyebabkan beberapa kota kota di Pantai Utara Jawa tersebut sangat kosmopolitan, multi etnik dan multi ras.

Ia menambahkan, sejarawan Asia Tenggara D.G.E. Hall turut menjelaskan peran para pedagang Jawa yang berhasil menguasai perdagangan di Malaka.  Selain itu, penduduk Jawa juga ada yang bekerja sebagai tentara di Malaka serta ada juga yang memiliki keahlian dalam memperbaiki kapal.

“Meski Jawa bukan penghasil rempah, tapi kota-kota di pantai utara Jawa itu menjadi gudang atau transit perdagangan rempah terutama pala, lada, cengkih dan lainnua.  Jadi karena waktu itu perdangan tidak bisa langsung dari Maluku ke Malaka tapi harus lewat berbagai pelabuhan terutama yang ada di  Jawa,’’ ujarnya.

Lantas ketika memasuki pada abad ke 17 M, kata Singgih, saat itu berbarengan dengan pendirian VOC, Jawa masih dalam usaha Kerajaan Mataram Islam dalam upaya reintegrasi politik. Jalan yang ditemuh Kerajaan Mataram Islam saat itu dengan kekerasan melalui berbagai ekspedisi. Wilayah yang berhasil ditaklukannya seperti Tuban, Gresik, Madura termasuk Pati. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here